Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Fiseoterapi #4

Bandung tiba-tiba mendung, hujan dan sejuk. Beberapa hari belakangan ini biasanya terik dan kadar kelembaban udaranya menurun drastis, buktinya aku keringatan berkali-kali. Begitu juga dengan terapi ke empat ini. Ada kejutan kecil.

Aku agak telat waktu datang ke rumah sakit. Aku kuliah sampai jam 3 terus pake acara hujan jadi aku berteduh dulu. Jadwal terapi aku jam 4 sore. Yah semoga masih ada toleransi telat lah heehhee…

Begitu turun dari angkot aku lari-lari heboh sampai ke deopan lift. FYI yah guys, ruang fosioterapinya itu di lantai 6. Untung ada lift. Di dalam lift banyak orang pastinya. Awalnya gak ngeh kenapa ni orang-orang pada ngeliatin aku. Taunya baru sadar kalo aku masih pake topi. Buru-buru aku copot aja topinya hehehe kalo cuma gerimis males banget gan kalo pake payung.

Sampai di lantai 6, lapor ke administrasi dan nunggu giliran dipanggil. Aku duduk aja di kursi manapun yang kosong. Nah disinilah aku menemukan pemandangan menakjubkan. Ini dia.

fisioterapi

There you are. Posisi tempat aku duduk, berhadapan langsung dengan adegan ini. Seketika aku iri sama semua pegawai di rumah sakit ini. Ya, mereka selalu punya senyum yang menenangkan pasien. Mereka selalu sabar menangani pasien. Tak hanya sebuah pekerjaan tapi mereka benar-benar mengasihi setiap pasien yang mereka handle. Aku? Bisa dibilang aku bukan tipikal manusia murah senyum. Yeah, aku harus punya alasan kuat untuk tersenyum. Kalo sekiranya gak perlu aku lebih baik pasang muka datar tanpa ekspresi. Tapi mereka bisa selalu tersenyum dengan tulusnya. Iri. Pengen punya senyum seperti itu juga. Tapi kayaknya watak aku terlalu batu.

Seorang kakek-kakek yang sedang terapi berjalan, dituntun sama salah satu staff fosoiterapi. Jalan tertatih-tatih banget. Tapi si kakek nampak semangat. Langkahnya lebar-lebar dan cepat. Berkali-kali akang berseragam staff rumah sakit ini bilang,”pelan-pelan aja pak.” Tapi sepertinya gak diheranin sama si kakek. Staff terapi justru tertawa terkekeh. Beberapa kali staff ini membenarkan posisi punggung kakek yang selalu condong ke depan, mirip membungkuk. Pelan-pelan dia pegang lengan dan punggung si kakek biar badan kakek tetap tegap. Aku? Cuma bisa duduk dan diam-diam ambil gambar ini dari handphone. Aku sempat motret beberapa kali karena mereka cukup jauh dari jangkauan kamera handphone. Tepat di jepretan ketiga, si kakek dan staff terapi kayaknya sadar sama suara “klik” dari handphone. Buru-buru aku masukan handphone ke dalam tas.

Makin lama si kakek dan staff ini berjalan semakin mendekat ke arah tempat aku duduk. Aku memang gak mengalihkan pandanganku dari adegan ini, walaupun ada tv LCD yang lagi sibuk menyiarkan berita hasil pilkada putaran kedua via quick count. Semakin dekat, antara aku dan kakek ini hanya berjarak sekitar satu meter. Kakek yang punya warna pupil mata keabu-abuan itu malah ngeliatin aku. Paten banget. Aku coba ngelirik objek lain tapi setelah mata aku kembali ke arah si kakek, ternyata dia masih menatap aku. Sambil senyum polos seperti senyum balita, kakek itu seperti pengen ngajak aku ngobrol. Beliau bilang,”harus pelan-pelan yah biar tetap seimbang… Hehehee…” Kemudian tawa terkekeh dipenghabisan kalimatnya. Tawa yang berbarengan dengan kekehan di staff. Mereka tertawa bersama. Aku? Aku sebenarnya gak paham banget kenapa beliau menatap aku dan seolah-olah ingin bicara dengan aku. Tapi aku justru ikut tertawa ringan melihat kelakuan mereka berdua.

