Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Kabar Baik #58

Cantik. Seperti wanita pada umumnya. Cantik karena kharisma. Terbungkus indah denganĀ passion yang memang setulus hatinya. Setulus senyumnya. Luar biasa ramah. Aku nyaman. Mungkin aura nyaman harus dimiliki manusia-manusia seperti mereka. Sama seperti Jordan dengan jas putih menjuntai. Jas putih kedokteran. Akan tetap hebat.

Jordan mengantarku pada Amanda. Harusnya aku memanggilnya dokter Amanda. Hanya saja Jordan mengenalnya, aku cukup memanggilnya Amanda.

Aku hadir dengan kelemahan luar biasa. Jordan nyaris membopong seluruh tubuhku. Hampir. Nyatanya aku masih bisa berjalan, kakiku masih bisa bergerak. Cukup bergerak saja tapi tak kuat menopang beban tubuh. Cuma setengah, setengahnya lagi Jordan yang menanggung sambil berjalan. Aku berjalan dengan gambang, antara sadar atau hanya setengah sadar. Yang pasti aku ingat, dari lorong UGD, Amanda setengah berlari dengan high heels nya. Berlari menghampiri aku.

Aku bisa mengenalinya. Bukan dari suara. Bukan dari perawakan berintelektual tinggi. Bukan dari senyum ramah tamah. Bukan dari wajah segarnya. Namanya tertulis jelas di name tag. Dialah Amanda yang Jordan hubungi saat perjalanan menuju rumah sakit.

Walau masih tak banyak paham. Mengapa harus menemui wanita ini? Mungkin sebentar lagi aku paham. Langkah tegas dari kejauhan. Heels beradu sengan lantai unit gawat darurat. Awalnya terdengar selewat, kemudian bunyi hentakan memadat. Amanda sedang melangkah, menghampiri.

Aku duduk bersandar di atas ranjang UGD. Jordan duduk di salah satu sisi ranjang. Sedikit serong agar tetap siap memandangku kapan saja. Kedua tanganku menggenggam segelas teh hangat. Benar-benar menenangkan.

Langkah mantapnya berhenti di sampingku. Satu tangan menjinjing map putih. Tak terlalu besar, tak juga sebesar map pada umumnya. Tertulis namaku di bagian terluar map. Stetoskop melingkar di lehernya. Aksesoris wajib. Satu tangan yang lain tersembunyi malu-malu di balik kantung jas kedokterannya. Benar memang, Jordan juga punya jas yang sama.

“Pagi Rea.”

Sapa hangat. Aku suka dia. Menyenangkan. Bukan ramah-tamah kaku dan sengaja diciptakan untuk memberikan rasa nyaman pada pasien yang berobat. Aku senang, ramahnya terlewat natural.

Reflek. Aku mengikuti senyumnya walau sedang meneguk teh hangat.

“Pagi.”

Layaknya kawan lama. Gesture tubuhnya santai, terutama saat beralih menatap Jordan. Jordan masih dalam posisi duduk sedikit menyerong. Entahlah, mungkin masih shock karena aku tiba-tiba bangkit, berlari dan muntah. Mualku tak separah lonjakan liar saat sarapan. Mungkin karena teh hangat yang menenangkan. Aku masih meneguknya, walau pelan.

“Hai Jordan, kamu berhasil buat saya kaget pagi ini.”

“Hehehee.. Maaf Manda, tapi ini juga bagian dari tugasmu.”

“Yeah, I know.”

Masih santai sambil menyibakkan sebagian helai rambut yang tersangkut di bahu. Amanda menatapku lagi. Bicara padaku. Aku sudah siap menyimak. Tapi Amanda tak langsung berbicara. Tiba-tiba ia melepaskan segelas teh hangat dari tanganku. Kini gelas beserta cairan cokelat manis hangat di dalamnya, duduk manis diatas meja kecil di sekitar ranjang.

Satu tangan yang sedari tadi sembunyi di balik kantung jas, kini menyambut tangan kosongku. Hei, tangannya juga sejuk. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Aku dengar kamu bekerja di perusahaan konsultan dan sedang menangani proyek pembangunan.”

“Jordan?”

Tersipu sambil terkekeh pelan. Masih bertahan dengan posisinya. Mungkin Terlihat sedang senyum tersipu. Santai. Mata Jordan masih tetap awas. Siap-siap melesat ketika aku ingin muntah lagi. Kalau. Saat ini tubuhku jauh lebih tenang.

“Jordan sempat cerita. Re, kali ini jangan pernah melawan tubuhmu ya. Kalau lemas atau lelah, cepat istirahat.”

“Dan kamu, Jordan. You have to take care of them.”

Them? Ada apa ini? Mengapa Jordan jauh lebih santai? Seingatku dia sempat tak banyak ekspresi, bahkan aku mengartikan wajahnya karena tegang atau ketakuatan akan sesuatu. Ku lirik Amanda yang masih berdiri sambil membelai punggung telapak tanganku. Ada makna dibalik ramah dan senyumnya. Seperti bahagia tapi tersirat dulu untuk sementara.

Tubuh Amanda semakin mendekat. Seperti akan bicara dengan suara pelan. Ya Tuhan, aku tak paham.

“Congratularion, Rea. Usianya sudah menginjak minggu ketiga.”

Suara Amanda memang lebih mirip berbisik. Bisikan biasa, aku tahu. Satu lonjakan dalam tubuhku menghantam lagi. Bukan karena mual. Entah dari mana asalnya. Aku menggenggam tangan Amanda. Aku yang menggenggamnya dikala ia masih mengelus tanganku dengan sejuk.

Tuhan sampaikan pada ayahku. Makhluk mungil sedang singgah sementara dalam tubuhku. Hanya sementara, sebelum ia siap menatap dunia. Aku akan memperkenalkan padamu, ayah. Aku resmi menjadi reinkarnasi yang sempurnya.

Dalam waktu yang sama aku baru mengerti. Amanda adalah dokter spesialis kandungan. Jordan mengenalnya karena sama-sama bekerja di rumah sakit yang sama. Rumah sakit tempat ayahku melepaskan nafas terakhirnya. Rumah sakit tempatku menerima kenyataan atas cedera lutut. Rumah sakit tempatku terapi dan bertemu Jordan. Masih di rumah sakit yang sama, tempatku bertemu dengan Amanda.

Dokter cantik yang akan selalu ku temui dua kali dalam sebulan.

Entahlah, bagaimana cara menggambarkannya. Aku bahagia luar biasa. Abraham kecil sedang tumbuh disini. Disini. Dalam tubuhku.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?