Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Proposal Magang #59

Cursor di layar personal computer masih lincah melesat kesana kemari. Ibarat jari telunjuk jadi penuntun baca. Bergerak dari satu kata ke kata berikutnya. Bisa saja kalau harus jari telunjuk yang menuntun tiap kata dalam screen. Tinggal pilih, antara tersengat listrik sesaat atau layar seketika keruh dengan sidik jari. Toh mouse masih bisa berfungsi, manfaatkanlah.

Jarum mungil bergerak lincah. Pergerakan pupil mata berusaha mengimbangi kecepatannya. Otot mata sedang hebat-hebatnya. Sedang mengeja ulang. Sedang mengcek ulang. Padahal sudah berulang-ulang. Kalau bisa sampai puas, sampai bosan kemudian berhenti. Bukan menyerah. Lelah. Jangan sampai ada satu kata aneh terselip atau sekedar salah ketik. Itu konyol.

Sudah yakin. Satu tarikan nafas, dadanya mengembang sebentar kemudian mengempis sembari udara keluar deras dari mulutnya. Buang satu nafas sesak. Sekali lagi saja. Selanjutnya bernafas seperti sedia kala.

Cursor mungil hendak memilih satu tombol, setelah itu timbul suara klik. Print.

Suara mendesir agak mengganggu. Seperti mesin robotik yang sedang bergerak dengan engsel kaku. Kalau bukan ke kanan ya ke kiri. Hanya kenal dua arah. Selembar kertas putih terhisap. Turun perlahan, tertekuk sedikit dan muncul lagi dengan perbendaharaan kata yang sudah direncanakan. Sebanyak kertas putih polos yang disediakan. Satu selesai, kertas berikutnya akan terhisap.

Selembar. Dua lembar. Padahal jumlah seluruh lembar dalam proposal lebih dari sepuluh. Katakanlah belasan. Menunggu juga masih terlalu banyak waktu.

Sepasang mata yang sudah terlalu lelah. Harusnya ada satu lapisan gelap sebagai penghalang sinar mencolok dari layar atau sekedar barrier agar tidak terpapat radiasi. Seharusnya. Toh bola matanya sudah mendekati gersang.

Arya menghempaskan punggung lapangnya pada sandaran kursi. Sepasang kakinya tak selelah penglihatannya. Saat terhempas, kursi sedikit goyah. Tak sampai jatuh, kedua tungkai kakinya masih berdaya menahan. Sepasang telunjuk dan jempol kirinya memijat pelan bagian kelopak mata yang terpejam. Hanya proposal tapi perhatiannya tersita hingga berjam-jam. Alhasil, lelah lah sudah visualnya.

Suara mendesir dan sesekali seperti suara mekanik yang terlonjak beberapa detik. Masih menggema gaduh. Printer masih bekerja sesuai dengan jobdesc nya. Kalau dipikir-pikir, alat ini berisik juga.

Kelenjar air mata mulai menyadari waktunya untuk bekerja. Air mata pelan-pelan membilas bola matanya. Bola mungil hampir kemerahan karena kering. Proses pembilasan terus berlangsung. Saat kelopak mata Arya terbuka tiba-tiba, air matanya terus membilas namun tak sampai membasahi. Tidak sedang menangis.

Satu tangannya masih memegang mouse. Bergeser tak terkendali dan menindih sesuatu. Tersentak sedikit dan terbukalah kedua matanya. Buram sebentar kemudian pelan-pelan fokus. Ternyata mouse menindih lembaran mungil. Lembaran yang akan menuntunnya untuk bertemu seseorang.

Ingatannya masih mengambang nyaris melayang-layang di atas kepalanya. Senyum bangga dalam air muka dosen walinya. Lugas mengatakan tentang pernyataan. Arsitek hebat? Memangnya apa yang sudah dia lakukan? Sesekali mengulang beberapa penggal kalimat saat berdiskusi dengan sang dosen paruh baya. Berulang-ulang seperti rekaman radio rusak. Terus bergaung, mengalahkan si printer gaduh.

“Dia adalah arsitek hebat yang pernah saya bimbing sendiri. Kamu harus menemuinya. Kembalilah lagi setelah kamu siap untuk tugas akhir ya nak Arya.”

Bahkan tiap kata hingga membentuk bait pun masih terkesan segar dalam pikirannya. Untuk apa aku terusik begini? Sadar dirinya terusik. Gerakan kepala menggeleng tak sampai menghentikan gaung rekaman suara Pak Marwan tentang arsitek kebanggaannya.

Sudut kamar indekos tempatnya berada, kembali sunyi. Sedikit saja melirik. Belasan lembar proposal magang sudah berwarna. Tak lagi putih polos. Satu ayunan tangan, seluruh lembaran berhasil ia genggam. Hentakkan sekali dukali di atas meja, merapikan sisi kertas. Kalau ada yang mencuat pasti akan tertekuk dan berantakan. Itu Konyol.

Tumpukan sudah sepenuhnya rapih. Cover, isi, dan penutup. Semua siap di bundle. Keinginnan hati ingin secepatnya disatukan dalam jilid ring. Kaca jendela yang tertutup. Tak hanya berembun, di luar sana ada bulir-bulir air yang mengalir turun atau sekedar memberikan efek blur. Langit diluar sana kelabu dan gelap. Aaahh iya, benar-benar November rain. Terpaksa ditunda, besok sajalah,.

Menanggalkan tumpukan kertas yang sudah rapih. Menyambut lagi kartu nama mungil, kartu petunjuk. Satu-satunya petunjuk untuk bertemu dengan sang arsitek hebat. Reanita Abraham, jika Tuhan mengizinkan, izinkan aku menyerap kehebatanku. Aku ingin sepertimu. Bahkan lebih darimu.

Bola mata mungil melirik lagi. Hujan enggan berhenti juga.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 2 multiplied by 6?