Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Morning Sickness #57

Gelap? Oh bukan ini remang. Lampu kamar padam tapi lampu tidur masih tetap benderang walau malas. Cahaya setengah-setengah. Sengaja disetting untuk tanggung. Namanya juga tanggung bukan cukup, jadi lensa dan pupil mataku harus terus berakomodasi untuk mendapatkan cahaya yang tepat. Minimal aku masih bisa lihat lekuk perabotan dalam kamarku.

Itu dia. Lemari pakaian dan meja kerjaku. Lengkap dengan maket-maket proyek yang sedang kutangani saat ini. Pembangunan sebuah dome. Sudah mulai terlihat, tapi tak banyak berwarna. Cahaya pelit begini mana bisa melihat warna, sekedar bentuk pun sudah lumayan.

Satu tarikan nafas dan ku hembuskan kuat. Berat. Aku masih tidur telentang. Masih remang.

Satu tanganku meraba jam waker di meja kecil tepat di sisi kananku. Berdiri tanggung bersama si lampu tidur. Jordan tak pernah keberatan dengan masalah pencahayaan, tapi aku. Sengaja letakkan satu lampu yang tersetting remang di sisi kasur tempatku tidur. Sisi kanan.

Jam waker sudah dalam genggamanku. Sudut 90 derajat yang tak banyak sempurnya. Beberapa menit lagi akan sampai pukul 3 pagi. Belum benar-benar tepat jadi sudutnya pun belum jelas. Maklum saja belum ada sapaan selamat pagi. Sinar matahari belum mencuat dari sela-sela jendela kamar dan berkata “Selamat Pagi”. Belum. Ini masih terlampau pagi buta.

Kukembalikan lagi kedudukan jam waker di sisi lampu tidur. Tarik nafas lagi dan hembus kan kuat-kuat. Berkali-kali. Perlahan kugerakkan kepala. Jordan masih dengan lelapnya. Kedua mata tak terlalu lebarnya masih tertutup kelopak, rapat.

Sekali menelan ludah. Tenggorokanku kering.

***

Segelas air mineral sejuk dan sepotong puding. Air minumku jadi sejuk karena beberapa es batu berbentuk balok. Bisa saja aku ambil langsung dari lemari pendingin. Bandung masih dengan musim hujan dan terlewat beku dikala malam. Termasuk pagi buta. Ambil saja dari dispenser dan beberapa kubus es batu mengambang, menyejukkan.

Memang sejuk. Kemudian menenangkan. Bongkahan es sekedar melayang saja kemudian meleleh karena suhu ruangan. Dengan cahaya lampu dapur yang jauh lebih tegas dan berkecukupan, es di gelasku jadi berkilau. Minimal menjadi penghibur selama aku mengunyah puding. Besyukur masih tersisa puding coklat lengkap dengan fla putih lembut pemanis. Bukan aku yang buat. Bunda buatkan puding beberapa hari yang lalu.

Terhiburlah aku. Mengingat bunda tiba-tiba hadir di depan pintu utama dengan loyang puding. Bunda merindukanku. Aku tahu, pudingnya baru saja beku. Bunda tak sabar ingin memelukku. Padahal rumahku tepat di samping rumah bunda.

“Re?”

Masih parau karena terbangun tiba-tiba. Jordan tertatih menghampiri dengan satu tangan mengusap mata berkali-kali. Pasti masih sangat gatal. Sesekali mata sipitnya memicing karena cahaya lampu dapur cukup maksimal untuk membuat segalanya berwarna jelas. Cahaya lugas.

Aku masih mengunyah. Sedikit menahan tawa. Alur rambut Jordan sudah tak jelas kemana arahnya. Ada beberapa helai rambut berdiri bak menara provider. Kaos abu-abu polos longgarnya sudah kusut di sana-sini. Berantakan. Aku mengunyah dengan senyum. Tetap saja aku selalu suka caranya berjalan. Tertatih namun tetap kokoh.

“Mau Puding?”

Satu tarikan kursi dan Jordan duduk di sisi kananku. Matanya terlalu berat untuk terbuka, terus saja memicing karena silau.

“Nope! Cepat selesaikan pudingmu dan kembali tidur. Mavia proyek itu harus bangun pagi.”

Terkekehlah kami. Aku terkekeh sambil terus mengunyah dan menyuap potongan-potongan puding. Mavia proyek. Terdengar hebat, konyol dan sangar. Aku terhibur lagi setelah kemilau es batu mulai sirna karena meleleh.

“Tiba-tiba aku terbangun karena haus. Waktu lihat ada puding aku jadi lapar”

“Sepertinya proyek pembangunan dome meningkatkan nafsu makanmu, Re?”

Aku menganggut kencang, masih mengunyah. Ukuran puding di atas piringku sudah semakin menyusut. Sengaja kuhabiskan cepat-cepat dan kembali tidur. Sesekali kulirik Jordan saat kepalaku bergerak naik-turun tanda setuju. Menatap dengan tegap. Nampak nyawanya mulai pulih setelah ritual mengusap mata selesai. Jordan tanpa kacamata. Aku tetap suka mata mungilnya yang tak selebar mataku.

Sesuatu yang sejuk lagi, bukan dari air mineral dalam gelas. Sejuk tanpa bongkahan es. Sudah cair beberapa detik yang lalu.

