Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

When I Feel Comfort With This

Introvert dan extrovert. Bisa dibilang aku memiliki keduanya. Hanya saja masalah waktu dan penempatan. Extrovert, saat bertemu dengan orang-orang baru yang (menurutku)  menyenangkan dan aku bebas bertingkah sesuai dengan kepribadianku. Teramat-sangat introvert ketika berhadapan dengan hal yang (menurutku) gak penting . Biasanya introvert ini kambuh di zona tak nyaman. Sepertinya wajar tapi aku punya kriteria tentang zona tersebut.

Sebuah area dimana tak ada yang bisa kupertahankan, minimal hanya untuk mendengar. Zona dimana kehidupan manusia berjalan amat individual dalam kondisi heterogen. Ketika aku berpikir tak ada yang berperan sebagai pendengar disini, mendengarkan aku berceloteh. Introvert itu hadir sementara. Ya, sembari aku cari apa pun yang bisa menampung segala hal frontal yang menghantam dinding otakku (berebut ingin keluar dari sana). Beberapa kali aku coba, berbicara sajalah pada semua orang, tapi hasilnya menyecewakan. Ada yang tak setuju karena tak sepemikiran. Ada yang tak setuju, lengkap dengan kesimpulan singkat,  judging me! Ada yang tak mengindahkan barang melirik sedikit, katanya aku agak sinting karena sudut pandangku sedikit kritis dari elevasi standard. Ada yang mengerutkan dahi lalu berlalu bersama gas alam. Ada yang setuju namun sekedar memberi anggukan sekali-dua kali kaya ayam. Aku ingin ada respon keras, kalau perlu sampai aku tersentak beberapa kali. Minimal sesuatu yang bisa buat aku kembali berpikir lagi… lagi… dan lagi. Aku butuh brain storming.

Dan sikap pemilih ini muncul. Bukan karena sombong atau apalah yang biasa terlintas di pikiran orang-orang diluar sistem, mereka tahu apa? Tapi aku memilih, apakah ada pendengar dan perespon yang baik. Kemudian kriteria itu muncul. Kriteria ‘baik’ yang kucari. Aku harus menemukan sesuatu atau seseorang yang memiliki kemiripan pola pikir, denganku. Pencarian terus berlangsung, hanya saja, mau sampai kapan seperti ini? Aku seperti lari dari lingkungan tempatku bernaung dan mencari kesesuaian diluar sana. Tapi mau bagaimana lagi, brain storming itu gak ada disini. Di tempatku ber-heavy rotation.

Suatu ketika aku benar-benar lupa, padahal aku bisa menulis. Dengan pulpen, pensil, sepidol, note pad, apa pun. Ada seorang teman mengingatkanku tentang sebuah media yang bisa kuobrak-abrik sesuka hati (thanks a lot Fuad).

That’s blog.

Kemudian aku mulai menulis ini itu. Dari yang gak penting sampai masalah klasik dunia perkuliahan. Dunia yang biasa dialami banyak orang. Sekali, dua kali, entah sudah kesekian kali aku menulis. Respon datang silih berganti. Ada yang setuju dan ada yang mencerca dengan bahasa sangat halus. Ada masukan dan ada kritikan tentang berbagai celah dalam tiap rangkaian kata yang kupilih. Kemudian aku menulis lagi… lagi.. Dan lagi… Respon semakin banyak dan beragam dari berbagai sumber. Dan apa yang kupikirkan sekarang? I found it.

Aku temukan tempat untuk menuangkan apa pun yang ada di dalam pikiran nan terbatas ini. Oohh bukan.. Bukan… pikiran itu unlimited, otak  yang volumenya terbatas karena tak melebihi ruang yang tersedia dalam tengkorak. Ya, itu maksudku. Menuangkan inspirasi yang tak terhitung jumlahnya. Satuannya pun tak berdimensi.

Masalah brain storming, aku dapatkan disini… Masukan dari berbagai kalangan yang membuat skala berpikirku berkembang semakin luas. When my extrovert found its home, in my blog. Itu sebabnya aku merasa nyaman dengan kebebasan ini. That’s why I love writing, as specially on my blog.

Category: Aku
  • aris says:

    nice blog, tulisan-tulisannya sesuatu banget.hehe..

    November 1, 2012 at 7:07 am
  • ayu emiliandini says:

    aris :

    nice blog, tulisan-tulisannya sesuatu banget.hehe..

    hahahaa thanks a lot for visiting my blog yaah aris…

    November 1, 2012 at 10:24 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is melted ice?