Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Chief Design #1

tik… tok… tik… tok… (dan seterusnya)

Tiga orang cukup untuk membuat keributan di satu ruangan mungil milik sang direktur. Tapi tidak juga. Toh dentang jam dinding masih lebih berkuasa. Berjaya. Puas berdentang lagi-lagi dan lagi. Siapa lagi yang mampu menandingi gema mungil suara jarum detik bergerak. Hasil gesekan poros di sana sini.

Bisa saja bisu mati suri ini dibantah, mirip benda berjatuhan gaduh dan sunyi terpecah. Kecuali jam dinding yang merasa menang dengan tik tok tak seberapa. Kerap ditunda dengan menyeruput teh hangat. Tiga cangkir, sama hangat. Uapnya berlomba-lomba, siapa yang melayang paling tinggi dia yang menang.

Beberapa menit yang lalu office boy antar bercangkir-cangkir teh ke ruang mungil sang direktur. Mendarat di atas meja bundar. Meja kaca. Kali ini tak mungil. Disertai lima kursi disekelilingnya. Tiga kursi sudah berpenghuni.

Baru niat berucap, uap teh bersama aroma manisnya sudah menyapa hidung. Sang direktur perespon tercepat. Langsung melayang tangannya dan menyambar cangkir hingga setinggi bibirnya. Menyeruput. Kemudian menyusul sang kepala HRD. Gerakannya mirip-mirip, berbeda gelagat. Kepala HRD terlewat feminim. Bukan wanita dengan rok minim dan tiang heels yang melampaui jenjang pemilik betis. Bukan begitu. Ibu Rosa jauh lebih santun dari itu.

Belum kuasa menyantap penghuni cangkir seperti sang direktur dan ibu Rosa. Teh cokelat dan manis.

Kalau tik tok adalah backsound dari jarum mungil. Tik tok yang satu ini adalah lonjakan poros diantara dua ruas timbangan. Pikiran dan hatinya menimbang. Memandang saja uap cangkir miliknya yang masih teratur. Belum berhambur. Disentuh juga belum. Ditatap saja sambil terus menimbang. Katakanlah pemuda yang satu ini sedang menata sebagian  nyawa. Tadi ada sedikit hentakan dan sedikit berpindah tempat. Tapi sedang ditata lagi sesuai posisi semula.

“Wira. Sejak awal kamu bergabung dengan kami disini, aku sudah paham passion yang kamu miliki. Ayolah, bagian ini sangat membutuhkan nalurimu. Naluri yang alamiah. Bagaimana? Siap menerimanya?”

Direktur utama bertanya lagi. Setelah bisu diam dalam teh manis hangat. Ada pengakuan mirip curhat juga ikut melengkapi sebelum benar-benar bertanya. Itu pertanyaan tentang kepastian. Pertanyaan yang tak butuh jawaban panjang-panjang.

Sayangnya Wira belum mengecap tektur daun teh dalam air hangat beserta manisnya. Kemelut saja dalam dunianya.

Ibu Rosa juga baru mendaratkan cangkir ke atas meja setelah disesapnya teh beberapa kali. Mungkin haus atau AC terlalu dingin untuk ukuran ruang mungil. Sebenarnya cukup lapang, hanya saja perabotan raksasa seperti rak lemari, meja kerja beserta kursi nyaman beroda, satu meja lagi di sisi yang lain dengan lima kursi mengitarinya. Mungil karena tersita sepersekian persen.

Kedua mata tegas ibu Rosa sudah menyorot lagi. Tepat sudah pemuda berkaos putih dan kemeja flannel menjadi satu titik tempat dua pasang mata menghujam. Sambil menunggu lagi dirinya bersuara. Tak harus lantang. Ruang mungil akan cepat meresonansikan suaranya.

Tik tok berbunyi lagi. Mengingat lagi akan keheningan mati suri tadi.

Uap teh dari cangkir miliknya berangsur lenyap. Mungkin sudah mendingin. Mana tahu masalah itu, disentuh pun belum. Tertarik menyesap juga sama lenyapnya. Panca inderanya ingin merespon sang direktur dengan pernyataan barusan.

Terangkat lah dagunya. Bertemulah matanya. Berucaplah dia dengan tegas. Sambil senyum sebentar, seperdelapan detik sebelum mulutnya bergerak.

“Pak Hari, ibu Ros, terimakasih banyak atas kepercayaannya. Saya siap”

Terbit sudah senyum lebar dari lengkungan mulut pak Hari. Sesekali terkekeh bahagia khas lelaki separuh baya yang masih energik. Bahunya bergunjang kecil dan posisi duduk berubah. Satu tangan kokoh sang direktur menyapa. Minta dibalas dengan satu sahutan. Wira menjabat. Kedua tangan mereka bertautan dan berguncang tegas. Gagah.

