Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Setting Tempat

Aku suka cerita. Apapun itu. Cerita dalam film. Cerita dalam buku dongeng. Cerita dalam majalah bobo. Cerita dalam komik. Cerita dalam novel. Cerita dalam curhat orang-orang sekitar. Cerita dalam kehidupan sendiri.

Dari begitu banyak hal yang aku suka, lama-lama aku menyusut seperti kerucut. Cerita itu terlalu umum. Di dalamnya ada banyak tokoh. Di dalamnya ada banyak pemeran. Di dalamnya ada banyak pengantar. Di dalamnya ada banyak adegan. Di dalamnya ada banyak latar tempat. Di dalamnya ada banyak latar waktu. Di dalamnya ada banyak latar suara. Sejauh imajinasiku berkembang, di dalamnya ada aku.

Banyak yang aku baca. Banyak yang aku tonton. Banyak yang aku lihat. Banyak yang aku perhatikan. Sampai akhirnya kesukaanku mengerucut lagi. Ini titik terasik dalam cerita yang pernah aku pahami. Otodidak. Begitu saja, sejalan dengan berkembangnya sel-sel dalam otak.

Kemana pun aku pergi. Aku bisa buat adegan sendiri disana. Bantuan visual dan imajinasi. Kemana, berarti itu masalah tempat.

Kalau aku lagi jalan ditrotoar. Aku bisa bayangkan ada tokoh utama sedang berjalan dengan jaket tebal, serba tertutup, berjalan menunduk dengan kedua tangan sendekap di dalam kantung jaket.

Kalau aku lagi nunggu pesawat di waiting room. Aku bisa bayangkan ada tokoh balita yang kegirangan saat melihat ada pesawat landing dengan mulus. Kemudian datang ibunya yang masih sangat muda. Berkata demikian, “Iya sayang, itu pesawat. Nanti kita naik itu trus terbang sampai Surabaya”.

Kalau aku mondar-mandir di antara rak buku raksasa, perpustakaan kampus. Aku bisa bayangkan ada tokoh mahasiswi mungil sedang berjinjit. Susah payah. Ada handbook dua kali lebih besar dari telapak tangannya yang harus ia raih. Nekad memanjat di ruas rak buku. Alih-alih menggapai target. Handbook jatuh ke lantai kemudian jutaan pasang mata menghujam ke arahnya.

Kalau aku lagi bermain ice skating. Aku bisa bayangkan ada tokoh wanita tuna rungu sedang berdansa sendiri di tengah-tengah lapangan ice skate. Tanpa musik. Tanpa lagu. Tapi tubuhnya terus meliuk indah. Sepasang tuas kakinya terus berpacu. Pisau di sepatunya terus bergesek.

Terus saja begitu. Jadi yang paling aku suka dari dalam cerita adalah setting tempat kemudian adegan. Aku lebih mudah membayangkan suatu adegan bila setting tempat tergambar jelas dalam imajinasi.

Lama-lama aku berpikir lagi. Setiap latar tempat pasti menghasilkan cerita yang serupa tapi tak sama. Banyak serupa dan sedikit ketidak samaan. Muncul seperti satu tipe tersendiri. Bahkan beberapa.

Pegunungan yang sejuk. Perkebunan hijau dimana-mana. Orang-orang berbondong-bondong dengan jaket tebal, kupluk hangat dan syal melilit di leher. Jadi setting tempat jatuh cinta.

Laut yang panas. Angin yang sejuk dikala teduh di bawah pohon. Biru. Kemudian banyak rahasia berwarna-warni di balik birunya air laut. Asinnya air laut mengapungkan tubuh yang bermassa. Jadi setting tempat berpetualang.

Hiruk pikuk kota. Berbagai jenis kendaraan berlalu-lalang. Orang-orang berjalan dengan langkah cepat. Kalau malam, lampu gedung dan rumah jadi galaksi baru di bawah langit. Jadi setting tempat kerja dan rutinitas yang bertekanan.

Angin sepoi-sepoi. Pemandangan ibarat lukisan membentang dari ketinggian sebuah gedung. Roof top. Satu pagar setinggi setengah orang dewasa. Jadi setting tempat untuk merenung. Apa pun direnungkan disana.

Mobilitas suster berbaju putih dan lipatan kain diatas kepala. Dokter dengan jas putih dan stetoskop melingkar di leher. Bau karbol menyengat dari berbagai sudut. Setiap manusia yang berbaring akan menempel selang infus di punggung tangan. Atau alat deteksi detak jantung yang berisik dengan tempo tetap teratur. Rumah sakit jadi setting tempat perjuangan.

Selalu saja begitu. Apa ini jadi sebuah keteraturan? Entah lah. Paradigma ini tumbuh subur begitu saja di kepalaku.

Kemudian muncul pertanyaan baru. Bagaimana kalau jatuh cinta di hutan? Bagaimana jadinya perjuangan di atas roof top? Bagaimana kalau menjelajah di rumah sakit? Bagaimana jadinya merenung di laut? Bagaimana kalau rutinitas bertekanan di pegunungan?

Hhhmm… Bagaimana kalau ini semua dibuat dalam satu cerita? Kayanya seru :)

  • johantectona says:

    disaat membaca tulisan ini aku membayangkana ada seorang cwek berkacamata disampingku yang tersenyum sambil bertanya “gimana kak tulisan ku?” hahahahah :P

    kerennn oiiii

    December 6, 2012 at 9:40 pm
  • Shiwa says:

    kalo kata gw sih, justru tulisan ini bisa jadi dasar ide untuk tulisan-tulisan lainnya yu *sok tau gw* hahaha

    December 6, 2012 at 11:23 pm
  • ayu emiliandini says:

    Shiwa :

    kalo kata gw sih, justru tulisan ini bisa jadi dasar ide untuk tulisan-tulisan lainnya yu *sok tau gw* hahaha

    setujaaaaa…. dan entah cerita apa itu wa hahahaa

    December 7, 2012 at 5:22 am
  • ayu emiliandini says:

    johantectona :

    disaat membaca tulisan ini aku membayangkana ada seorang cwek berkacamata disampingku yang tersenyum sambil bertanya “gimana kak tulisan ku?” hahahahah
    kerennn oiiii

    ada penampakan di samping masjo ahahaha

    December 7, 2012 at 5:24 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 6 * 4?