Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Arsitek Hebat #56

Sesekali meremas telapak tangan kanan. Kalau sudah bosan tangan kiri yang jadi korban berikutnya. Kedua telapak tangan sudah jenuh. Keringat dingin, indikator kejenuhan. Berubah gerakan, sekarang jadi seperti berada di peraduan Bandung dalam hawa beku dataran tinggi Lembang. Mengusap satu sama lain sampai hangat. Telapak tangan kanan dan kiri beradu kemudian panas dengan sendirinya. Gesekan antar kulit yang disengaja. Tapi pemilik kedua tangan tak sedang di belantara dinginnya Lembang. Bukan.

Duduk saja seperti terpaku. Mematung. Patung yang bergerak. Tangan saja yang bergerak begini-begitu. Terakhir kali gaya menggesek agar memperoleh rona hangat, walau tak sedang kedinginan.

Sesekali melirik pemandangan kelabu di luar jendela ruang kerja dosen wali. Ini akhir tahun. Bandung berhujan sedari awal bulan. Orang-orang biasa menyebutnya novemberain, november and rain. Tak juga menarik untuk tetap melirik kesana.

“Jadi ini adalah perwalianmu yang terakhir, nak Arya?”

Bersuara juga akhirnya. Tak paham juga apa yang sebenarnya sedang ia koreksi. Ia, beliau, sang dosen wali. Cukup senja dengan helai rambut keabu-abuan. Dominan perak karena uban. Kacamata baca selalu mendampinginya setiap kali membaca. Termasuk membaca barkot perwalian. Barkot kosong. Benar-benar kosong tetapi butuh waktu beberapa menit hanya untuk meresapi barkot hampa.

Tapi toh tetap saja ujung-ujungnya bertanya untuk menerka.

“Maksud Pak Marwan?”

Sang mahasiswa tersentak. Tangannya berhenti bergerak begini-begitu. Diam. Mencengkram lutut masing-masing dengan telapak tangan lembab. Keringat dingin. Sekalinya berbicara ternyata kalimatnya cukup mengejutkan. Ada istilah terakhir di sana. Dalam kalimat Pak Marwan.

Saat membaca barkot kosong, Pak Marwan menggapai salah satu pulpen. Membuka tutup kepalanya dan menggenggam saja badan pulpen. Ditangan kanannya ada pulpen dan secarik barkot perwalian. Masih perwalian kosong. Selang waktu berlalu, kertas barkot mendarat cantik di atas meja. Melenggang tanpa bekas lekuk. Badan pulpen kembali tergeletak di atas meja. Tidak dengan tutupnya. Bertelanjang kepala saja di sisi barkot.

Tangan sang dosen wali kosong melompong jadi leluasa untuk membuat sebuah simpul dari sepuluh jemarinya. Siap untuk berdiskusi dengan sang mahasiswa. Mahasiswa tingkat akhirnya dihadapannya. Mahasiswa bimbang.

“Apa lagi yang akan kamu lakukan, nak? Semua matakuliah di jurusan ini sudah kamu selesaikan semua. Tinggal ambil saja tugas akhir dan selesailah kewajiban kamu disini.”

Gamblang dan realistis. Memang begitu adanya lelaki senja ini. Tapi sayang yang diinginkan mahasiswanya bukan tentang realita dan kostum toga di depan mata.

Tapi tentang kemantapan hati yang masih goyah. Ragu.

Arya masih bimbang. Kedua tangannya belum juga berpijak. Masih di atas lutut dan meremas dengan keringat dingin. Bibirnya mengatup rapat. Menahan ucapannya. Sadar akan kemampuan berbicara yang serupa dengan aliran sungai debit rendah. Harus dibendung dulu sampai penuh kemudian ditumpahkan. Bibirnya mengatup rapat, membendung kalimatnya agar bisa tumpah dalam sekali tarikan nafas.

Satu tarikan nafas panjang. Berbicaralah dia setelah puas menghisap oksigen.

“Saya masih belum yakin untuk lanjut ke tugas akhir, pak. Entah apa, tapi saya merasa belum pantas untuk menyandang sarjana secepat itu. Saya harus melakukan sesuatu hingga akhirnya siap untuk langkah selanjutnya.”

Dadanya mengempis, nafas sudah habis. Seperti trampolin. Dadanya berkembang lagi. Otomatis menghirup lagi udara ruang dosen wali tempatnya berpijak. Udara kepenatan.

Rajutan simpul jemari Pak Marwan melonggar dan buyar. Punggungnya dilempar saja ke atas sandaran kursi empuk beroda. Masih tetap menatap Arya dengan senyum. Tadi senyum itu belum timbul. Setelah satu tumpahan kalimat Arya berhambur dari mulut, senyumnya terbit. Senyum khas sifat kebapaan yang mulai paham apa yang sedang dibutuhkan anak asuhnya.

“Itu namanya kamu membutuhkan satu proses, nak.”

Masih berkeringat dingin tapi cekeraman di lutut memudar. Kedua kelopak mata melebar. Terbuka makin lebar.

“Proses?”

“Ya, proses.”

Masih tersenyum dan bersandar di tahtanya. Satu tangan yang tak lagi kencang kulitnya, keriput, menggapai laci. Menariknya keluar. Suara gesekan laci beroda menyeruak seantero ruangan. Menyentil pendengaran Arya, pupilnya matanya melirik laci yang terbuka dalam diam. Selembar kartu dan laci tertutup kembali.

“Ajukan proposal magang dan temui dia di perusahaan ini.”

Tak lagi bersandar. Bangkit dari  posisi malas sambil menyambar kacamata baca yang sudah tak diperlukan lagi. Tidak sedang membaca barkot kosong. Jadi satu gerakan alibi untuk kembali menegakkan punggungnya. Sudah tegak kemudian codong kedepan sedikit. Menyerahkan kartu nama pada mahasiswanya.

Dahi berkerut sambil menyambut kartu nama. Sejumlah kata dan nama seorang sarjana teknik di sana. Kerutnya semakin dalam. Ini seperti nama perempuan.

“Dia adalah arsitek hebat yang pernah saya bimbing sendiri. Kamu harus menemuinya. Kembalilah lagi setelah kamu siap untuk tugas akhir ya nak Arya.”

Berseri-seri dalam senyum secuil. Seorang dosen wali yang selama ini ia kenal disiplin dan ramah. Entah mengapa ketika berbicara tentang sarjana hebat dalam kartu nama, wajahnya luar biasa sejahtera. Ada rona puas dan bahagia. Memangnya apa yang pernah dia lakukan?

Sebuah nama dalam kartu mungil, dalam genggaman tangan berkeringat dingin. Keringatnya sudah sebagian mengering. Misteri baru baginya. Bagi Arya. Mahasiswa tingkat akhir jurusan arsitektur. Misteri tentang keraguan dalam dirinya untuk menggapai tugas akhir di depan mata. Istilah arsitek hebat. Sehebat apakah dia?

Dalam hati. Dalam diam. Mengeja sang arsitek hebat yang sempat membanggakan hati dosen walinya.

Namanya Reanita Abraham.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What has leaves, a trunk, and branches, and grows in forests?