Dahiku. Satu telapak tangan Jordan mendarat di dahiku. Kulirik lagi si pemilik tangan sejuk.

Kali ini suapan terakhir tapi rahangku perlahan kehilangan daya. Satu tangan Jordan masih mendeteksi sesuatu dari dahiku. Tak ada ekspresi apa pun. Ada apa? Apa yang terjadi? Bingung. Dahiku berkerut sesaat Jordan meredakan tangannya. Sejuk sirna. Mengapa tubuh Jordan menjadi tak seperti biasanya. Atau aku yang menghangat?

***

Sendok-gerpu beradu dengan piring. Sesekali terdengar menyentak. Tak sengaja tersentak. Suara sendok lebih banyak timbul dari piring Jordan berikut semangatnya dengan sarapan pagi ini. Tak ada yang berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya.

Aku yang berbeda. Entah karena massa tubuh bertambah atau memang tenagaku yang berkurang walau nafsu makanku belakangan ini meningkat? Perut dan uluh hati seperti berputar-putar. Mual. Tapi tak benar-benar ingin muntah. Aku sakit?

Satu daya sejuk menahanku bergerak. Satu tangan Jordan menyapa tangan kananku. Tangan dengan sendok. Tangannya masih sejuk, seperti beberapa jam lalu di pagi buta. Kalau tak ada yang berubah dengan Jordan, berarti aku yang memang kurang sehat. Aku sakit.

Jordan masih dengan ekpresi wajah seperti sebelumnya. Datar. Layaknya menganalisis sesuatu dalam genggaman tanganku dan wajahku. Menatapku paten tanpa berkedip. Kali ini lengkap dengan kacamata yang membingkai mata mungilnya. Mata mungil yang memicing bukan karena silau. Kerutan dahi bukan karena usia senja.

“Jo, tanganmu agak dingin.”

Kerut diantara kedua alisnya memudar sedikit. Hanya sedikit. Sembari menggelengkan kepala. Menggeleng kecil.

“Tubuhmu jauh lebih hangat dari semalam, Re. Kamu sakit? Pergerakanmu juga jauh lebih lambat.”

Benar adanya. Memang Jordan menemukan sesuatu dari tubuhku yang menghangat. Kalau memang demam, mungkin aku sudah menggigil dari tadi. Terasa baik-baik saja, hanya sedikit lemah dan mual.

“Beberapa hari ini aku memang sering lemas tiba-tiba. Mungkin aku terlalu lelah, Jo. Jadi —“

Satu lonjakan kuat dari dalam perut mulai mendesak bagian uluh hati. Kalimatku belum selesai tapi mulutku terkatup. Ada apa ini? Satu lonjakan lagi, lebih kuat dan menyesakkan kerongkonganku. Sontak satu tanganku menahan bibitku agar tetap terkatup rapat.

Jordan terbelalak dengan gerakan spontanku. Terkejut dengan lonjakan aneh di seputar perut dan dadaku membuat genggaman tangan Jordan terhempas, lepas tiba-tiba. Sendok-garpu sudah tak bergerak lagi, tergeletak saja di atas piring.

Bukan main mualnya. Aku sigap berdiri, berlari kecil kearah kitchen sink di dapur. Untung ruang makan dan dapur tak terlalu jauh. Sampai di dapur, satu tangan memutar kencang keran. Suara air mengalir, suara air menghantam permukaan logam kitchen sink dan suara mulutku yang sibuk memuntahkan isi perutku pagi ini. Semakin mual saat aromanya tak sengaja terhirup. Kuputar lagi kran air sampai mentok. Tahan nafas beberapa detik sampai seluruh isi perutku terbilas habis. Alibi agar tak kuhirup lagi aroma itu. Menyesakkan.

Kedua tangan Jordan membopong kedua lenganku. Tubuhku masih setengah membungkuk.

“Sudah kuduga. Sekarang juga ikut aku ke rumah sakit ya sayang.”

Aku hanya bisa diam. Sibuk berusaha mengatur ulang nafasku. Saat tubuhku kembali tegak, terasa semakin berat. Tak sampai jatuh. Jordan sudah mengambil alih setangah dari berat badanku. Aku memang terlampau lemas pagi ini.

***

Aku hanya bisa bersandar. Sandaran jock mobil sengaja direndahkan sedikit agar aku bisa duduk dengan relax. Masih lemas. Tangan kananku sejuk lagi. Tangan kiri Jordan masih terus menggenggam. Agak kuat, takut kulepaskan tiba-tiba. Mungkin memang suhu tubuhku meningkat tapi aku tak merasa demam. Aneh. Tapi lemasnya luar biasa, berjalan pun aku butuh dituntun.

Jordan masih terus begitu. Dari samping, wajahnya panik. Kerutan di dahi tak sepenuhnya sirna. Tak sekalipun mengindahkan gerak-gerikku. Terus saja menatap ke depan. Kurasakan kecepatan mobil melesat seperti buru-buru ingin sampai ke rumah sakit.

Sesuatu di telinga Jordan. Headset yang tersambung langsung dengan handphone. Sedang menelpon seseorang?

“Hallo, Amanda. Ya ini aku, Jordan. Aku butuh bantuanmu. Sekarang!”

Siapa? Amanda? Siapa dia?

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 5 in addition to 2?