Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Kebahagiaan Untuk Rea #53

Kalau menjelang sore udara masih cukup hangat, kini sudah jadi hawa yang siap membekukan apa saja. Angin, masih tergolong udara, hanya saja bergerak. Menemukan jendela dalam keadaan terbuka. Melintas saja. Ibarat dipersilahkan mampir dengan daun jendela terbuka, merekah lebar.

Terlalu fokus. Sebagian jari-jari tangannya sibuk dengan atraksi di atas key board dan satu tangannya selalu berpindah-pindah. Tangan kanannya. Dari key board lompat indah ke atas mouse kemudian tersauk-sauk berat kembali berdendang dengan belasan tombol key board. Lensa mata dibalik irisnya juga sibuk mengembang dan mengempis. Belum lagi harus menyesuaikan diri dengan bola mata yang seirama dengan gerakan sang jari penari. Deadline perencanaan perpipaan sebuah perkantoran harus ia selesaikan. Tak terlalu sulit. Perhitungan sudah dikhatamkan jauh-jauh hari. Tinggal tipical layout beberapa lantai dan skema si pipa itu sendiri.

Bahkan Gery tak sempat menyadari kehadiran angin sejuk yang terlampau dingin dari jendela kamarnya. Saraf di balik kulitnya ikut berpikir, bagaimana caranya berkas autoCAD ini bisa selesai dalam semalam. Seperti pepatah kuno, siapa suruh jadi sarjana teknik lingkungan yang haus akan proyek pembangunan.

Menjadi tamu yang tak diundang ternyata membuat para angin merasa tak disambut kehadirannya. Teruslah melintas, menghantam gorden jendela hingga terlihat seolah-olah menari. Padahal ditabarak saja dengan sengaja.

Gemericik gorden dengan pangkal porosnya ternyata berisik. Berhasil. Seluruh fokus di setiap ujung tubuh Gery kembali pada empunya. Termasuk kulit, kembali pada tempatnya. Barulah sebagian permukaan kulit Gery berkerut sedikit. Merespon perbedaan suhu antara ruangan dengan tamu tak kasat mata yang melintas dari jendela.

Bangkitlah dia dari peraduannya, diatas kursi yang terlalu empuk. Saat berdiri, baru terasa, punggungnya cukup kaku. Sudah terlalu lama duduk di depan leptop ternyata. Baru sadar.

Sadar sang pemilik ruang datang menghampiri, walau tak tahu apa yang berkutat dalam pikirannya, makin jadi saja gorden berkibar. Benar adanya, Gery mendekat untuk menggubris sang tamu tak diundang. Berhenti langkahnya di hadapan jendela kamar. Ibarat laser, sorot matanya menembak jauh ke atas sana. Pantesan udara mulai dingin, ternyata sudah malam.

Dari atas jatuh ke bawah. Awalnya tak ada niat untuk menjatuhkan pandangan mata. Selain angin, nampaknya akan datang lagi tamu. Raungan mesin mobil semakin membesar dari awalnya hanya seutas suara selewat. Semakin jelas dan ternyata berhenti tepat di pekarangan. Pandangan jatuh hingge Gery sedikit menunduk. Kamarnya di lantai atas.

Kedua matanya masih menatap atap sedan hitam, sudah terparkir dengan rapi. Seorang laki-laki keluar dari pintu pengemudi. Sontak kerut tebal menarik sebagian kulit dahinya. Sesekali sambil mengingat kapan terakhir kali ia bertemu lelaki itu. Hitungan detik, seorang perempuan keluar dari pintu depan. Makin jadi saja kerutan di dahi Gery. Tak pernah sekali pun ia merasa familiar. Mereka keluar dan berjalan menuju pintu utama.

“Chris?”

***

Pintu utama terbuka.

“Hai Gery, lama tak berjumpa.”

“Hei Chris. Kejutan, tiba-tiba kamu ada di Malang.”

Sesuai dengan terkaan awal, benar adanya Chris yang datang bertamu. Pelukan khas lelaki bersama dengan tepukan pelan di sekitar bahu. Kemudian pelukan melonggar. Bukan lagi Chirs yang menjadi perhatian sepasang bola mata Gery, tapi seorang perempuan di belakang sana. Sambil tersenyum ramah dan sebuah paper goody bag ditangannya.

“Well, sebelum kamu kenalkan siapa wanita ini, sebaiknya kalian masuk dulu. Diluar lumayan dingin.”

Chris dan seorang perempuan bersamanya, benar-benar tamu berenergi positif. Rasa linu di berbagai persendian setelah duduk berjam-jam di depan leptop hilang entah kemana perginya. Anggap saja refreshing sejenak sebelum kembali pada deadline dan jutaan garis dalam autoCAD.

Masih senyum merekah di wajah Chris dan sekali anggukan kemudian kedua tamu ini masuk dalam ruang tamu. Mendaratkan lagi tubuh mereka di atas sofa walau sebelumnya mereka sudah duduk di atas jock mobil.

Chris dan wanitanya lebih dulu duduk, kemudia Gery mengikuti. Duduk menyerong, seolah-olah duduk untuk menghadap mereka, sang tamu.

“Kalian mau minum apa?”

“Gak usah Ger. Kami cuma sebentar kok.”

“Okey”

Sebenarnya kondisi seperti ini rawan akan awkward . Kawan lama yang bertemu lagi namun ada satu orang asing ikut bersama mereka. Asing bagi Gery. Sesekali Gery melirik wanita ini. Tetap saja tak pernah terlintas dalam ingatannya, benar-benar tak pernah bertemu atau sekedar melihat di suatu tempat. Melihat sorot mata santai dari wanita ini, nampak ia sudah mengenali Gery. Chris menyadari si tuan rumah, mengamati Tiwi, memicingkan mata untuk mengamati.

