Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Aku Memutuskan #52

Pernah menghangatkan tubuh dikala kemeja flanel ku sudah kehilangan fungsinya. Tak berdaya. Terlebih lagi kedua telapak tanganku yang sudah sedingin es. Luar biasa dingin udara alun-alun Kota Batu.

Menjuntai, bergantung hebat hingga menenggelamkan lebih dari setengah tubuhku. Saksi bisu atas kekuatanku beralibi dengan seminar bisnis untuk mencapai kedudukannya. Aku tahu itu jauh. Mengantarkan ku pada suhu paling beku. Membekukan sebagian cairan dalam otaknya. Aku masih ingat, matanya berkilat-kilat liar. Mata yang ku kira akan selalu sempurna dengan senyum lebar dan riangnya.

Ini jaket Gery.

Aku tak merasa ada yang ganjil hingga pintu lemari terbuka. Jaket ini terselip cukup dalam. Tak juga terlipat dengan sempurna.

Ini milik Gery.

Terpeleset sejenak dengan visualisasi nanar yang kuciptakan sendiri. DVD player bersama potongan adegan yang kubuat sendiri. Mengenang sesaat. Perbuatanku.

Mulai dari pertemuan aneh di bawah langit gelap bertabur warna-warni kembang api. Pertemua kedua bersama rintik hujan dan awan kelabu di langit Cikole. Ketika ketidaknyamanan mengganjal luar biasa saat Jordan jemput aku di saung angklung, dan Gery melihatnya. Hentakan langkah berat yang berhenti seketika radius terdekat. Menggenggam handy talky masing-masing. Pertemuan ketiga di Semarang. Makan malam singkat dan wallpaper familiar dari handphonenya. Lalu muncul permintaanku atas keberadaannya, berada di tempat yang selalu bisa kutemukan. Entah aku bisa apa tanpanya. Dulu, aku bisa apa. Hingga keberadaan itu meminta. Minta dipertahankan. Meminta dengan paten, aku terlonjak di tempat.

Aku merogoh salah satu kantong yang pernah mengejutkanku dalam kereta saat akan pulang dari Malang. Selembar foto itu masih ada. Singgah dalam diam di sana.

Penglihatanku buram. Sudah kuyakinkan berkali-kali, kacamataku kokoh di posisinya sedari tadi. Bersama perih. Mataku pedih. Tanganku mengeras. Aku menggenggamnya kuat. Aku yang menariknya hingga sejauh ini. Melampaui batas manusiawi. Aku pula yang tak sanggup mempertahankannya. Apa-apaan aku ini?

Berat. Entah kelembaban udara dalam kamar menjadi lebih berat atau dadaku yang sesak. Rahangku mengeras. Aku pikir ini bisa menahan lonjakan produksi air mata. Sepertinya aku gagal. Sebutir, dua butir dan mengalir saja.

Ibarat sebuah kenangan  yang akan selalu tumbuh membesar. Sudah, cukup untuk saat ini. Aku tak ingin jadi terlalu subur. Harus dihentikan. Nutrisinya harus dihentikan. Bukan berarti aku ingin membunuhnya. Tidak. Sejenis air keras yang membuatnya bertahan. Mengawetkan. Kemudian kusimpan rapi di tempatnya mengisi keteraturan dan jadikan percikan warna baru. Terus terang aku tak pernah berusaha mencarinya. Entah selalu merasa aku menemukan hal baru. Sekali lagi aku tak mencari apa pun. Dan kutemukan dalam dirinya. Di dalam Gery.

Kembali pada realita. Warna-warni beserta atmosfir hangat terlalu nyaman untuk beranjak dari sana. Apa lagi pergi dari bilik itu? Itu dia, itu masalahnya. Gery menjadi terlalu bermassa untuk ditinggalkan. Telapak kakiku sempat tersangkut dan sulit pergi. Melepasnya pergi apa lagi.

Kemudian aku sadar. Senyum riangnya mengisi hidupku saat ini. Aku butuh dia sekarang. Masa ini juga. Mari berkutat dengan sebuah pernyataan, tentang tapi. Jordan menjanjikan segala kebutuhanku di masa depan dan selamanya. Jordan menggenggam kehidupanku. Tenang saja, Gery, kamu berhasil menggenggam secuil perhatianku. Sejarah selama aku hidup.

Ini punya Gery. Harus kembali padanya. Bukan padaku. Sebuah nama terselip dalam ide baru yang akan kujadikan rencana. Agenda. Salah satu saksi yang selama ini menyaksikan sebongkah cerita cinta aneh. Ceritaku.

Cepat-cepat kulihat rapi dan kuselipkan dalam kantong kertas.

Gumpalan akan suatu hal mengeras dalam diriku. Tekadku. Tak ingin ada lagi cerita. Aku mohon Gery, tetap disana dan diam.

Satu tanganku menyambar handphone di atas meja. Andai benda mati dapat protes, kali ini pasti tersentak luar biasa. Menyambar cepat bersama dengan kilat.

