Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Memilih? Ini Bukan Masalah Pilihan #54

Ibarat berlian. Permukaannya selalu berkilau ketika cahaya datang menimpa. Berkilau. Cahaya datang, hampiri permukaannya dan pergi lagi. Memantul bersama bias warna lain selain warna tampak. Merah, hijau, nila, ungu. Membias walau hanya berlian transparan.

Sebentar lagi aku akan menjelma. Aku akan berkilau diantara yang lain. Diantara tamu undangan yang sengaja hadir dengan hiasan indah di tubuh mereka. Make up, dress cantik, dan jas gagah. Tenang saja, aku pasti akan tetap berkilau. Aku berani jamin berkilau bukan berarti menyilaukan. Aku hanya berkilau indah. Memicu doa bahagia bagi siapapun yang melihat.

Aku sedikit gugup. Beberapa kali aku meremas telapak tanganku sendiri. Sedikit berkeringat. Jangan sampai wajahku yang berkeringat atau segala tata rias gagal membuatku berkilau.

Yang duduk disana. Di depan cermin, sebelah sana. Bukan cermin ajaib, hanya saja cermin pada dasarnya sesalu jujur selama permukaannya datar. Permukaannya rata. Bukan cekung atau cembung. Aku sudah periksa berkali-kali, permukaan cermin ini rata.

Aku bersama gaun indahku. Gaun putih. Aku menyebutnya gaun indah, seindah pernikahan, seindah kebahagiaan, seindah janji sehidup semati.

Rambutku sudah semakin panjang. Saat dirias aku tak banyak menuntut. Bagaimana pun bentuk rambutku, hair stylist tahu benar gaya yang dibutuhkan oleh bentuk wajahku. Intinya satu, rambutku tidak boleh menghalangi kacamataku. Demi apapun, old style harus mendampingiku. Seperti yang telah ia lakukan, mendampingi ayahku diberbagai kondisi. Kini kondisinya aku akan menjadi istri. Menjadi reinkarnasi yang mendekati sempurna. Semakin mendekati sempurna.

Aku juga tak kenakan bulu mata palsu. Aku tak ingin kacamataku kotor karena maskara. Toh kecantikanku bukan bersumber dari bulu mata palsu dan maskara. Mataku lebar. Cukup bermain denganĀ eye shadow dan ia akan menonjol dengan sendirinya.

Masih memandang lurus kedepan. Bayanganku yang juga menatap balik. Untaian mutiara putih bergantung di leherku. Sangat cocok dengan gaunku. Sama indahnya. Sama berkilaunya. Tapi aku resah. Bukan karena tak nyaman, aku ingin menghadirkan yang lain. Sedikit menunduk dan kedua tanganku melepaskan pengait si mutiara. Kutanggalkan saja tanpa rasa bersalah. Kugapai si bintang kecil. Berlian bintang. Terlihat lebih kosong tapi resahku hilang. Seperti kenangan Gery. Akan kujaga dan tetap menjadi sebagian sejarah dalam perjalanan hidupku. Termasuk perjalananku menuju altar. Sebentar lagi.

Seseorang datang. Seorang saja. Hentakan langkah yang kudengar memang hanya sepasang kaki saja. Langkah pelan, berat, namun pasti. Kemudian sosoknya hadir dari balik pintu ruang pengantin. Om Anggara. Ayah Jordan.

Nampak hebat dengan jas hitam dan kemeja putih di dalamnya. Rangkaian bunga mungil mencuat lembut dari kantung jasnya. Mungkin aku sudah jadi berlian mulia. Menularkan kilau kepada siapapun yang mendekat. Sosok paruh baya yang sebentar lagi akan jadi ayahku, wajahnya secerah langit pagi ini. Jendela ruang rias terbuka jadi aku sempat melirik sebentar.

Satu tangannya terbuka bersama senyum bahagia lahir batin dalam wajah senjanya. Merekah cemerlang. Tangan kiriku menyambut bucket di atas meja dan tangan kananku menyambut tangan Om Anggra. Sesuai dengan permintaan beliau. Dialah yang akan mengantarkanku sampai altar. Alasannya sederhana, beliau ingin memastikan langkahku akan baik-baik saja. Gaun pengantin ini cukup berat dan harus berjalan dengan beban ini.

“Om Anggara tenang aja, lututku sudah kuat. Berjalan pun sudah jauh lebih seimbang.”

Semakin cerahlah wajah mertuaku ini. Mertuaku sesaat lagi.

***

Semua pasang mata tertuju padaku. Hampir seluruhnya tersenyum. Aku melihat aura bahagia sambil berdoa akan kebahagiaan itu. Berjalan lambat, menyesuaikan alunan mini orchestra jauh di samping kiri altar.