Suara siaran tv akhirnya mengusik konsentrasi si staff terapi. “Wah sudah ada pak Jokowi, baiklah pak, kita nonton Jokowi dulu yah hehehee..” Bersama seorang nenek (istri si kakek), staff ini mendudukkan kakek ke kursi roda. Lagi-lagi aku terenyuh dengan apa yang aku lihat. Nenek ini telaten memakaikan sandal kakek dan kacamata kakek. Cuma bisa berdoa dalam hati. Kelak aku ingin bisa setia seperti nenek ini sampai tua. Amin.

Gak lama setelah si kakek dan nenek menghilang di balik pintu lift, namaku dipanggil. Surprise!!!! Ternyata staff terapi yang menangani aku adalah staff yang sama dengan si kakek tadi. Kata pihak administrasi aku bakal dihandle sama ibu Anjar. Tapi yah sudahlah, mungkin bu Anjar sedang berhalangan hadir.

Di awal terapi lumayan awkward. Aku gak jago beramah tamah. Sampai akhir staff yang aku gak tahu siapa namanya ini yang mulai dialog. Aku sudah coba lirik name tag dan yess!! Name tagnya kebalik jadi aku gak bisa lihat namanya. Dia tanya aku kuliah dimana dan jurusan apa. Waktu aku bilang jurusanku itu Teknik Lingkungan, staff berkacamata ini seperti belum familiar sama jurusanku. Dia nanya macem-macem, mulai dari sejarah terbentuknya nama jurusan teknik lingkungan sampai kemana arah konsentrasi jurusanku ini. Waktu aku bilang Teknik Lingkungan ini pengembangan dari Teknik Penyehatan. Ya, salah saru cabang dari bidang kesehatan. Aku bisa nebak, pasti dia tertarik untuk tau lebih lanjut, secara bidang kesehatan itu kan salah satu jenis pekerjaannya saat ini. Akhirnya obrolan mengalir kayak run off air hujan. Diluar sana juga masih hujan. Aku ngintip dari jendela di samping kasur terapi.

Sampai akhirnya giliran aku yang bertanya. Tertama-tama masalah alat yang digunakan untuk terapi rahangku ini. Ternyata namanya US atau Ultrasonik.

Ini dia penampakan si alat US (ultrasonik)

Dari namanya udah jelas yah kalo alat ini menggunakan gelombang ultrasonik. Jenis pancaran gelombang yang digunakan adalah gelombang divergent atau menyebar. Seperti ini ilustrasinya.

Gelombang yang bersifat divergent atau menyebar

Gelombang yang bersifat divergent atau menyebar

Nah sesuasi janji aku di posting sebelumnya, aku bakal jelasin bagaimana proses terapi ini berlangsung. Pertama-tama penentuan titik terapi di rahangku. Titik ini terletak di TMJ (temporomandibular joint).

Titik terapi US

Titik terapi US

Pertama-tama bagian yang akan diterapi diolesi gel. Fungsi dari gel itu untuk memudahkan alat US memijat sekaligus menyebarkan gelombangnya sampai ke jaringan-jaringan di sekitar engsel rahangku. Waktu terapi ini berudari 10 menit di setiap rahang kanan dan kiri.

ilustrasi penggunaan US

ilustrasi penggunaan US

Yihaaa… Jadi sekarang kebayangkan proses terapi yang selama ini rutin aku jalanin 2-3 hari sekali. Fungsi dari gelombang ultrasonik ini sebenarnya sebagai pemecah jaringan protein di bagian rahangku yang sempat membeku atau menggumpal. Ini jadi penyebab kenapa rahangku jadi kurang fleksible. ¬†Gelombang ini bersifat hangat dan mampu melelehkan gumpalan tersebut. Pernah aku ngerasain kepanasan saat terapi, ternyata panjang gelombang kurang pas dan bisa jadi daya gelombang terlalu besar jadi terasa panas sampai dikulitku. Panjang gelombangnya sudah diatur sedemikian rupa agar jaringan yang menjadi sasaran gelombang ini tepat sasaran. Gak meleset.

Ini namanya ilmu baru untuk aku hehehee… Benerkan, selalu ada hal menarik yang patut di share setiap kali aku terapi US. Terapi selanjutnya aku lupa akan bertemu dengan siapa. Yang pasti tunggu cerita selanjutnya yaaah…

Category: Fisioterapi

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

Earth orbits the ...