Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Malam, Pagi (proposal) #50

Yang kutahu langit di luar sana terlewat kelam. Bukan lagi merona atau sekedar biru tua. Gelap. Entah sudah berapa kali bola mataku melintir hanya untuk melirik. Ini sudah hampir tengah malam. Ngantuk? Sudah pasti. Bukan karena mood pula menunda proses mendarat ke atas kasur tapi memang aku masih harus menunggu.

Awalnya hanya ingin membalas email Jordan. Baru kubalas beberapa jam yang lalu. Kemudian datang balasan amat kilat dari negeri nun jauh disana. Jelas kilat, hanya ada tiga kalimat dalam badan email.

“Rea sayang, ada yang harus aku kerjakan sekarang. I’ll be back soon, honey. Jangan dulu tidur ya.”

Entah berapa jam selisih waktuku dan dia yang ada di sana. Sepuluh jam? Dua belas jam? Aku tak pernah benar-benar niat untuk menghitung. Mungkin akan menghitung anak domba yang antri untuk melompati pagar putih. Menunggu lelap. Tapi Jordan tak ingin aku tidur lebih dulu.

Massa kelopak seketika bertambah berat. Bisa jadi. Ini karena terakumulasi dengan massa tengkorak yang sedaritadi sudah berpangku dengan tangan kiriku.

Semenit, dua menit, satu jam dan kini sudah genap dua jam aku menunggu Jordan kembali di depan leptopya. Jangan bilang akan ada jam ketiga. Cepatlah kembali Jojo.

Perasaanku saja atau bola mataku mulai mengering dan hhmm… sedikit gatal.

***

Apa itu? Buram. Sebentar.

Saraf yang luar biasa otomatis. Paham betul dengan kebutuhan mataku yang perlu beberapa kali mengejap. Benar saja, penglihatan berangsur-angsur membaik. Tapi ada yang aneh. Ini memang masih kamar tidurku tapi kenapa begini?

Akhirnya sadar juga, ternyata kepalaku parkir dengan gamblangnya di atas meja. Kedua lengan terlipat yang kujadikan bantalan. Astaga aku ketiduran.

Tegakkan tulang punggung. Layar leptopku sudah mati, tak sepenuhnya mati. Standby. Aku gerakkan curssor, layar menyala perlahan.

Langit masih segar dengan warna barunya setelah hitam kelam. Titik-titik kilau berlian, bintang, sudah terbenam dengan cerahnya biru langit. Ini sudah pagi.

1 message

Sudah kuduga. Detak jantung masih terlalu dini untuk berdetak tak keruan. Jelas saja, aku masih terduduk di depan leptop tapi nafasku seperti beradu dengan tekanan udara dalam kamarku. Tak beraturan. Aku tak menunggu sampai tenang, langsung saja panah mungil dalam layar leptop membuka satu email Jordan hanya dengan sekali klik.

“Aku di depan rumahmu, Re”

Alih-alih paham, salah satu tanganku menggapai kacamata dan memposisikan si old style tepat di atas hidungku. Tak percaya dengan apa yang kubaca. Terlalu kaget, mulutku bahkan sudah menganga.

Kulirik keterangan waktu di badan email terbawah. Jam 3 dini hari. Kalau sekarang matahari sayup-sayup terbit, berarti… Oh ya ampun.

***

Jalan cepat? Bukan. Lari kecil juga bukan. Aku benar-benar berlari sambil menggaet selimut berbahan handuk di bahu. Makin kurapatkan dekapan selimut di bagian atas tubuh. Sambil berlari pastinya.

Pintu ruang tamu masih terkunci. Harusnya aku sudah biasa tapi saat ini tubuhku terlampau gemetar. Tanganku bergetar walau hanya memutarkan kepala kunci dan mengayun ganggang pintu.

Jordan ada disana. Duduk di kursi pekarangan, sedikit menunduk. Tak ada maksud apa-apa, hanya ingin menambahkan ornamen pada pekarangan rumahku yang monotone. Kursi putih diatas hamparan hijau rumput. Jordan pasti sangat berterima kasih dengan si penghias pekarangan yang ternyata punya fungsi lain.

Langkahku pelan. Baru sadar dari belantara alam bawah sadar tapi otakku harus berikukuh dengan potongan ingatan semalam. Memintaku menunggu sejenak kemudian email berikutnya Jordan sudah di depan rumah. Tertidur di pekarangan? Memangnya apa yang sedang terjadi?

