Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Jangan Seperti Ini, Rea #61

Jordan sudah tak injak lagi pedal gas, tapi mesin mobil masih meraung pelan. Beralih pada pedal rem, ia injak pelan. Alasan yang sederhana. Agar mobil yang ia kendarai dapat berhenti pelan-pelan. Ada aku duduk di sisinya. Agar aku juga tetap merasa nyaman saat mobil berhenti. Tangan kiriku tak harus berhenti membelai puncak perutku karena terkejut. Berhenti di depan kantor. Jordan mengantarku sampai depan loby kantor. Setiap hari juga seperti itu.

Setelah permintaan Jordan semalam. Keinginan sangat logis karena keadaanku bersama malaikat kecilku. Permintaan yang sekaligus memberatkan daya nafasku. Antara membenarkan tapi aku juga ingin membantah. Sekali lagi aku paham kalau duniaku akan mengancam kesehatan darah dagingku. Kalau kuat saat sendiri. Jika berbagi tenaga dengannya, Jordan memang lebih jauh mengerti hal ini. Oleh sebab itu, dia mengkhawatirkan kami. Aku dan malaikatku. Aku dan masa depan kami. Aku dan hidup Jordan sekaligus.

Kalau begini caranya, sama saja berperang lagi melawan ego. Ayah, apa aku diizinkan untuk lemah? Jordan ingin mendispensasikan sebagian tenagaku.

Masih terlalu segar kutampik ingatan akan wajah Jordan semalam. Kerut diantara kedua alisnya. Beratnya pemikiran akan diriku. Bahkan aku masih terus membela dunia dan impianku.

“Dan aku sangat mencintaimu, Rea.”

Intonasi suaranya. Merendah tak berbisik namun menegas di pertengahan kalimat. Genggaman tangan yang sejuk sekaligus erat untuk dilepas. Luar biasa mengambil sebagian besar ruang dalam rongga otakku. Bergema. Berputar-putar hingga mengitari bagian dalam indera pendengaranku. Ini suara dalam pikiran tapi nyatanya sehidup realita.

Sentuhan sejuk di keningku. Lembut. Kemudian gaung dalam alam sadarku berhenti. Tiba-tiba. Jordan sudah sangat dengan denganku. Mengecup keningku. Setelah itu tersenyum segar. Sesegar udara pagi yang sebentar lagi ku hirup. Nanti setelah pintu terbukan dan keluar dari mobil. Senyum yang menenangkan di awal hari. Pagi, cerah, segar bersama senyum malaikat titisan Tuhan yang satu ini.

Tetap saja aku terusik dengan pemandangan semalam. Wajah letih dan berbagai pikiran takut bergerak selewat. Melintas cepat dalam visual kemudian tampak lagi senyum nyata Jordan. Masih bertahan disana. Aku tahu, senyum yang masih memberat dalam benaknya.

Benar adanya ia mencintaiku dan malaikatku. Malaikatnya juga.

“Have a nice day, honey.”

Satu tangannya membelai puncak ubun-ubunku. Sama lembutnya dengan tangan kiri yang gemar membelai malaikat cilikku. Kemudian kedua bola mata berputar ke tempat masa depannya bernaung. Masa depanku juga.

“Hai jagoan cilik. Jaga bundamu baik-baik ya. Kalau dia terlalu lelah, tendang saja perutnya. Biar bunda ingat kalau dia butuh istirahat.”

Tersenyum pada perut buncitku. Ini sangat, mengkerut. Kalau paru-paruku bisa kedinginan, mungkin organ ini sudah berkerut seperti bibirku. Terkatup rapat karena ikut mengkerut. Jordan masih tetap tersenyum. Besar cintanya saat kedua mata menatap jagoan kecil dalam perutku. Baru aku paham. Sudah saatnya aku mengalah.

Karena aku mencintainya.

***

Pintu mobil terbuka. Wanita hamil bersama satu tas jinjing dalam genggaman tangannya, keluar perlahan. Satu tangan lagi membanting pelan pintu mobil agar tertutup lagi. Jordan merendahkan kaca jendela di daun pintu mobil yang sama. Agar dapat membalas lambaian tangan wanita yang sedang ia perjuangkan kesehatannya. Baginya Rea adalah wanita yang kuat. Sekuat-kuatnya wanita, bagaimana jadinya jika harus berbagi tenaga dengan bayi mungil dalam kandungannya.

Logika ini yang mulai mengusiknya sejak miniatur dome mulai membanjiri satu sudut dalam ruang tidurnya. Akan terus terusik selama Rea terus bersikukuh bersama ambisinya. Tidak bersama dengan setengah tenaga yang tak lagi utuh.

Hanya punggung Rea yang terbit membelakangi. Langkah pasti bersama flat shoes cokelat, senada dengan konstum konsultan hebatnya.

Kaca jendela meninggi hingga tertutup sempurnya kemudian ia pijak lagi pedal gas. Tak perlu serba perlahan-lahan. Toh tak akan ada yang dua kali terkejut kalau ada respon tiba-tiba. Hanya dia dan stir dalam kendalinya.

Tangan kanan terus mengambil andil mengemudi. Sorot mata tajam hanya melihat kedepan. Tangan yang lain tak hiraukan kendali, menyambut headset yang sudah menyatu dengan ponsel. Sekali tekan kemudian screen ponsel menyala-nyala. Satu nama juga ikut menyala disana. Lawan bicara yang sedang ia tunggu panggilan telponnya.

Beberapa kali nada sambung monotone, akhirnya aku bunyi gemeletak. Telpon diangkat.

“Hallo, selamat pagi pak. Ini saya Jordan”

Nada ramah di pagi cerah. Perjalanannya menuju rumah sakit tempatnya bekerja.

“Selamat pagi nak Jordan. Pagi sekali menelpon.”

Tawa renyah yang tak kala ramah. Suara khas usia paruh baya yang mencoba membalas keramahan Jordan.

“Maaf mengganggu pagi-pagi begini pak. Saya ingin bertanya beberapa hal.”

Jordan masih memandang jauh kedepan. Kini kedua tangannya sudah berada di atas stir. Tak lagi ramah dalam garis-garis wajahnya.

Kukuh pada keinginnannya. Keinginan yang sudah ia pinta namun belum terjawab. Bukan berarti ia ingin menunggu. Maafkan aku Rea, hanya saja jangan bertindak seperti ini. Kandunganmu belum tentu sekokoh dirimu.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 plus 4?