Seorang diantaranya adalah Chris bersama biola di bahunya. Bahkan aku baru tahu dia lihai dengan alat musik itu. Pasti Tiwi terpesona dengan penampilan kekasihnya. Ya, tentu saja. Itu salah satu alasan mengapa Tiwi duduk dekat sekali dengan posisiĀ mini orchestra. Namun untuk sejenak Tiwi melayangkan pandangannya ke arahku. Tangannya melambai kecil. Berharap aku melihatnya. Aku menatapnya dengan senyum jujur dari hati yang paling dalam. Senyum bahagia bercampur sedikit gugup.

Langit biru cerah, awan putih megah, senyum bahagia dari puluhan saksi mata atas hari sakralku, langkah mengayun anggun, genggaman calon mentuaku yang luar biasa lembut dan pangeran tampan yang menungguku di depan sana. Setuju bila aku tak berkilau sendiri. Aku berkilau bersamanya. Bersama Jordan. Bersamanya. Untuk selamanya.

***

“Hei Gery jadi berangkat observasi lapangan kan?”

Salah sendiri tak menutup rapat pintu ruang kerja. Memang tidak harus mengunci atau gantungkan saja dengan gembok. Atau memang dasar teman sekantornya yang tak tahu diri, tiba-tiba muncul dari balik pintu. Muncul pun hanya sebagian tubuhnya saja yang sekedar condong kemudian sisanya begelayutan di bingkai pintu. Alih-alih marah, Gery justru berterima kasih dalam batinnya. Seperti reminder berbunyi. Berkutat dengan lembaran perencanaan pipa membuatnya amnesia sesaat. Hampir amnesia dengan janji observasi.

“Ohya, tentu. Sekarang juga kita bisa berangkat.”

Masih dalam posisi duduk di meja kursi kerjanya tapi kepala Gery sudah berputar dan dalam pandangannya adalah si lawan bicara. Lawan bicara yang sedikit bergelayutan di bingkai pintu.

“Kalau begitu aku juga akan siap-siap. Kita bertemu di loby, okay?”

“Okay.”

Menyanggupi dengan pasti. Belasan lembaran autoCAD ia tepuk-tepuk satu sisinya dengan permukaan meja agar tumpukan kembali rapi. Rapi, tak ada yang mencuat dan mengganggu. Memasukkan beberapa perintilan ke dalam tas ranselnya. Lembaran layout, handphone, table pc. Sesekali sedikit berputar seisi meja mencari kunci mobil sambil memasukkan satu per satu tangannya ke dalam jaket. Bukan jas seperti manusia kantoran pada umumnya. Gery kenakan coat yang pernah berbulan-bulan singgah di Kota nun jauh disana. Bandung.

Oya, kunci mobil di dalam laci. Selesai membuka laci, Gery hanya terpaku. Bukan kaku bak patung peraga dalam etalase toko pakaian. Terdiam saja. Kunci mobil benar adanya, Gery justru menggapai kertas berkilau yang ia terima bersamaan dengan kepulangan jaketnya. Kertas terlipat rapi, tercantum nama seorang wanita dan pilihan hidupnya. Tersentak lagi, tubuh melemah lagi. Sudah seperti penyakit bawaan medis, ada kalanya kambuh. Lemah menopang berat tubuhnya. Mundur sedikit dan bersandar di dinding.

Tersengal-sengal lagi. Sudah ia tetapkan hatinya untuk mengalah. Mengalah saja seperti sanggup yang bersyarat. Tak semudah membalik telapak tangan.

Kedua matanya tetap dipaksa untuk membuka lagi lipatan undangan pernikaan Rea. Deretan tanggal di dalamnya. Tanggal hari ini. Hari ini Rea membiarkan diri digenggam lebih dalam. Tragis. Tangan itu bukan miliknya.

Paham akan tusukan dramatis setiap kali mengeja dua nama anak manusia dalam undangan tersebut. Gery perhatikan saja sekeliling undangan itu. Warna putih dan sedikit paduan silver. Sesekali ada bagian yang berkilau dan sablon berbentuk bintang. Rata-rata bintang yang berkilau berukuran tidak lebih besar dari kuku jari kelingking. Terkesan mungil.

Bintang kecil? Berkilau?

Hembusan angin surgawi menerpa. Entah dari mana asalnya, tak ada jendela dalam ruang kerja. Sejuk juga dari AC, sejuk palsu. Gery berani bersumpah, tenaganya terisi. Pelan-pelan pulih. Didorong tubuhnya, tak lagi bersandar. Berdiri lagi dengan kedua kakinya.

Satu telunjuk meraba bagian bintang kecil yang berkilau. Sejauh yang ia ingat, sama seperti bintang kemilau yang ia persembahkan untuk hadiah ulang tahun Rea yang ke 21.

Tenaga yang mulai berangsur pulih ternyata sudah sampai pada saraf wajahnya. Pelan-pelan senyum tipis terbit. Entah mengapa aku yakin, kamu tak benar-benar memilih, Re.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 9 * 2?