Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Cerita Bumi

pertamina

Hai bumi, sahabatku. Apa kabar? Aku dengar kini keadaanmu memburuk. Aku dengar dari orang lain. Dari sosial media. Dari buku. Dari dosen. Dari berbagai sumber. Tapi aku ingin dengar langsung darimu, bumi? Ceritakan padaku.

Semakin hari tubuhmu menghangat. Demam? Bumi, kamu sedang sakit apa? Berarti kabar burung yang aku dengar memang benar adanya? Lantas apa yang menyakitkan tubuhmu, Bumi?

Aku siap menyimak.

***

Sahabatku ini akan bercerita perihal sejarah kesehatannya. Dari yang amat baik hingga seburuk ini. Biarkan ia bercerita sambil terus menitikkan peluh. Suhu tubuhnya meningkat tapi aku rasa itu bukan karena ia sedang demam. Kuperhatikan bumiku ini berkisah tentang gejala-gejala penyakit yang ia derita. Aku rasa ini bukan demam biasa. Lihat! Wajahnya aneh. Semacam keruh. Keruh bercampur peluh.

Sekarang kisahnya agak terputus-putus. Yang mana peluh, yang mana mendung. Ya ampun, sampai tersedu-sedu dia ceritakan segalanya padaku. Aku seperti sahabat yang tak berguna. Aku dan bumi bersahabat bahkan sejak aku lahir. Tapi apa yang bisa aku lakukan untuknya? Apa? Mendengarkan keluh kesahnya saja? Aku rasa sahabat tak sekedar jadi pendengar yang baik.

Sekarang aku paham. Segalanya bertahap. Memang gejalanya muncul pelan-pelan, hanya saja ini mungkin yang terparah. Sahabatku bilang, semuanya berawal di era tahun 1750-1850. Seorang anak manusia cerdas bernama James Watt membuat suatu penemuan hebat. Penemuan mesin bertenaga uap. Mesin yang bergerak dengan bantuan uap. Sangat hebat, sampai-sampai dideskripsikan dalam kata revolusi. Ya, revolusi industri di Inggris.

James Watt

James Watt

Revolusi Industri

Revolusi Industri

Awalnya aku seperti sedang menyusun keping-keping puzzle. Suara sahabatku terbata-bata karena bicara sambil terisak. Pasti rasa sakit yang diderita amat pahit.

Berjalannya cerita yang masih mengalir. Kemudian aku paham sedikit-sedikit. Revolusi industri punya pengaruh terhadap kesehatan bumiku.

Revolusi hebat ini menyulap kesejahteraan manusia. Meningkat sambil melejit, mirip roket. Kemudian sifat dasar manusia yang tak kunjung puas seperti dimanjakan. Dimanja dengan penemuan yang terus berkembang. Semakin canggih maka manusia semakin butuh itu. Toh kehadiran teknologi berfungsi untuk mempermudah hidup manusia kan?

Disamping hebatnya penemuan itu. Salah satu sumber tenaga sahabatku terus diambil. Benar-benar diambil dan tidak dikembalikan lagi. Saat itu masih berupa batu bara. Uap yang digunakan berasal dari pembakaran batu bara. Berkembangnya teknologi, minyak dan gas bumi juga ikut diambil. Padahal, elemen-elemen itu adalah sumber tenaga sahabatku.

Kalau tenaga terus diambil, jelas bumiku melemah dan mudah sakit. Ibarat manusia yang tenaganya dikuras sampai kelelahan. Sudah lemah makin lemah juga kalau tenaga yang sudah tinggal selembar tetap terus diambil.

Hubungannya dengan suhu tubuh bumi? Tetap ada hubungannya. Jadi begini ceritanya. Tubuh sahabatku ini dilapisi oleh sebuah lapisan gas. Fungsi lapisan ini berguna sebagai penghangat tubuhnya. Gas rumah kaca. Secara alamiah, dia sudah memiliki itu. Namun seiring dengan berjalannya waktu, lapisan ini menebal. Ada input ke dalam lapisan ini hingga menjadi tebal.

Penggunaan tenaga atau energi bumi ini harus dengan penanganan khusus. Terutama pada prosedur pembakaran. Proses pembakaran yang baik adalah pembakaran sempurna. Syarat untuk mencapai pembakaran sempurna itu juga tidak mudah. Supply oksigen dalam bahan bakar (batu bara, minyak dan gas bumi) harus cukup. Tidak hanya cukup tapi harus benar-benar tercampur di dalam bahan bakar tersebut. Campuran yang baik akan mencapai suhu optimal dalam proses pembakarannya.