“Hai Tiwi, aku punya ide bagus. Santai  di Braga sore ini bagaimana?”

Message sent

Aku rasa tak terlalu sulit mendapatkan info keberadaannya. Chris nampak sangat menjaga hubungan baiknya dengan Gery dan hubungan sangat baik dengan Tiwi. Dengan Tiwi, setelah aku sendiri yang melihatnya di hari kejayaanku dengan bongkahan kebahagiaan bersama seragam toga dan flat shoes. Semoga ini bisa membantu.

Untukmu Gery. Jangan lakukan apa pun. Jangan. Tetap disana dan aku akan mempertahankanmu disini. Bukan fisikmu, bukan hatimu, bukan… Mempertahankan keindahan dan memori indah denganmu.

Sesegera mungkin kedua tanganku mengusap bekas air mata berlalu dan berlabuh di persimpangan dagu. Persetan dengan orang-orang yang siap menghujat karena mataku merah. Untuk tak sampai sembab.

Perhatikan lagi penampilanku. Touch up sana-sini. Sepasang bola mata, masih sedikit berwarna selain putih. Berharap old style milik ayah mampu menyelamatkanku.

Sesuai dengan kodratnya, cermin akan memantulkan segala bayangan benda yang ada dihadapannya, selama masih ada cahaya. Aku tak memutar kepala. Dari cermin, setumpuk undangan yang akan membuatku, bunda, om Anggara, Tante Arina dan Jordan cukup sibuk. Undangan pernikahanku.

***

“Aku bisa bantu apa, Re?”

Sudah kuduga ini pertanyaan perdana setelah kantung kertas ini mendarat di atas meja, di hadapan Tiwi, sekaligus merombak atmosfir diantara kami berdua. Dari semula sangat damai dan santai. Sejauh aku mengenal sepupu yang satu ini. Aku yakin dia paham. Bertanya bukan karena apa-apa. Hanya ragu.

“Kamu gak harus melakukannya sendiri, Tiwi. Aku paham keberadaan Chris akan sangat membantu”

Mengejutkan. Perlahan tapi pasti, bibirnya tersimpul senyum. Senyum Tiwi. Aku paham artinya. Sebagian saraf dalam tubuhku merespon. Ikut tersenyum. Ditambah lagi, kedua tangan Tiwi kini menggapai si kantung kertas yang mendekap dalam pangkuannya.

“Aku akui, Rea. Selama ini aku terlalu khawatir. Seolah-olah kamu lemah dan bisa ambruk kapan aja.”

Senyumku semakin mengembang. Mekar. Aku juga mengakui kelembutanmu, Tiwi. Siapa yang tak ingin mencintaimu kalau sifat ibu peri yang satu ini hinggap dalam karaktermu. Mungkin ini yang membuat Chris mengangaapnya spesial. Aku berani taruhan.

“Dan kamu selalu benar. Kamu gak pantes dikhawatirkan, Re”

Gelak tawa renyah menggema. Kata-katanya mengingatkan ku. Aku punya kekuatan. Hanya saja sering lupa. Dan Tiwi selalu hadir untuk mengingatkan. Aku kuat. Aku wanita kuat. Ayah juga pernah bilang demikian. Walau aku sempat menangis. Memang bukan solusi dari sebuah masalah. Itu lah kekuatan wanita. Aku akan semakin kuat setelah beban air mata sudah tumpah keluar.

“Jadi, kamu sudah memilih, Re?”

“Dari segi realita dimana aku hanya akan hidup dengan seorang pendamping, bisa jadi.”

Senyumnya masih manis bergelantungan di wajah Tiwi. Tapi dahinya berkerut. Berkerut dalam senyum. Ekspresi seperti, menanti terusan kalimat. Memang kalimatku belum selesai sepenuhnya.

“Gery bagian dari hidupku. Hanya saja, aku memutuskan untuk tidak membiarkannya mengubah sejarah dan masa depanku. Bisa dibilang, aku punya cara lain untuk tetap mempertahankannya. Not phisicly, exactly.”

Dahinya kembali mulus. Kerutnya sirna. Hebat. Aku pikir wajahnya akan berubah dratis, ternyata memang berubah. Senyumnya semakin merekah.

“Apa pun itu, Re. Semua solusi dan jalan keluar dari masalah ini ada di tanganmu.”

“Dan benar-benar ada di tanganku”

Selang beberapa detik, sebuah tepukan mendarat di lengan kananku. Kemudian tepukan kedua lebih keras, tangan Tiwi mengepal. Lengan kananku mendadak dihujani pukulan dari kepalan tangan Tiwi. Aku tetap kokoh dengan posisi tegak. Aku paham apa maksudnya. Alih-alih marah karena kesakitan.

“See, aku memang kuat, Tiwi.”

Gelak tawa kami semakin menggelegar dan perhatian manusia-manusia radius kurang dari 5 meter menghujam sorot sinis pada kami. Sepasang sepupu yang membuat keributan di sore hari.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 2 times 3?