Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Job #49

Aku sudah siap dikala waktunya tiba. Waktu tak akan datang atau pergi. Hanya terus bergerak, aku antara mengejar atau tertinggal. Itu saja, sesimpel itu sebenarnya. Waktu untuk mendengar tentang satu kesimpulan instan. Hidup dalam bayang-bayang ayah. Ayahku, Antonio Abraham. Pernyataan ini sebentar lagi akan menggema seantero indera pendengaranku. Masa bodoh. Tinggal ku kerahkan instruksi untuk tuli dan semuanya selesai.

Tak muluk-muluk. Aku ingin menyempurnakan wujud reinkarnasi ayah dalam diriku, itu saja. Inspirasi yang tak akan habis dimakan rayap-rayap jam pasir. Waktu.

Langsung saja. Begitu lulus, ku layangkan surat dan berbagai tetek-bengek lamaran ke salah satu perusahaan konsultan perencanaan di Kota Bandung tercinta. Tempat ayah bekerja, dulu. Agaknya tak selancar cibiran manusia-manusia penghuni kantor setempat. Mereka bilang, kelak urusanku dipermudah atas nama keluarga Abraham.  Bedebah.

Intinya segala berkas itu telah bersuara. Menjawab. Aku datang lagi untuk interview. Ini lah langkah pertama yang kulayangkan setelah kejayaanku dengan kostum toga sebulan kemarin. Tak banyak berubah dengan kantor ini, hanya ada beberapa bagian yang diretouch sebagai sentuhan improvisasi agar tak monotone. Menarik.

Terduduk rapi di seberang meja. Kursiku, sekitar satu meter dari meja yang ada di hadapanku. Duduk sendiri. Salah satu interviewer yang akan mengujiku adalah Pak Handi. Pertama kali kulihat wajahnya saat pemakaman ayah dua belas tahun silam. Kini wajahnya mulai keriput dan agak kusam. Berbagai deadline proyek ternyata mempengaruhi fisiologi wajah seseorang? Bisa jadi, atau memang 12 tahun bukan waktu yang singkat. Mungkin saat ini ayah sudah setua beliau. Dulu dia teman seangkatan ayah, sejabatan. Entah apa jabatannya sekarang, aku kurang tau.

Yang lain? Sibuk membolak-balikkan berkasku yang sudah diduplikat berkali-kali. Hebatnya mesin photo copy. Awalnya Pak Handi juga sama saja, sibuk membaca berkasku tapi tak selama rekan interviewernya. Begitu melihat biodata, kedua mata sayu nya menatapku lekat-lekat. Kemudian senyum terbit pelan-pelan sekali. Beliau mengenaliku.

Nampak berbagai jenis pertanyaan terbit diantara helai rambut keperakannya, uban. Bagaimana kabarku? Bagaimana kabar bunda? Mustahil dia tanya bagaimana kabar ayahku. Ini bukan kondisi untuk beramah-tamah. Mungkin setelah interview, lelaki paruh baya ini akan menghampiriku.

“Lantas, apa alasan utamamu saat melamar ke perusahaan ini?”

Sekian waktu terbenam dalam kertas berbagai warna, berkas, sebuah wajah terbit. Tegak menatap dan pertanyaan pertama akhirnya terlontar lantang. Wajahnya sengaja dibuat garang. Aku harus takut?

“Melanjutkan langkah inspirasi.”

Kedua matanya menyipit drastis. Telunjuk dan jempolnya membenarkan posisi kacamata yang tak sedang melorot. Serangkaian akting mungkin. Pak Handi masih menatapku dengan senyum tipis di wajah senjanya. Seorang lagi, masih tentang interviewer, menegakkan punggung tiba-tiba. Lengkap sudah, ketiga penguji ini benar-benar siap.

“Siapa dia? Inspirasimu?”

Jarak satu meter gak menyulitkanku memandang tiga sorot mata. Semakin paten saja kedua mata dan kacamata old style ini beraksi.

“Antonio Abraham”

***

Berjalan? Bukan. Berlari kecil juga bukan. Kedua kaki beradu dengan gesekan udara tepat di atas pemukaan lantai. Langkahku lebih mirip berdansa sambil bergerak maju.

Aku baru saja tiba, tapi masih di ruang tamu. Aroma penggugah asam lambung yang sangat ku idam-idamkan. Hafal mati aroma apa ini. Chicken corn soup.

Aku tak mengendap-endap. Kubiarkan saja sol sepatu berirama dengan lantai. Sebelum benar-benar muncul di ambang pintu dapur, bunda sudah tersenyum.

“Kejutan! Hari ini bunda masak soup kesukaanmu, Rea”

Senyumnya langsung menghangatkan suasana yang sudah girang luar biasa ini. Kudekati bunda. Langkahku lebih pelan dari yang sebelumnya. Ada map cokelat yang betah kudekap sedari perjalanan dari lokasi interview. Satu tangan bunda menyambut. Tangan satunya lagi masih mengaduk soup dalam kuali. Lama-lama perhatian kedua tangannya tersita untuk si amplop cokelat.

Wajahku datar, walau ingin tertawa terbahak-bahak atau tersenyum lebar. Ku tahan dulu sebentar. Secarik kertas terbit dari dalam amplop. Kedua pupil mata ranum mulai gesit mengeja setiap kata. Bergeserlah pandangan itu, dari kertas kemudian ke arahku. Mata ranum yang bergerak-gerak kecil di tempat, berkilau karena basah.

“Surprise”

Hati-hati sekali. Suaraku jadi lebih mirip berbisik namun tetap riang. Saraf wajahku sudah tak kuat menahan daya untuk tersenyum.

Kejutan untuk bunda hari ini. Aku akan bekerja di kantor yang sama dengan ayah. Aku diterima.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
  • Budi says:

    Rasanya… mak nyus pemirsa. :)

    bagus, yu.

    November 2, 2012 at 6:31 am
  • ayu emiliandini says:

    Budi :

    Rasanya… mak nyus pemirsa.
    bagus, yu.

    kirain rasa cokelat hehehee makasih ya

    November 2, 2012 at 8:09 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 plus 7?