Pembakaran tidak sempurna

Pembakaran tidak sempurna

Namun yang menjadi masalah, campuran oksigen dalam bahan bakar tidak pernah dalam kondisi sempurnya. Akibatnya, pembakaran menjadi tidak sempurna. Pembakaran inilah yang memberikan dampak buruk pada kesehatan bumiku.

Yang menjadi dampak adalah sisa hasil pembakaran tidak sempurna, seperti NOx, SOx dan CO.

Pencemaran udara oleh gas NOx dapat menyebabkan timbulnya Peroxy Acetil Nitrates (PAN). PAN ini menyebabkan iritasi pada mata yang menyebabkan mata terasa pedih dan berair. Sekarang aku mengerti mengapa sahabatku terisak. Bukan karena sedih atau pilu, tapi matanya pedih karena senyawa ini.

Campuran PAN bersama senyawa kimia lainnya yang ada di udara dapat menyebabkan terjadinya kabut foto kimia atau Smog Photo Chemistry. Aku pikir mendung yang menutupi cerahnya wajah bumi, sahabatku. Keabu-abuan tapi bukan mendung, itu kabut. Wajahnya keruh karena Smog Fotokimia.

Smog fotokimia di perkotaan

Smog fotokimia di perkotaan

Proses terbentuknya smog fotokimia

Proses terbentuknya smog fotokimia

Karbon monoksida (CO) yang melayang-layang di udara sana diam-diam juga berulah. Lapisan ozon yang secara alamiah dimiliki oleh sahabatku pelan-pelan menipis. Ozon (O3) bereaksi dengan CO dan terpecahlah dia. Menghilanglah ozon sedikit demi sedikit. Kemudian bolong dimana-mana. Ozon menipis namun gas rumah kaca menebal. Ya, lapisan gas yang berfungsi menjaga kehangatan suhu tubuh sahabatku ini menebal. Aku sudah bilang sebelumnya kan.

Ozon lenyap karena bereaksi dengan CO

Ozon lenyap karena bereaksi dengan CO

Lapisan ozon dan gas rumah kaca telah dimiliki bumi secara alamiah

Lapisan ozon dan gas rumah kaca telah dimiliki bumi secara alamiah

Ozon berfungsi sebagai penyerap sinar UV yang datang bersama sinar matahari. Kalau lapisan ozon sudah tak tebal lagi, UV bisa lolos. Wajar saja terjadi iritasi di sekujur kulit sahabatku. Kulitnya terkena kanker akibat terpapar sinar ultraviolet. Sedih aku melihatnya.

Lapisan ozon tak mampu lagi menyerap UV dan kanker kuliat akibat UV dapat menyerang siapa saja

Lapisan ozon tak mampu lagi menyerap UV dan kanker kulit akibat UV dapat menyerang siapa saja

Gas rumah kaca yang menebal karena kehadiran CO juga membuat tubuh bumi menjadi jauh lebih panas. Sinar UV yang telah mencapai bumi akan dipantulkan kembali dalam bentuk infera merah. Harusnya pantulan ini meneruskan infera merah sampai keluat bumi. Luar angkasa sana. Karena lapisan penghangat tubuh bumi ini terlampau tebal, sinar infera merah terpantul lagi ke dalam. Infera merah membawa sifat panas. Jadi inilah sumber demam tak biasa yang diderita sahabatku.

Ini dia penyebab dari peningkatan suhu bumi. Efek rumah kaca

Ini dia penyebab dari peningkatan suhu bumi. Efek rumah kaca

***

Selesai sudah paparan kesehatan bumiku sayang. Sebagai pendengar, aku tak kuasa menyalahkan anak manusia cerdas penemu mesin uap, James Watt. Niatnya baik, ingin meningkatkan taraf hidup sesamanya. Hanya saja sahabatku ini sedikit terlupakan. Lupa kalau dia akan terus melemah bila energinya direnggut. Ingin mengembalikan energi sahabatku, aku rasa itu mustahil. Energi yang sudah direnggut adalah energi yang tidak dapat diperbaharui. Kalaupun bisa, masalahnya adalah waktu. Jutaan tahun untuk bisa hadir lagi batu bara, minyak dan gas bumi yang telah mengalapi proses penguraian oleh mikroorganisme dalam lapisan tanah bertekanan. Mau menunggu? Tidak! Nanti sahabatku keburu mati!

Bumi. Sahabatku. Dengarkan aku. Aku ingin meringankan beban hidupmu. Namun aku tak sehebat James Watt yang bisa membuat gebrakan dalam sejarah. Tapi aku punya cara lain. Caraku sendiri.