Dinginnya Bandung tak benar-benar membekukan saraf motoriknya. Jaket luar biasa tebal dan panjang menjuntai hingga lutut nampaknya telah menghalau ganasnya angin malam. Dan sosok kuat ini tak bergeming lagi. Aku sudah cukup dekat. Sandal kamar dan rumput pekarangan memang sedikit berisik.

“Rea?”

Sedetik kemudian tubuh kokohnya sudah berdiri di hadapanku. Matanya sama sekali jauh dari kata segar. Entah emosi apa yang terjadi dalam dirinya. Datar. Tak benar-benar tertidur. Menungguku?

“Jordan, apa yang sebenarnya terjadi? Aku sama sekali gak..”

Aku ragu Jordan fokus dengan apa yang ia tatap saat ini. Setengah mati kuatur ulang nafasku, minimal terlihat tenang. Aku panik. Salah satu tangannya sibuk menggeledah kantong jaket hebatnya. Tak fokus.

Hitungan detik justru fokusku berubah. Kalimat juga tak sepenuhnya selesai tapi kuakhiri saja. Nafasku sudah sepakat dengan kelembaban udara. Kelembaban tinggi dan menjadi lebih berat untuk dihirup.

Tubuh yang selalu menjulang tinggi kini kedudukannya terbalik. Jordan merendahkan tubuhkan. Menunduk. Satu lutut menyentuh rerumputan dingin bersama embunnya. Tangan kiri menopang sebuah kotak dan tangan yang lain membuka tutupnya perlahan.

“Would you be part of my life?”

Ada yang berkilau di dalam sana. Cincin.

Entah apalah yang kurasakan sekarang. Berat. Lebih tepatnya mengganjal dan berat. Aku masih mendekat ujung selimut di dadaku. Menenangkan detak jantung. Reflek. Jemariku membelai bintang kecil di dada. Ya Tuhan, aku belum sanggup bertahan tanpanya. Tanpa Gery.

Tetap diam sambil terus bernafas. Aku sudah seperti pengidap asma. Sesak.

Kilau lain tertangkap penglihatanku, bukan cincin. Jordan masih menatap dengan harap. Kedua matanya masih tak terlalu segar tapi berkilau. Kilau yang tak kudapatkan dalam kedua mata Gery. Jauh dalam ingatanku, bola mata indahnya sekeras pualam dan berkilat. Semalam sebelum kembali ke Bandung, aku ingat. Gery geram, padahal hawa Malang terlalu beku untuk terbakar.

Ya, aku paham. Ini bukan masalah penghuni hati. Tiwi benar, keputusan semua ada di tanganku. Jadi ini saat?

Kembali pada kilau baru dalam tatapan Jordan. Selalu hadir, hanya saja, ini lebih indah. Kilau kehidupan hingga akhir hayatku. Jordan memilikinya.

Seutas senyum tipis mulai merambah permukaan wajahku. Semakin jelas. Semakin lebar. Kini tersenyum dalam diamku. Kuredakan salah satu tanganku. Jordan menyambut dan melingkarlah dia disana.

Dalam sekejab sebagian tubuhku terbenam dalam pelukan Jordan. Dekapan erat. Hangat.

“You are always be part of my life”

Kalau sedekat ini aku baru tahu, suara Jordan berbisik riang dan parau. Lelah sedari semalam. Lalu lelahnya menjelma dalam kebahagiaan pagi ini. Aku masih belum paham, perasaan macam apa ini. Tapi aku tahu. Persentasi bahagia mendominasi perasaan yang lain. Siap-siap menghadapi perubahan terbesar dalam hidupmu, Rea.

Salah satu tanganku masih mendekap bintang kecil yang menghiasi leherku.

Aku tak sedang memilih. Aku hanya akan mengenangnya dengan cara  yang lain. Mengenang Gery.

Daya dekap Jordan melonggar. Sorot matanya menatap hal lain, jauh di belakangku. Menatap sambil terus mengembangkan senyum bahagianya. Saat berbalik, bunda sudah disana. Di depan pintu utama. Senyumnya sehangat pelukan Jordan. Sepasang matanya juga berkilau. Berkaca-kaca. Sama bahagianya denganku.

Ayah. Wujud reinkarnasimu mendekati sempurnya.

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is a typical spring leaf?