Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Tolong Aku #51

Akan selalu indah. Langit redup biru keabu-abuan. Bukan berarti kelam, terik juga tak demikian. Suhu Kota Bandung tak benar-benar terbakar matahari atau berlembab-lembab ria sehabis hujan. Tidak keduanya. Terkesan damai antara cuaca penguasa alam di atas sana dan penghuni organ hati di dalam sini. Dalam raga. Bersahabat, itu saja.

Braga selalu ramai tapi tetap berdamai dengan suasana pemilik nuansa diri. Toh aku belum terlalu lama menyandarkan seluruh berat tubuhku di kursi nyaman dan payung tedung mengawang, atas kepala.

Sekilas ada yang berayun sambil mendekat. Kufokuskan lagi cekung-cembung lensa dibalik si iris cokelat gelap. Butuh proses transisi jarak pandang sekian inci dengan sekian meter di depan sana. Tanggalkan perhatian sejenak dari buku menu dalam pangkuan meja di hadapanku. Bayangan jatuh tepat di retina. Fokus. Sambil tersenyum dan berayun. Awalnya kukira itu gerakan lunglai, tapi setelah fokus aku paham. Itu ayunan langkah bertenaga yang pernah kulihat. Tiwi, dengan pakaian kantor dan high heels yang selalu berhasil menambah tinggi badannya. Menambah volume tenaga untuk berjalan.

Senyum ini terbit dengan nyamannya. Membalas senyum riang yang berayun mendekat di seberang jalan sana. Senyaman sore santai sehabis urusan kerja. Senyaman Tiwi berjalan dengan sepatu malaikatnya. Aku tak akan bisa berjalan sedemikian rupa. Sebelah lututku tak pernah terlalu sehat untuk langkah bertenaga selain berlari dan jinjit sebentar. Iri? Ya, tapi yah sudahlah. Sudah demikian adanya.

“Hai Rea, sudah lama menunggu?”

Bangkit sebentar. Gerak-gerik Tiwi ingin disambut dengan pelukan kecil dan cium pipi kanan dan kiri. Kemudian duduk lagi.

“Gak sampai 15 menit kok.”

Tak lama datang pelayan dengan pulpen dan catatan kecil sebesar genggaman tangan. Tak ingin buru-buru makan, masih sore. Secangkir hot chocolate untukku dan jasmine tea untuk Tiwi. Selalu seperti itu. Dan hitungan menit dua cangkir dengan cairan hangat di dalamnya tiba. Baguslah, aku tak lagi menunggu lama.

“Tiwi, aku melewatkan sesuatu?”

Aku buka percakapan pertama, namun bukan yang utama untuk hari ini. Tubuhku sedikit condong ke arah lawan bicaraku di depan sana, seberang meja. Aku tahu ada rona kemerangan di wajahnya. Menyeruput jasmine tea yang masih terlampau panas dan beruap seperti alibi untuk sedikit jaga image. Takut ketahuan salah tingkah.

Tiwi tak menemukan alasan yang benar-benar tepat untuk menghalau tatapan dan pertanyaanku. Benar-benar tak paham dengan pemandangan ganjil di hari kejayaanku dengan kostum toga setengah tahun lalu. Chris hadir tanpa pemberitahuanku. Pakaian rapi dan sesuai tema, bukan aji mumpung untuk mendadak datang kan. Pasti sudah diatur untuk datang bersama. Oh mungkin, tapi bisa jadi begitu.

“Hhhmm… Ya ya ya.. Banyak yang berubah selama kamu sibuk dengan tugas akhirmu, Re.”

Masih terus menatapnya. Tiwi semakin malu saja. Semata-mata ingin sembunyi dengan rona merah yang tersipu-sipu. Ini benar-benar membuatku geli. Tiwi terpaksa menunda kalimat berikutnya karena aku sudah terlanjur tertawa terkekeh.

“Jadi perubahan itu hadir saat perhatianku tak tertuju pada objek selain tugas akhir. Ku akui memang begitu. Maaf terlambat, tapi… Hhhmmm.. Selamat ya Tiwi.”

Senyum total sehabis tertawa. Tapi tetap saja aku tak pernah menyangka. Aku mengenal mereka secara terpisah, Chris dan Tiwi. Bagaimana awalnya? Bagaimana prosesnya? Entahlah, aku tak tertarik untuk tahu. Kalau pun aku pantas tahu, dia sendiri yang akan memaparkannya dengan gamblang. Tinggal tunggu saja, aku tak harus bertanya duluan.

Rona karena tersipu dan senyum merekah yang ia tahan agar tak terlihat berlebihan. Ahh iya, sepupuku sedang dilandan virus merah jambu. Ibarat taman, berbunga-bunga.

“Thanks, Rea. Tapi aku rasa kamu gak cuma pengen kasih aku selamat sore-sore santai begini kan.”

Sudah tiba saatnya untuk topik utama. Aku membenarkan posisi dudukku. Lebih tegak untuk santai, padahal sebagian saraf sedikit menegang. Satu tanganku menggapai sebuah kantung kertas di samping kiri kaki kursiku. Menyambar halus dan mendaratkannya di atas meja. Tiwi mengikuti arah datangnya benda ini sampai berhasil sukses mendarat di hadapannya.

Perhatiannya bergeser. Saat sorot mata jatuh tepat di wajahku, tak ada ekspresi yang tergambar jelas. Lekuk wajah kuatur sedatar mungkin. Isi hatiku juga sama tak jelasnya. Hambar tapi penuh dan bercampur. Senyum Tiwi lenyap. Seperti kalah dengan nuansa hampang dari wajahku. Kalah telak.

Tiwi, aku butuh bantuanmu.”

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea
  • dianratnasari says:

    wah rea story udah jauh banget ni…
    wah
    oh ya yg cerita2 aku itu kisah2 nyata yang diplesetin2 gitu,kisah2 temen biasanya..hihihi
    udah lama di netbuk kok ayu…sebelum baca rea..hehehe
    ayo rea nya dibikin novel

    November 5, 2012 at 5:12 am
  • ayu emiliandini says:

    dianratnasari :

    wah rea story udah jauh banget ni…
    wah
    oh ya yg cerita2 aku itu kisah2 nyata yang diplesetin2 gitu,kisah2 temen biasanya..hihihi
    udah lama di netbuk kok ayu…sebelum baca rea..hehehe
    ayo rea nya dibikin novel

    ogitu hahaha kirain terispirasi dari aku (ge-er) ahhahaa,,,

    November 5, 2012 at 7:26 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is that thing with fingers at the end of your arm (one word)?