Begini. Mari kita bahas masalah energi. Iya, tenagamu. Ada dua jalan yang bisa aku lakukan. Pertama adalah penghematan. Walau tak dapat menggantikan energi yang telah diambil, minimal aku bisa menekan laju penggunaan energimu.

Mulai dari listrik sajalah dulu. Sederhana. Menyalakan lampu ketika aku butuh cahaya. Biasanya dikala aku mengerjakan tugas kuliah dimalam hari. Kalau aku sudah lelah, ingin tidur, padamkan saja lampunya. Ketika bangun pagi, cahaya matahari yang lebih dari sekedar benderang. Membuka jendela lebar-lebar sudah cukup membuat ruanganku terang. Kemudian AC. Kalau aku pergi kuliah, aku rasa AC di kamar tak perlu bekerja. Nanti saja kalau aku sudah pulang.

Hemat penggunaan listrik

Hemat penggunaan listrik

Seletah listrik ya transportasi. Rumah dan kampusku tidak terlalu jauh. Jalan kaki sajalah. Atau naik sepeda. Sekalian olah raga juga kan. Jalan kaki atau naik sepeda juga membuat aku jadi lebih dekat dengan orang-orang disekitarku. Satpam kampus yang selalu tersenyum menyambut mahasiswa yang datang, termasuk aku. Teman-teman yang menyapa saat bertemu di jalan. Kalau aku naik sepeda motor atau mobil, kecil kemungkinan aku bisa membalas sapaan mereka.

Bersosialisasi dengan bersepeda itu asik

Bersosialisasi dengan bersepeda itu asik

Bepergian kemanapun ada transportasi umum yang selalu siap sedia. Biasanya aku sering naik angkutan umum. Kadang taxi kalau sedang terburu-buru. Kalau lagi santai ya angkot. Banyak hiburan yang aku dapat di dalam angkot. Mulai dari menyimak percakapan anak ABG tentang gebetan mereka di sekolah, pekerja kantoran yang luar biasa dendam dengan atasannya, bahkan ibu-ibu yang heboh cerita tentang gosip artis ibu kota. Kalau aku naik sepeda motor atau mobil pribadi, mungkin aku akan depresi karena terlalu memikirkan kemacetan.

Langkah kedua adalah menggunakan energi alternatif. Selama ini sumber energi yang digunakan melulu energi bumi. Padahal ada energi luar biasa besar dan tanpa batas yang bisa digunakan bahkan sepanjang masa. Sinar matahari! Apapun kondisinya, matahari akan terus bersinar dengan cerahnya. Wajar kalau matahari selalu dikait-kaitkan dengan keceriaan.

Panel surya yang menangkap energi panas matahari dan dikonversikan ke dalam bentuk energi lain, salah satunya listrik. Indonesia sudah menerapkan solusi ini loh, bumi. Bahkan aku pernah liat panel surya ukuran besar di Pulau Rinca, Taman Nasional Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Hebat kan.

panes surya

Panel surya di Pulau Rinca

Pulau Rinca sudah bisa menerapkan sistem panel surya. Industri pembangkit listri di sekitar Indonesia yang lain juga pasti bisa. Aku tahu, bumi, ini diluar kemampuanku. Tapi bukan berarti diluar kemampuan pikiranku hingga mencapai ide itu kan? Hehehee…

Tenaga lain dari energi kinetik air terjun dan pasang surut air laut juga sangat kuat. Kuatnya sampai mampu memutarkan turbin hingga energi yang dihasilkan dari putaran turbin dapat dikonversi jadi energi listri. Kamu tahu, bumi? Ide ini tiba-tiba menggelitik logikaku saat tracking sejauh 4 km menuju air terjun Cinca Rami di Labuan Bajo, Flores. Air terjunnya tinggi sekali dan sudah jelas, energi kinetik yang dimiliki pasti sangat besar.

Cisarami

Air terjun Cinca Rami di Labuan Bajo, Flores

Dan aku sempat merasakan betapa kuat hembusan angin dan cipratan airnya. Pasti daya yang dihasilkan sangat besar.

Dan aku sempat merasakan betapa kuat hembusan angin dan cipratan airnya. Pasti daya yang dihasilkan sangat besar.

Ini baru ide dariku. Aku yakin, masih banyak lagi ide-ide yang lebih cemerlah dari anak-anak bangsa. Ideku ini belum seberapa. Jadi, jangan khawatir akan kesehatamu, bumi. Banyak energi alternatif yang dapat digunakan agar energi yang kamu miliki tidak hilang sepenuhnya.

