Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Menjenguk #55

Meninggalkan bunda, ia akan sendiri. Siapa tega? Walau saat aku dan Jordan menyatakan siap hidup bersama di atas altar, aku tahu, bunda berat melepaskanku. Aku? Tak pernah terpikirkan untuk terlepas saja dari rona hangatnya. Kalau selama ini aku lah satu-satunya alasan mengapa bunda tak ingin menikah lagi, karena segala hal tentang ayah tertanam dan tumbuh dengan baik dalam diriku. Kini segala hal tentang ayah tak akan menemani hari-harinya. Aku menemukan konflik baru.

Jordan paham. Aku juga tak ingin membiarkannya mengalah untuk ku. Aku tak ingin dimanja. Dan benar saja. Suatu ketika Jordan hadir dan memberikan sebuah kunci. Aku pikir mobil tapi itu mustahil, Jordan tak akan membiarkan aku menyetir sendiri. Apa pun kondisinya, ia selalu ingin mengantar. Toh lutut ini tak berdaya untuk menginjak pedal. Ironis.

Sebuah kunci rumah. Ternyata rumah di samping rumahku bersama bunda, direncanakan akan kosong. Pemiliknya akan pindah. Belum sempat plang “rumah dijual” bergantung di pagarnya, Jordan sudah melunasi segala urusan transaksi. Aku tak diizinkan untuk paham. Jordan datang dan sebuah rumah sudah siap meneduhkan kami berdua. Hadiah pernikahan.

Tetap bisa hidup bersama dan tak harus meninggalkan bunda. Terima kasih Jordan. Waktu itu aku tak sempat bicara banyak. Sibuk menenangkan emosi. Mengendalikan bahagia yang membeludak dengan sendirinya. Jordan hanya bentangkan tubuh dan aku seperti makhluk kecil diantara selimut raksasa. Tenggelam disana. Jordan sama bahagia, terasa saat aku memeluknya.

Masih terasa hingga kini. Sudah bulan ketiga kami menempati rumah baru. Tak terlalu banyak perabotan, memang aku yang minta. Penuhi saja bagian dapur dan kamar utama, selebihnya menyusul. Toh segala urusan rumah, Jordan menyerahkan segalanya padaku. Untuk seorang arsitektur, aku paham apa yang harus aku lakukan.

Pagi ini tepatnya bulan ketiga itu tiba. Pagi sebelum segala aktifitas dimulai. Aku bersama kantor konsultan, Jordan bersama suster dan pasien yang akan selalu memanggil namanya. Tak jarang Jordan harus bolak-balik dari ruangan pasien satu ke ruang lainnya. Bolak-balik ruang bedah pun sudah seperti rutinitas pergi ke toilet dalam sehari. Itu nanti, akan menyita perhatian kami setelah sarapan pagi. Di meja makan bundar. Meja pilihanku. Duduk berhadapan.

Aku yang buat. Nasi goreng dengan berbagai toping. Irisan daging ayam, kacang polong, dan beberapa potongan telur dadar. Enak. Ini adalah piring kedua untuk Jordan. Aku sudah cukup kenyang, jadi aku diam dengan sendok – garpu telungkup di atas piring. Jordan masih mengunyah.

Kecepatan rahangnya mengunyah benar-benar konstan. Setiap pagi atau apapun masakan yang kubuat, Jordan selalu terlihat lapar. Menyenangkan, masakanku memang seenak bunda. Percaya diri aku akui itu. Tapi perlahan kecepatannya berkurang. Lama-kelamaan berhenti saat kedua mata tak terlalu lebar dari balik kacamatanya menatapku datar. Kemudian dahinya berkerut. Aku memang menunggunya sampai bulir nasi goreng lenyap sempurna dari piring. Nampaknya aku tak harus menunggu. Jordan yang menungguku bicara.

“Sebelum pergi ke kantor, aku ingin pergi ke suatu tempat.”

Masih menggenggam sendok dan garpu. Melayang tanggung di atas piring, tangan Jordan berhenti mendulang ketika aku bicara. Kulit di sekitar dahi melonggar, kerutan seketika lenyap. Seutas senyum terukir disana. Lebih mirip senyum lega. Mungkin yang aku ucapkan tak seburuk yang ia pikirkan. Jadi lega saja.

“Aku juga gak lagi buru-buru.”

“Thank you honey”

Percakapan berakhir dan Jordan mengunyah lagi. Sampai habis.

***

Langit Bandung masih teduh. Bagiku belum terlalu cerah atau terlewat riang dikala siang datang dan matahari seperti kokoh memimpin tepat di atas kepala. Birunya masih sendu. Atau kaca film yang melapisi jendela mobil sedikit mengecoh. Tapi bisa jadi. Seperti efek lebih kelam.

