Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Sarjana Teknik Arsitektur #48

Tak ada yang tak luar biasa untuk seorang Lia. Teman semasa bocah putih abu-abu hingga dewasa prematur. Dewasa karena proses selama hidup di kampus dan berbagai interaksi dengan manusia hebat semacam dosen. Usia belum sentuh 25 tahun tapi pemikiran seperti sudah melampau batas usia yang akan semakin menua. Dewasa juga adalah keputusan. Dewasa prematur. Prematur sekalipun, tak ada yang salah. Bagiku bukan sebuah kecacatan fisik atau tindakan terlalu dini. Ini keputusan.

Dan temanku Lia. Tak ada tugas yang terlewat oleh pengamatannya. Buku agenda super tipis nan ringkih tapi siapa sangka, segala jenis deadline ada disana. Tercantum untuk dikerjakan. Dengannya yang sedang berpidato di atas mimbar. Hari ini untuk dikenang.

Aku saja buta. Atau memang sengaja ia sembunyikan kharisma seindah ini. Wujudnya seperti malaikat yang bernyanyi diatas mimbar. Ada cincin bersinar diatas ubun-ubunnya. Deretan kalimat hebat dari seorang Lia. Yang matanya terpejam saat bola basket Ryan sergap menghampiri. Guratan senyum menawan. Ucapannya semakin bernyawa. Berarti panitia acara ini tak salah orang untuk mengisi ajang pidato mahasiswa berprestasi.

Aku? Tak ada kalimat yang tak menarik untuk kudengar. Bukan bicara berat anak-anak pintar dengan IPK melambung tinggi ke angkasa. Awang-awang skala 4. Justru terlewat micro namun bukan detail. Aku sebut ini sederhana. Siswa SMP juga bisa mencerna isi pidatonya. Senyum Lia menular. Tak ada alasan untuk tak menarik tinggi-tinggi kedua sudut bibir ini. Kadang teman ku yang satu ini buat aku sadar dan bersyukur. Keindahannya menular padaku sekian persen. Hingga kami hadir bersama di acara ini. Wisuda.

Aku lirik si mahasiswa bule, Ryan. Dia duduk di sampingku. Tepatnya di samping Lia. Setelah Lia berpindah tempat ke atas panggung, otomatis Ryan jadi tepat di sebelah kiriku. Dia juga ikut tersenyum. Perbendaharaan bahasa Indonesianya semakin baik, wajar kalau dia paham.

“She’s so beautiful. Look at she’s smile and everything she said.”

Sadar juga kalau aku sedang memperhatikan guratan senyumnya yang sama lebarnya denganku. Ryan sama terpukaunya denganku.

“Yes, she is. She did something beautiful”

Aku ikut mengakui dan kembali menghamburkan sudut pandang kearah mimbar. Ternyata Lia sudah selesai bicara dan tepuk tangan riuh menggema seantero gedung serba guna. Aku ikut ribut dengan kedua telapak tanganku, walau terlambat sepersekian detik.

***

“Satu.. Dua.. Tiga.. Arsitektuuuurrr… woohooo”

Puluhan topi toga melayang di hamparan atmosfir. Beberapa meter di atas kepalaku. Kepala Ryan dan Lia juga. Di atas kepala wisudawan jurusan arsitektur. Beberapa detik kemudian, hujan topi toga siap menghantam ubun-ubun dibawahnya. Tapi kami semakin tertawa lepas dan sebagian ada yang menitikkan air mata haru. Kupeluk Lia sekuat yang ku bisa. Tubuhnya memang berisi. Kedua tanganku tak mengjangkau seluruhnya.

Kemudian Ryan menimpali kedua bahu kami yang sedang bertautan. Tiga mahasiswa berpelukan. Menyusul yang lain dan jadilah kami sebuah gumpalan yang saling merangkul. Ryan sudah menangis. Ya, ini adalah momen terakhir baginya. Selang sepekan, ia harus kembali ke negara asalnya. Emosinya terlutar padaku. Usapan tangan untuk bahu si bule, Ryan.