Bumi. Sahabatku. Inilah caraku untuk meringankan beban yang sedang kau pikul. Doakan aku agar aku dapat mengajak orang-orang disekitarku untuk memahami kondisimu. Menghemat penggunaan energimu. Memang hal kecil yang dapat kulakukan. Tetap doakan aku ya bumi. Semoga hal kecil yang kulakukan juga dilakukan oleh seluruh penghuni dunia. Kalau dilakukan bersama, hal kecil bisa menjadi besar kan.

***

Akhirnya, walau meringis tapi aku bisa lihat bumiku mulai tersenyum. Menggenggam erat tanganku sambil berucap dalam bisik.

“Terimakasih sahabatku”

Begitu jelas guratan bahagia dalam wajah kusam sahabatku. Luar biasa aku dibuat merinding olehnya. Kubalas senyumnya dengan senyumku yang jauh lebih lebar.

Bumi, aku sayang padamu.

Category: Lensa Bercerita
  • Putri says:

    bumi itu seperti seorang ibu, merawat kita semenjak dalam kandungan hingga kita dewasa…dia tidak mengaharapkan balasan, curahan kasih sayang, perhatian dari kita anak2ny, dan melihat anakny bahagia adalah sebuah balasan yang dia butuhkan…jadi jagalah bumi ini seperti ibu kita sendiri…

    tulisannya bagus yu…mantap,semoga lebih bnyk lagi bahasan” lainnya…suksess

    December 13, 2012 at 1:21 am
  • fiz says:

    Bacaan Ringan Penuh Makna Tapi Dalem Banget Maksudnya, Tapi Sayangnya Belum Banyak Orang Mengerti Tentang Arti Pentingnya Lingkungan Ini Termasuk Saya Sendiri :D Siippp Bikin Tobat Kayaknya :)

    December 13, 2012 at 1:24 am
  • ayu emiliandini says:

    muhammad_ihsan :

    selalu ada pepatah “Bumi memiliki kulit dan kulit yang memiliki penyakit, salah satu penyakit yang disebut manusia”
    semoga kita sendiri yang “manusia” menyadari betapa pepatah itu cukup menampar kita sebagai “penghuni”
    betapa kita harus bersyukur, dan wujudkan rasa bersyukur itu dengan memelihara kembali tempat “rumah” alami kita ini

    mungkin istilahnya gini. manusia sebagai khalifah di bumi malah jadi penyakit bagi bumi itu sendiri. okay, I got it!! itu luar biasa menabok.
    Makasih komennya yah kak san

    December 13, 2012 at 7:01 am
  • ayu emiliandini says:

    Putri :

    bumi itu seperti seorang ibu, merawat kita semenjak dalam kandungan hingga kita dewasa…dia tidak mengaharapkan balasan, curahan kasih sayang, perhatian dari kita anak2ny, dan melihat anakny bahagia adalah sebuah balasan yang dia butuhkan…jadi jagalah bumi ini seperti ibu kita sendiri…
    tulisannya bagus yu…mantap,semoga lebih bnyk lagi bahasan” lainnya…suksess

    Dan kasih itu tak terhingga sepanjang masa. Ada rencana buat bikin tulisan tentang lingkungan lagi kok teh. Tenang aja.
    Makasih doanya ya teteh. Semoga sukses jg proyeknya yah teh putri…

    December 13, 2012 at 7:05 am
  • ayu emiliandini says:

    fiz :

    Bacaan Ringan Penuh Makna Tapi Dalem Banget Maksudnya, Tapi Sayangnya Belum Banyak Orang Mengerti Tentang Arti Pentingnya Lingkungan Ini Termasuk Saya Sendiri Siippp Bikin Tobat Kayaknya

    hahahaaa… ayo kang hafiz waktunya tobat hahaa.. kalo masalah ngerti gak ngerti, masa iyah siih gak ngerti masalah lingkungan. Bukannya anak2 berguru plumbing ke akang ya hahaha…
    makasih komennya ya akang..

    December 13, 2012 at 7:10 am
  • acmad says:

    good review mbak. mmng bumi kita ini sudah tua. skrg waktunya kita yang menjaganya.

    please kunjungan balikx di blog saya n mhon tanggapannya juga. trims

    December 13, 2012 at 1:27 pm
  • ayu emiliandini says:

    acmad :

    good review mbak. mmng bumi kita ini sudah tua. skrg waktunya kita yang menjaganya.
    please kunjungan balikx di blog saya n mhon tanggapannya juga. trims

    sudah tua memang pasti. tapi tua dan melemah. itu yang miris. makasih tanggapannya ya achmad.

    maaf saya gak bisa comment di blog kamu. saya gak punya ID goggle, blogspot, atau sejenisnya… link blog saya gak tercantum di option..

