Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Peluk (maaf) Bunda #46

“Hai bunda”

Kudapati pintu kamar bunda tak terkunci. Bahkan terbuka sedikit. Hanya lirikan kecil dari ekor mata sudah terlihat bunda duduk di depan cermin meja rias. Dari celah antara pintu dengan bingkainya. Memoles lekuk mata, alis, pipi hingga dagu dengan kapas. Berputar kemana-mana. Membersihkan wajah dengan milk cleanser. Tak bergeming saat setengah tubuhku muncul diantara celah pintu.

“Hai sayang”

Menoleh sebentar lalu kembali menatap cermin. Satu kapas baru berputar lagi di wajahnya. Sepertinya sehelai kapas kosmetik tak mengangkat milk cleanser berikut lemak dan debu di wajah bunda. Ritual sebelum tidur.

Aku bisa lihat bunda dengan pantulan bayangan serupa di cermin. Aku duduk di tepi kasur, di belakang bunda dan cerminnya. Bunda melihat pantulan wajahku di sana, di cermin.

Selesai sudah ritual bunda. Genap dua helai kapas di atas meja. Kerut terpaut diantara alis lembut bunda. Tak biasanya aku tiba-tiba hadir di kamar bunda seusai makan malam. Melontarkan senyum keibuhan, terpantul di permukaan cermin dan tertangkap retina mataku. Wajahku terlihat datar. Bersama kacamata old style, seperti biasa. Tak semenarik bunda dengan senyum yang masih standby disana. Di wajah geulis khas Kota Kembang.

Aku bangkit. Maju dua langkah. Sedikit membungkuk. Aku peluk bunda dari belakang. Menyandarkan daguku di atas bahu kiri bunda. Hangatnya tubuh bunda dan wangi khas milk cleanser. Sedikit menunduk tapi aku masih bisa melirik bayangan nyata bunda di cermin. Tersenyum makin ramah. Satu tangannya mengelus lengan kananku.

“Maaf yah bunda”

Kurasakan tubuh bunda bergerak. Ku longgarkan pelukan. Mundur dua langkah, kembali duduk di tepi kasur spring bead. Bunda berbalik. Menarik kursi tepat dihadapanku. Bunda duduk di atas kursi.

Seperti sandwich. Kedua telapak tanganku tertumpuk diantara telapak tangan bunda. Tatapan lekat tanda bunda akan bicara. Aku sampai hafal.

“Ibarat siklus, memang sudah waktunya, Re. Bunda paham kok.”

Sedikit manyun dan menggeleng kepala. Bukan menyalahkan kalimat bunda. Hanya saja kurang tepat.

“Urusan kampus memang gak ada habisnya, bun. Bimbingan apa lagi. Tetekbengek revisi. Di rumah cuma begadang atau ketiduran. Seperti sedang mengabaikan bunda.”

Sepulang dari Malang aku sudah disambut dengan proposal tugas akhir beserta usulan judulnya. Tak kusangka direspon cepat oleh pihak jurusan sehingga proses rumit itu dimulai lebih awal.

Lirih memang. Selirih suaraku. Di rumah, siapa lagi lawan bicara bunda selain aku. Dulu ada ayah. Aku pun jelmaan ayah.

“Memangnya kamu pikir bunda gak pernah ngerasain tugas akhir?”

Bodohnya aku sampai lupa sejarah pertemua bunda dengan ayah. Di kampus. Itu artinya bunda juga pernah jadi mahasiswa. Pantesan bunda paham. Maaf bun, memori terusik karena tugas akhir. Senyum tenang mewakili suasana hatiku. Damai.

“Tapi ini gak akan lama lagi kok, bun. Aku sudah mengajukan sidang tugas akhir.”

Semangat dan antusias. Aku bisa baca dari guratan lekuk wajah bunda. Tubuhnya pun sedikit condong ke arahku. Menunggu kelanjutan ceritaku.

“Minggu depan, bun. Semua data dan perencaanku sudah memadahi.”

Senyum bunda makin melebar. Sesekali tangan bunda menepuk-nepuk punggung tanganku. Melirik tanganku yang ditepuk dan kembali menatapku.

“Besok hari minggu kan? Gimana kalau kita buat cup cake?”

Tawa renyah bersahutan. Bunda mengawali kemudian aku mengikuti. Sosok hangat ini memelukku. Lembut.

Hei, hari ini aku memeluk bunda. Bagaimana denganmu Jordan? Sangat merindukanmu.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 5 times 3?