Satu dari panca inderaku punya persembahan baru. Wewangian datang dari pemiliknya. Seikat bunga lily serta berbagai jenis bunga, dalam dekapanku. Aku tak pernah begitu paham masalah tumbuhan bermahkota dan beraroma. Yang kutahu mereka selalu indah dan menyenangkan. Bagiku keindahan tak hanya untuk melambangkan wanita. Ayahku juga indah. Dan akan wangi bersama bunga pagi ini. Seantero mobil mewangi. Jordan juga suka. Ia mengendalikan stirnya sambil tersenyum. tersenyum sama sepertiku.

***

Rasanya ingin berlari, ingin secepatnya sampai. Dulu mungkin masih bisa, waktu masih bocah dan lututku belum banyak cedera. Tak perlu berlari pun akan tetap sampai, hanya lebih lambat, itu saja. Kalau seandainya sekarang aku semangat berlarian, tak ingin membangunkan yang lain. Yang sedang beristirahat. Istirahat dalam damai.

Langkah pelan bersama Jordan. Satu tangannya melingkari pinggangku. Lebih mirip bersiaga. Permukaan tanah sedikit terjal karena berbagai bongkangan batu beradu dengan tanah tak rata. Aku bisa jatuh tersandung kapan aja. Mungkin Jordan sedang mencegah itu.

Aku masih mendekap rangkaian bunga berbagai warna cerah nan wangi. Sepertinya sekujur tubuh sudah sewangi bunga. Aku bisa rasakan aromanya.

Sudah hampir dekat. Dekat dengan tempat peristirahatan ayah. Nampaknya ayah sedang ada tamu. Seorang lelaki. Ia membelakangi, sepertinya sudah paruh baya. Sebagian rambutnya berkilau sendiri seperti perak.

Tak mengindahkan tamu ayah pagi ini. Aku dan Jordan tetap melangkah. Seperti sedang saling bertanya kabar. Tamu ayah nampak santai bersama kemeja rapi dan sepatu cokelat mengkilat.

Jordan melepaskan pinggangku dan mendekati tamu ayah yang sudah sangat ia kenal. Mendaratkan satu tangannya di atas bahu sang tamu. Aku juga ikut mendekat tapi aku memilih berdiri di sisi ayah yang lain. Jadi aku berdiri berhadapan dengan Jordan dan tamu ayah. Tamu yang diam-diam sudah menggenggam sapu tangan dan sebagian matanya sedikit sembab. Ternyata tak sesantai dari yang ku duga.

Hai ayah. Selamat pagi. Pagi yang cerah. Aku bawakan rangkaian bunga untukmu. Wanginya bunga sudah seperti aroma therapy, mampu menenangkan hati. Jadi ayah bisa relax seperti aku saat ini. Aku sudah menghirup aroma wanginya selama perjalanan kesini.

Ayah. Tenanglah di sisi Tuhan. Tak ada yang menandingi teduhnya pelukan Tuhan. Tak perlu khawatirkan aku. Kini aku berada disekeliling orang-orang yang mencintaimu. Aku pula berada dibawah teduhnya kasih sayang sahabat baikmu. Ya, perkenalkan Jordanio suamiku, anakmu juga. Dan ayahku, Anggara Pratama. Tak keberatan kalau aku juga memanggilnya ayah kan? Sebuah pengakuan kuat, kau tetap ayah terhebat yang tak tergantikan.

Tak perlu khawatirkan bunda. Aku memang akan hidup dengan Jordan, tapi rumah kami masih berdampingan. Kapan saja aku bisa peluk bunda. Jadi, tenang saja ya, ayah.

Daya tarik saraf wajahku menarik sudut-sudut bibirku untuk tersenyum. Sangat nyaman berbicara seperti ini dengan ayah. Walau hanya batu nisan yang tertulis namanya disana, aku yakin ia mendengarku dengan baik.

Sebuah belaian lembut dari ubun-ubun hingga tengkuk. Mengikuti alur rambutku yang lurus dan panjang melewati bahu. Saat kepalaku berputar, Ayah anggara sudah disampingku. Kini aku harus terbiasa memanggilnya ayah. Itu tangannya yang membelai rambutku.

“Antoni, istirahat saja dengan baik dan titipkan Rea pada anakku, Jordan. Sudah saatnya kau percaya pada menantu.”

Satu tangan Jordan menepuk-nepuk salah satu bahu ayahnya sambil tersenyum. Senyum lebar seperti sedang menghabiskan sisa tawa sehabis terbahak. Bukan tempatnya tertawa terbahak-bahak disini. Jordan tertawa terkekeh dan masih menepuk bahu ayahnya. Menepuk sambil berjanji pada mendiang ayahku.

“Serahkan semuanya padaku.”

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 5 plus 5?