    December 14, 2012 at 12:02 am
  • ayu emiliandini says:

    dodod :

    *langsung keliling rumah… cari lampu yg bisa dimatiin… *pergi ke gudang belakang, bersiin sepeda yg dah lama gak dipakai…

    *bantuin masdod matiin lampu taman*. *bantuin masdod mandiin sepeda ontel*

    December 14, 2012 at 12:05 am
  • dinikopi says:

    Ayuuuu ini keyeeeen
    Sama satu lagi sih menurutku untuk membantu bumi tercinta, yaitu kalo peralatan listrik yang tidak terpakai, dicabut hingga ke kabelnya. Jadi nggak nyolok terus. Sederhana, tapi berguna! :D

    Moga menang ya Ayu :*

    December 14, 2012 at 12:21 am
  • Atra Nigiaka says:

    Ayuuuuu
    hohohooo tulisannya bagus. Moga menang dan bumi makin sehat yaaaa :D

    December 14, 2012 at 12:31 am
  • ayu emiliandini says:

    dinikopi :

    Ayuuuu ini keyeeeen
    Sama satu lagi sih menurutku untuk membantu bumi tercinta, yaitu kalo peralatan listrik yang tidak terpakai, dicabut hingga ke kabelnya. Jadi nggak nyolok terus. Sederhana, tapi berguna!
    Moga menang ya Ayu :*

    nah itu dia. diabut sekabel-kabelnya. tapi kalo kabel cinta kamu gimana? haahhaahha
    diniii makasih semangatnya yaa.. bismillah semoga berhasil. Amin..
    Sampai ketemu di jakarta. ahaha

    December 14, 2012 at 12:35 am
  • ayu emiliandini says:

    Atra Nigiaka :

    Ayuuuuu
    hohohooo tulisannya bagus. Moga menang dan bumi makin sehat yaaaa

    heii big bro. kita bantu bumi biar cepet sembuh yah tra. okesip!!! ahaha makasih doanya bro

    December 14, 2012 at 12:53 am
  • inibudi says:

    terlepas dari mistyping pada 4 kata yang aku temukan pada tulisan ayu, gaya tulis yang dipilih ayu menarik, melibatkan emosi pembaca, menjaga rasa penasarannya untuk menyelesaikan bacaan, tuntas.

    hhmm…. uraian tentang bumi di separo awal tulisan ilmiah, sangat sederhana dan mudah dicerna, bagus.

    oya yuk, bener ndak kalo ada semacam ketergesaan atau luapan semangat bercampur “emosi” pada penulisan paragraf2 akhir tulisannya ini.

    terus berkarya yuk! sipp

    December 14, 2012 at 7:22 pm
  • ayu emiliandini says:

    kang nemo :

    menarik tulisannya

    makasih akang (^_^)

    December 15, 2012 at 3:26 am
  • ayu emiliandini says:

    inibudi :

    terlepas dari mistyping pada 4 kata yang aku temukan pada tulisan ayu, gaya tulis yang dipilih ayu menarik, melibatkan emosi pembaca, menjaga rasa penasarannya untuk menyelesaikan bacaan, tuntas.
    hhmm…. uraian tentang bumi di separo awal tulisan ilmiah, sangat sederhana dan mudah dicerna, bagus.
    oya yuk, bener ndak kalo ada semacam ketergesaan atau luapan semangat bercampur “emosi” pada penulisan paragraf2 akhir tulisannya ini.
    terus berkarya yuk! sipp

    maaf maaf mistyping selalu aja ada heheehe..
    luapan semangat di paragraf terakhir? yeah itu naluriah yang spontan waktu nulis hehee.. terus berkarya, pasti! makasih masbud..

    December 15, 2012 at 3:29 am
  • Hiqmawan Nur Paza says:

    kereeen abiiss yu,,menginspirasi banget,,,awal untuk menyelamatkan bumi kita,,, :)

    December 15, 2012 at 8:37 am
  • ayu emiliandini says:

    Hiqmawan Nur Paza :

    kereeen abiiss yu,,menginspirasi banget,,,awal untuk menyelamatkan bumi kita,,,

    aku emang udah dari dulu keren wan. ahaaiiyyy…. hahahaaa

    December 15, 2012 at 9:20 am
  • tyas irna says:

    nice story!
    Sayangi bumi kita dari mulai hal kecil :)

    December 16, 2012 at 8:14 am
  • ayu emiliandini says:

    tyas irna :

    nice story!
    Sayangi bumi kita dari mulai hal kecil

    yes!! Makin banyak yang sayang, bumi makin cepat sembuhnya. thanks Tyas

    December 16, 2012 at 8:20 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 7 multiplied by 3?