Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Email (sebelum sidang) #47

Segalanya mengalir dengan tenang. Ibarat angin dan air yang bergerak sesuai dengan ketetapan fluidanya. Damai-damai saja.

Mulai dari berita tentang sidang yang akan kuhadapi dalam hitungan hari dan membuat cup cake bersama bunda. Bentuk celebration sederhana bersama bunda. Tak ada yang terlewat barang sekata. Semuanya kubiarkan mengalir dalam ceritaku. Cerita dalam email. Jordan pasti sesenang hatiku saat ini.

Tak lupa tentang kejadian memalukan saat perutku berbunyi di depan Pak Marwan. Sang pembimbing baik hati dan klasik. Klasik namun kontemporer. Bagaimana bisa seorang mahasiswi tingkat akhir bersama dosen pembimbing melakukan ritual brain storming di tengah-tengah kantin kampus. Inovasi luar biasa. Berani taruhan, tindakan ini akan jadi kebiasaan baru. Terutama mahasiswa bimbingan Pak Marwan setelah aku, kelak. Jordan pasti akan tertawa dengan kejadian ajaib seperti ini.

Membuat cup cake bersama bunda. Tak ada yang spesial. Awalnya. Cup cake yang indah. Satu loyang berubah menjadi dua kubu. Setengah adalah sekumpulan cup cake berhias fondant warna-warni dengan berbagai bentuk element rumah. Atap, pintu, dan jendela aku wujudkan dalam ukuran mini di atas cup cake. Kubu yang satunya lagi terkesan klasik. Butter cream dan beberapa potongan buah di puncaknya. Strawberry, cherry, dan jeruk. Itu hasil karya bunda. Begitu cup cake selesai dihias, aku dan bunda tiba-tiba tertawa sambil memandang satu sama lain.

Lihat saja. Dua makhluk berbeda generasi sedang berkarya. Begini lah jadinya. Bunda tetap dengan zamannya yang sederhana dan klasik. Sedangkan aku yang berusaha terlihat kontemporer dengan fondant berbentuk ornamen bangunan rumah. Terlalu arsitektur. Jordan pasti akan tersenyum dengan cerita yang satu ini.

Berbagai foto yang sengaja kuambil saat cup cake selesai dimake up. Salah satunya, foto diriku memeluk bunda sambil tersenyum. Bunda mencium pipiku. Kupeluk lembut wanita hangat ini.

Aku merindukanmu Jordan.

message sent

Satu tarikan nafas dan hembusan bertenaga. Ini email dengan kisah paling beragam dan paragraf terpanjang yang pernah kutulis. Sesuai dengan email Jordan yang membahas setiap kegiatan per harinya. Sudah bisa dibayangkan. Jauh lebih panjang dari email ku.

Baru beranjak sekian menit setelah kutekan tombol sent, email balasan sudah mendarat saja. Dari Jordan.

Tak banyak yang ia katakan. Hanya sebuah foto. Dirinya dengan kostum jas putih kedokteran kebanggannya. Senyum indah menenangkan. Sudut matanya ikut tersenyum. Kacamata yang selalu berhasil menghias mata sipitnya. Tidak sedang memeluk apa pun. Tapi dia merindukanku.

“Untuk sidang, semoga berhasil. Untuk cup cake, bagaimana kalau dihias dengan ukiran namaku? hehehee… hhmm sangat merindukan Reanita Abraham, si wanita hebat.

Senyumku merekah. Daya terkuat yang pernah kumiliki. Doa dari orang-orang terkasih. Bundan dan jordan. Kalau begini rasanya, besok sidang pun aku siap.

Sesekali aku melihat beberapa email yang sudah memenuhi inbox. Hapus sajalah email yang sudah terlampau lawas. Toh sudah tak kupakai lagi.

Tapi nampaknya aku tak kuasa menghapus email yang satu ini. Mataku berhenti, bersamaan dengan jemari di atas mouse. Dadaku tersentak lagi. Secepat kilat ingatanku bergerak mundur. Senyumku mengendur seketika. Sudah berapa lama usia email ini? Satu tahun. Email yang kuterima tepat tahun ke-20. Kini usiaku genap 21 tahun. Email pertama yang sempat mengguncang berbagai saraf dalam otakku.

“Akhirnya ketemu juga alamat email mu berikut nama lengkapmu, Reanita Abraham. Selamat ulang tahun, Rea. Kado ulang tahun dari aku keren kan? See you next time. See you next event.”

Kalimat dalam badan email masih kokoh berbaris disana. Ini yang membuatku resah. Selalu senang saat bertemu dan berat saat dia tak ada disekitarku. Sampai ku kejar dia hingga ke kota nun jauh disana. Lalu kutinggalkan dia tanpa menjawab apa pun.

Aku sebut ini butir berbintang yang bergantung di leherku. Kuraba hati-hati. Masih tetap kecil dan rapuh. Aku takut benda ini hancur ditanganku.

Apa yang sedang kamu pikirkan, Gery? Masih tentang keputusanku? Apakah masih menunggu?

Ralat. Aku tak siap untuk menghadapi sidang besok.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is that thing with fingers at the end of your arm (one word)?