Gumpalan mereda. Aku sudah bisa bernafas lagi setelah pelukan erat mengujam bebagai ukuran tubuh para wisudawan yang masih lengkap dengan kebaya dan sepatu resmi mereka. Rangkulan berakhir, berganti dengan saling memberi selamat.

“Rea”

Suara yang ku kenal. Di belakang punggungku. Sekali putar, dan itu dia, si cantik Tiwi dengan rangkaian buka di pelukannya. Selangkah, dua langkah, tiga langkah dan tubuhku menyambut pelukannya. Aku baru menyadari satu hal. Tiwi nampak lebih tinggi. Ohh ya, high heels. Tentu saja, om Anggara akan marah besar kalau ku kenakan sepatu penambah tinggi badan ini. Toh aku pun tak sanggup juga. Lututku yang tak sanggup jadi aku hanya gunakan flat shoes. Tapi flat shoes ini tak kalah lucu dengan sepatu Tiwi. Berusaha menghibur.

“Sepupu terhebat. Selamat ya.”

Aku tersenyum lagi, lagi dan lagi. Kali ini dalam pelukan Tiwi.

“Sepupu penggila ilmu bisnis, kamu juga cantik dan lebih tinggi.”

Gelak tawa Tiwi dan aku meredakan tangan yang saling memeluk. Tiwi masih menghabiskan sebagian sisa tawanya tapi punyaku mendadak harus terhenti. Tiwi menyadari itu kemudian memaklumi.

Mataku menangkap hal lain. Bukan hal baru, hanya saja aku sudah lama tak melihatnya. Mungkin karena masalah waktu jadi aku seperti melihat hal baru dalam hidupku. Lekuk senyum yang selalu menenangkan. Pantulan kilau lensa kacamata half frame yang membingkai mata yang tak selebar mataku. Bukan dengan jas putih kebanggannya. Kemeja biru danĀ blazer abu-abu sedikit gelap. Malaikat ini sedang berjalan mendekat. Langkahnya terlewat anggun jadi seperti setengah melayang.

“Surprise. Happy graduation, honey”

Tak seperti Tiwi yang mengenakan tambahan high heels untuk menunjang keindahan betisnya. Jordan memang sudah menjulang tinggi dari sananya. Aku tak sampai berjijit, tapi dia yang merendahkan bahunya agar mudah kugapai. Sudah lama tak memeluknya dan ini hadiah terindah.

“Its a beautiful surprise Jo.”

Mataku perih. Hujatan syukur terus mengalir hingga kuatnya tak terbendung lagi. Pelukan Jordan seperti daya baru untuk ku luapkan saja semuanya. Makhluk ini akan selalu jadi daya utama untuk tubuhku. Baterai yang baru dicharge.

Itu bunda dan senyum kebahagiaannya. Satu tangan tante Arina merangkul bahu bunda dan om Anggara juga hadir dengan sapu tangan sudah merapat dalam genggamannya. Nampak Jordan menyadari penglihatan yang baru kudapatkan dari sela bahunya. Pelukan melonggar.

Sebuah blitz camera mengalihkan perhatian ku sesaat. Chris dan camera posket hijau miliknya. Sebentar, Tiwi berdiri di sisinya. Oh ya ampun jadi ada hubungan baru diantara mereka? Atau aku saja yang lagi-lagi buta karena tugas akhir? Lirikan Tiwi memang sudah memperjelas semuanya.

Saat kembali memutar kepala untuk memandang bunda, ternyata wanita indah ini sudah berdiri dihadapanku, siap memeluk. Tapi sudah ku peluk terlebih dulu.

Satu lagi doa untuk hari ini.

Ayah, hampir sempurna sudah wujudku ini sebagai bentuk reinkarnasimu. Tinggal beberapa langkah lagi akan ku kejar juga apa yang sudah kau raih. Mungkin aku punya PR baru. Aku akan berusaha jadi seindah dirimu di mata semua orang yang mengenangmu. Ayah, aku adalah wujud cintamu. Wujud nyata. Semua orang mencintaiku sebagai media penguhung untuk mencintaimu, ayah. Andai kau saksikan sendiri kejayaanku hari ini. Ohya aku lupa, ayah pasti sudah melihat semuanya dari khayangan sana.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 + 4?