Akhirnya wanita ini membenarkan posisi duduknya. Sebentar lagi akan bicara. Bagus. Minimal Gery tak harus terus bermain kuis tebak-tebak berhadiah.

“Namaku Tiwi. Kita memang belum pernah ketemu tapi aku pernah menghubungimu lewat pesan singkat. Aku sepupunya Rea. Aku yang kirim kabar tentang keberadaan Rea saat itu.”

Rea. Sebuah nama yang selalu membuat salah satu organ tubuhnya tak lagi sekedar berdenyut atau berdetak. Kenangan akan segala yang indah hingga yang paling menyesakkan. Sesak saat kereta membawa si pemilik nama pergi sebelum sempat ia hadang. Membawa Rea pergi tanpa menjawab permintaanya.

Tak ada senyum atau bentuk ramah tamah. Tidak perlu. Gery hanya berusaha mengatur nafas dan emosinya. Berusaha tenang.

“Ya, aku ingat.”

Lidahnya Gery sudah terlalu kelu namun ia harus keluarkan sepatah kata. Minimal lawan bicaranya merasa dihargai, perkataannya didengar dan direspon.

“Aku hanya ingin mengantar ini.”

Paper goody bag yang sedari tadi berada dalam dekapan Tiwi kini berpindah ke tangan Gery. Sejauh pengamatan Gery, kantung ini terlihat penuh, agak gembung. Mendarat dengan baik di tangan Gery. Penuh namun ringan. Apa ini? Belum sempat tangannya bergerak masuk ke dalam kantung, Tiwi berkata lagi. Lidah Gery kelu lagi. Lebih kelu dari sebelumnya.

“Rea yang memintaku”

Sontak kepala Gery berputar ke atas. Dari dalam kantung bergeser ke wajah Tiwi. Tak perlu lagi berusaha kuat. Berkata barang berbisik pun Gery sudah tak sanggup. Memandang wajah Tiwi lekat-lekat. Tak sepenuhnya memandang karena bayangan Rea lah yang melayang-layang dalam titik retinanya.

***

Sayup-sayup suara mesin mobil meraung. Semakin tipis dan seketika hilang begitu saja. Gery sudah kembali dalam kamarnya. Kamar sudah jadi dingin. Angin dingin sudah menguasai lekuk sudut ruangan. Paper goody bag berdiri saja di atas meja kerjanya. Agak jauh dari leptopnya.

Pelan-pelan tangan kanannya merogoh masuk dalam kantung. Meraba permukaan benda yang menggembung dalam kantung. Otot tangan Gery mereda dari tegang. Kenal dengan barang tersebut. Masih pelan-pelan juga ia keluarkan jaket tebalnya.

Seperti terpeleset kemudian jatuh dalam lubang waktu. Langit hitang berhias kembang api berwarna. Berteriak dengan lantangnya saat gadis pengusik hatinya hendak terjun dalam rappeling. Terusik hatinya saat seorang lelaki berkacamata menjemput Rea di saung angklung. Alibi ingin memeluk saat Rea jalan terhuyung-huyung hampir pingsan di bawah langit Kudus. Hingga ekspresi Rea yang ketakutan dalam tatapannya yang berkilat.

Semua saling berkecamuk, tubuhnya melemah. Datang angin malam berhembus dari jendela. Tubuhnya sudah lemah, terdorong dan mundur. Mundur kemudian jatuh terduduk di atas kasur. Ia bentangkan jaket hingga terbebas dari lipatan. Baru ingat kalau jaket ini pernah terbawa.

Dari kerah hingga bagian terbawah. Tak ada yang rusak, masih sama seperti saat ia mendaratkan jaket ini di atas bahu mungil Rea. Tapi ada yang berbeda. Penglihatannya menjatuhkan fokus kesana. Sesuatu mencuat dari dalam kantong.

Terbuat dari kertas dan berkilau. Bukan benda berbahasa semacam bom. Tapi seisi hati Gery sudah meledak. Berantakan. Cemas, takut, galau, kacau dan semacamnya, sudah berserakan. Jadi ini jawabanmu, Re. Kamu memilih dia? Bagaimana dengan aku?

Ingin menggenggam hingga kertas undangan jadi sehancur hatinya. Sayang, tenaganya sudah habis. Tetap saja memaksa untuk membaca semuanya. Jordanio Pratama dan Reanita Abraham. Kereta itu sudah membawamu sampai sejauh ini, Re? Menungguku tak jauh lebih baik?

Angin berhembus lagi. Memutar kepala Gery hingga menatap sebuah foto terbingkai manis diatas meja mini di sisi kasur. Berdiri bersama lampu tidur. Foto yang membawanya menjadi lelaki emosional. Lantara Rea sudah ada yang menggenggam.

Foto yang mengabadikan senyum lebar Rea.

Ingin meledak lagi tapi sudah terlampau ringkih. Nafas juga sudah tersengal-sengal sejak tadi. Sambil terus menatap Rea di permukaan kertas glossy.

Akan ku coba. Aku bertanya dan inilah jawabannya. Janji padaku satu hal, Rea. Kamu harus bahagia.

Pertama dalam hidupnya. Gery harus mengalah.

Category: Cerita Rea
  • fuad says:

    better!

    November 7, 2012 at 8:17 pm
  • ayu emiliandini says:

    fuad :

    better!

    yes!!!

    November 8, 2012 at 9:55 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 7 * 5?