Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

The Last Fisioterapi #5

Ini baru Bandung. Deskripsi yang melekat dan muncul disetiap angan-angan, tentang Bandung. Sejuk. Lembab. Terik tapi hangat karena beradu dengan kelembaban tinggi. Beberapa hari ini aku lebih memilih kaos oblong dan menanggalkan jaket tebal panjang. Bandung gerah. Minimal sekarang aku bisa kenakan lagi sweater ungu favoritku. Washout setelah diguyur hujan semalam. Berbagai bentuk polutan di udara sudah terbilas habis sama hujan dalam beberapa jam. Kondisi Washout yang masih bertahan sampai menjelang malam. Semoga sampai seterusnya. Amin.

Hari ini juga, hari terakhir aku naik lift ukuran jumbo dan menekan tombol 6 (lantai 6, lantai fisioterapi). Lift yang bisa mengangkut ranjang berikut pasien yang tertidur di atasnya. Luas. Lift yang cuma ada di rumah sakit ini.

Agak canggung memang. Aku sudah mulai kenal beberapa terapis yang menanganiku terapi ultrasonik. Mulai dari Pak Yosef, Pak Supri dan Mbak Valen. Oya dari pertama aku ditangani Pak Yosef, aku berharap bisa bertemu terapis profesional ini lagi. Tapi ternyata sampai jangka waktu terapi usai, aku belum juga dipertemukan lagi dengan beliau. Aku justru lebih sering bertemu Mbak Valen. Terapis yang sempat ku sangka asisten Pak Supri.

Selama 6 kali terapi. Hampir semuanya aku sengaja ambil waktu sore, sekitar jam 4-5. Karena itu waktu optimal setelah aku selesai kuliah. Pernah suatu hari aku pilih waktu pagi. Jam 10 pagi. Tapi suasana ruang fisioterapi lebih kikuk. Banyak pasien. Terkesan crowded, capek, dan penuh, gak sampai sumpek sih. Aku berkali-kali lihat para terapis mondar-mandir sambil mendorong berbagai alat fisioterapi yang dilengkapi roda di bawahnya. Biar lebih mudah digeser. Setelah ini, sampai seterusnya aku kembali ke jadwal sore. Lebih santai dan terkesan sisa. Pasien lebih sedikit. Tapi lebih nyaman begini. Mbak Valen juga lebih pendiam kalau siang. Entah terlalu konsentrasi atau pikirannya bercabang ke pasien-pasien lain.

Hari ini. Aku datang tepat jam 4 sore. Begitu pintu lift terbuka, jam dinding itu sudah menyapa dengan sudut 150 derajat. Jam 4 sore.

Seperti biasa, gak banyak pasien. Aku duduk di kursi tunggu dengan novel di tangan. Sembari menunggu. Pemandangan yang gak kutemukan di pagi hari. Beberapa terapis dan pembantu terapis nampak sesekali tertawa dan bercanda di ruang terapi. Aku lihat dari ruang tunggu. Suasana cair. Karena memang diwaktu sore ini mereka bisa bercanda. Tak sesibuk di pagi dan siang hari. Kalau harus terus-terusan serius pasti jenuh. Minimal menjelang sore kejenuhan itu menguap perlahan.

Aku bertemu lagi dengan kakek-kakek itu. Kakek-kakek terapi berjalan. Masih dengan gerakan berjalan seperti menendang udara di depan tulang keringnya, tapi lebih luwes. Sedikit lebih baik dari sebelumnya. Sang istri ternyata selalu standby dengan kursi roda, berjaga-jaga kalau suaminya ingin duduk. Kali ini Mbak Valen yang menghandle kakek itu.

Selesai terapi kakek ini dituntun untuk duduk di kursi roda. Masih dengan Mbak Valen. Kepolosan kakek-kakek, mirip anak kecil. Kakek ini sedikit ngos-ngosan. Beliau bilang dia cape. Mbak Valen dengan senyum dan luwes merespon si kakek dengan tawa ringan bersama si nenek (istri kakek). Lucu. Aku ikut tersenyum.