Ibu Rosa juga tersenyum lebar. Tertangkap basah sedang menghembuskan satu nafas beratnya. Jadi sedari tadi nafasnya ikut-ikutan sesak? Sungguh sosok kepala HRD yang keibuan.

Satu tangan ibu Rosa juga ingin disambut oleh sang pemimpin baru. Penyandang baru dalam jabatannya. Wira menyambut juga.

“Selamat atas jabatan barumu ya Wira”

“Terimakasih banyak ibu Ros”

Satu gerakan sederhana, Pak Hari sudah bangkit dari kursinya. Membenarkan posisi celana bahan yang terhalang oleh perut buncit. Wira kerap menyusul, bersamaan dengan ibu Ros.

“Selamat berakhir pekan, chief design. Hari senin dengan ruangan baru pastinya.”

Terkekeh lagi. Terkekeh bersama dan mengalahkan gegap gempita dentang jam dinding. Dentang yang tak seberapa itu bisa apa? Suasana hangat dengan tawa renyah, dentang jarum jam memang tak berdaya apa-apa. Gesekan poros dan suara dentangnya, harus mengaku kalah. Bukan segala-galanya lagi.

***

Seperti jalan menuju ketakutan luar biasa. Sebuah lorong khusus, melurus hingga ke pintu ruang direktur. Dulu menakutkan. Setiap kali melangkah dalam lorong hanya bayangan direktur buntal yang hanya bisa protes. Masalah kehadiran Wira, sering terlambat. Masalah pakaian, Wira tak pernah membiarkan tubuhnya dibalut kostum kaku seperti pramuniaga di mini market pinggir jalan. Sepatunya tak pernah beradu kilat dengan lantai kayu. Sepatu bahan canvas, setengah merah dan sisanya hijau. Kaos polos, kadang kemeja yang selalu digulung bagian lengannya hingga siku, atau kemeja flannel merah kotak-kotak seperti hari ini.

Tapi siapa sangka. Bahkan dirinya belum sempat bersangka-sangka.

Pagi biasa. Pagi yang penat dan akan selalu sesak. Kantor mungil, sekat dimana-mana. Telpon berdering kemudian suara direktur dengan nada memanggil. Melayang lagi langkahnya menuju lorong. Lorong kematian bagi karyawan yang keluar dari ruang direktur dengan surat pecat. Entah lorong apa namanya kalau sudah disuruh menghadap pagi-pagi begini.

Setelah paham isi panggilan sang direktur yang tak sendiri, bersama kepala HRD. Lorong keberuntungan. Lorong yang mengantarnya pada jabatan baru setelah drafter. Cukup lama Wira jadi drafter di perusahaan jasa desain milik bos besarnya, Pak Hari. Sekarang chief design siap menyapa. Nanti, senin setelah akhir pekan ini.

“Mas Wira!”

Lorong itu tempatnya gema berkumandang. Langkahnya terhenti. Kepala berputar kesana-kemari. Berbalik badan pelan-pelan. Benar adanya sumber suara datang dari sana. Baru saja melepas diri dari panggilan direktur dan ruang mungil, panggilan datang lagi.

“Mas, ini pesenan mas Wira. Agak jauh saya nyarinya mas, soalnya di toko alat tulis dekat kantor sudah kehabisan kertas origami.”

Sambil tersengal-sengal. Pegawai office boy dengan seragam lengkapnya. Serba biru dari atasan hingga celana panjang. Biru pucat, berbagai garis biru gelap dan beberapa pola biru tegas. Wajahnya agak letih, tak sampai biru. Menyerahkan sesuatu dalam genggamannya pada Wira. Kantung plastik ukuran besar. Belasan bungkus isi kertas origami. Berbagai warna dan ukuran seragam.

“Wah, makasih banyak ya pak Aji. Ini kertasnya lebih dari cukup.”

Satu tangan menyambut kantung plastik, tangan yang lain menepuk ringan bahu pak Aji. Tepukan semangat. Setelah Wira menepuk, bahu pak Aji tegap lagi.

“Kalo gak cukup juga yah kebangetan itu namanya mas.”

“Hehehe… Jangan cemberut gitu dong pak Aji. Saya masih punya kerjaan lagi buat pak Aji”

“Wah? Kerjaan apa lagi mas?”

“Tolong barang-barang saya dikemas ke dalam kardus soalnya saya harus pindah ruangan, okey Pak Aji?.”

Senyum sumringah. Dua kali tepuk ringan di bahu pak Aji dan berlalulah pemuda berflannel ini. Langkah lebar beradu dengan lantai kayu. Sebagian kemejanya, mengabaikan kancing sehingga berkibar. Seperti bertaut dalam udara yang ia hempas saat berlari.

Pak Aji masih ditempat. Masih mengatur lagi nafas sampai teratur. Gelengan kepalanya kambuh lagi. Pemuda yang satu ini memang agak nyentrik, membuatnya selalu lelah namun tetap pak Aji tak pernah bosan melayaninya.

BERSAMBUNG

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 4 + 3?