Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pantai Senja

Awalnya aku ragu kalau siluet yang tertangkap mataku itu benar-benar bocah yang sedari tadi aku cari. Ragu karena jaraknya yang lumayan jauh dari tempatku berdiri. Sepertinya minus di mataku sedikit bertambah. Sambil memicingkan mata aku dekati sosok itu perlahan. Berjalan mengendap, berjalan santai dengan ritme yang konstan, semakin lama semakin cepat dan kini aku sedang berlari.

Iya itu bocah yang sejak tadi siang menghilang dari kamar hotel. Kalau sudah siluet begini, itu artinya matahari mulai meredupkan daya bersinarnya. Kondisi sunset dengan semburat jingga di langit biru yang mulai menggelap. Mungkin bocah itu berdiri tepat di depan si matahari terbenam, jadi yang aku lihat tak jauh dari bayangan hitam berbentuk manusia mungil berambut panjang. Sebagian helai rambutnya melambai karena angin pantai. Setingkat lebih kencang dari sepoi-sepoi.

Semakin jelas karena kini semakin dekat. Medan yang ku pijak bukan lagi rerumputan dengan daun yang lembab tetapi pasir basah dan beberapa kali hempasan air laut menghantam kakiku. Langkahku juga sudah melambat setelah pasir kering dan pasir basah menempel di sebagian kakiku yang hanya menggunakan sandal jepit. Tak nyaman sama sekali.

Menangis? Sayup-sayup ku dengar isakan tangis dari suara ombak dan angin yang beradu satu sama lain. Kedua bahu mungil yang ada dihadapanku kini juga bergerak naik-turun. Menyadari kehadiranku, bocah 10 tahun ini memutar tubuhnya, menatapku sesaat dan melayangkan pelukan ke arahku. Hanya bisa melingkarkan kedua tangannya di pinggangku dan menyandarkan kepalanya di perutku. Masih menangis. Ya tebakanku benar.

Aku longgarkan perlahan pelukan gadis kecil ini. Aku merendahkan tubuhku, berlutut. Tak peduli kini sebagian tungkai kakiku harus basah karena air laut di bibir pantai ini tak bosan menyapu. Kedua ibu jariku menghapus air matanya. Ya ampun matanya sudah terlalu bengkak, pasti dia sudah menangis cukup lama.

“Kakak, aku kangen bunda.” Kemudian tangisannya kembali buyar dan mengambur dalam pelukanku lagi. Sambil membelai rambutnya yang sudah kusut disana-sini. Aku pun amat sangat merindukan bunda.

“Bunda sekarang berada di tempat yang amat tenang dan bahagia di sisi Tuhan, jadi ade gak usah khawatir ya. Bunda pasti baik-baik aja dan pasti merindukan ade dan kakak.” Cukup lama aku merangkai kalimat ini di dalam otakkan. Akhirnya terlontar juga sembari aku nggendong tubuh mungil ini. Membawanya pulang, kembali ke kamar hotel karena hari akan semakin gelap dan dingin.

Category: Serpihan Kaca
Tag:
  • ayu emiliandini says:

    fuadhasan :

    asiik akhirnya akhirannya ditambahin juga, nah klo gini kan lebih ngena ay

    ditambahin apaan gak ngertiii….

    September 11, 2012 at 7:44 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 2 times 3?