Gak lama kemudian namaku dipanggil. Masih dengan Mbak Valen yang menangani aku. Terapi terakhir.

Di bilik nomor 13. Gak benar-benar bilik sih karena antara bilik satu dan lainnya hanya dibatasi gorden hijau pucat. Sesekali Mbak Valen terlihat gobrol dengan terapis lain dari balik gorden. Dengan logat dan aksen jawa. Ya, Mbak Valen ternyata asli Solo. Pak Supri juga asli Yogyakarta. Aku? Surabaya coret kayanya hahahaaa… Logat dan aksen surabaya kental tapi gak pernah menetap lama di Sidoarjo. Cuma sesekali nengok kakek-nenek disana.

Gak terlalu canggung ngobrol dengan aksen jawa. Malah berasa kaya di rumah. Sambil memijat bagian engsel rahang dengan US, Mbak Valen cerita kalau dia mau pulang ke Solo. Besok naik kereta api. Mbak Valen tanya kapan aku pulang ke Kalimantan. Aku bilang akhir tahun ini, desember. Awalnya urusan e-ktp, tapi kalau ternyata proposal kerja praktekku tembus, bisa sekalian kerja praktek. Semoga proposalku lolos. Amin.

“Kalo pulangnya desember brarti oleh-olehnya masih lama dong, ehehhee”

Hehehee.. Bukan masalah oleh-oleh yang buat aku tertawa. Ini terapi terakhir, kapan ketemu Mbak Valen lagi? Selama terapi dengan Mbak Valen, sesekali Pak Supri sering tiba-tiba menyahut dari bali gorden. Usil. Sengaja buat suara mirip kodong di sawah. Hahahaaa… Beginilah kelakuan terapis dikala sore. Kocak. Mbak Valen seperti korban abadi yang selalu jadi bahan bully Pak Supri. Celotehan dengan bahasa jawa. Karena aku paham jadi aku ikutan tertawa. Kapan lagi bisa tertawa sambil terapi begini? Masa iyah aku harus sakit rahang lagi…

Semoga sampai selesai kerja praktek, Mbak Valen dan Pak Supri masih jadi terapis di rumah sakit ini. Minimal masih bisa nitip oleh-oleh dari Kalimantan. Ini masalah kalau. Kalau.

Setelah menjalani 6 kali terapi. Rahangku sudah mulai bisa terbuka sampai 3 jari lebih. Tapi harus dipancing dengan gerakan terapi manual dengan tangan dulu. Belum bisa terbuka lebar otomatis. Awalnya berbangga hati dengan prestasi rahangku yang meningkat tapi Mbak Valen selalu protes.

“jari tangan kamu itu kecil, coba pake jari tanganku, hayoo masih muat gak hahahaha”

Postur badan memang gak jauh berbeda dengan tubuh aku, tapi jari-jari tangannya kaya pisang ambon. Gede-gede. Aku cuma bisa tertawa tiap kali Mbak Valen bilang begitu. Dan selalu begitu. Tepatnya setiap kali aku mangap sambil ngukur pake jari.

“Mas Supri. Ini dicariin, sama yang suka ketawa tiap terapi.”

Suara Mbak Valen memanggil Pak Supri yang ada di luar bilik. Itu aku. Pasien yang tertawa tiap terapi US. Gimana gak ketawa kalo terapisnya rada sarap kaya dua makhluk ini. Hehehee… Walaupun Mbak Valen yang menangani aku, gak jarang juga Pak Supri tiba-tiba nongol dari balik Gorden. Usil. Yang muncul cuma kepalanya aja. Entah lagi main cilukba atau apa. Hehehee…

Selesai sudah terapi hari ini.

“Daahhh Mbak Valen…”

Sembari berlalu dengan akrab.

Kalau Tuhan masih mengizin. Nanti kita ketemu lagi yah… Semoga bukan karena aku datang sebagai pasien. Hehehee…

Category: Fisioterapi