Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Origami & Rooftop#2

Kedua kaki kokohnya masih bernyanyi. Nyayian dengan beat kencang. Pertama-tama berdentang saat meninggalkan Pak Aji berdiri melongo di sekitar lorong keberuntungan. Baginya yang sedang beruntung hari ini. Hentakan sol sepatu converse setengah merah dan sisanya hijau kusam. Entah kapan terakhir kali niat dicuci. Niat pun dipertanyakan. Lantas pernahkah dicuci? Biarkan Wira mengingat momen terakhir mencuci sepatu hebatnya. Sepatu segala medan itu hebat baginya.

Lorong usai masanya. Kemudian berdentang agak terpendam di koridor minuju lift. Tak senyaring saat melewati lorong. Tak ada dinding berhimpit yang memantulkan gelombang gaduh nyanyian sepatu dan lantai kayu berlapis plitur. Mengkilat. Kemudian lagu terhenti sejenak sembari menanti lift berhenti dan pintu lift terbuka.

Ting..

Angka lantai tempatnya berpijak berbinar sendiri setelah angka sebelumnya menyala. Menyusul suara gemuruh menggumpal. Pintu lift terbuka.

***

Nyayian langkahnya berkumandang. Belum sepenuhnya selesai. Bercampur suara gemeresak kantung plastik berisi belasan bungkus kertas origami. Ikut berguncang. Kertas di dalamnya juga beguncang sambil bergesekan dengan dinding kantong plastik. Tak akan begini jadinya kalau Wira mendekap kantung plastik erat di dadanya. Tapi berlari dengan tangan terkunci hanya akan menghalangi daya berlari saat berhadapan dengan gesekan udara. Masih udara dalam ruang gedung lantai terakhir.

Ditambah lagi tas kecil pembungkus camera SLR miliknya yang sempat disambar sembari berlari menuju pintu lift. Gelayutan di bahu kiri. Juga ikut berguncang namun guncangan tak separah kantung plastik. Kelima jari kirinya menahan daya guncang dari puncak tas kecil, jadi goyangan tak sebrutal plastik bar-bar di genggaman tangan kanannya.

Berbagai pasang mata seperti menerima sinyal alert dari indera pendengar pegawai lain. Keributan macam apa menjelang jam pulang kantor?Apa yang Wira tatap? Masa bodoh. Berlari saja sekuat tenaga menuju satu-satunya tangga yang akan mengantarnya pada tujuan akhir dari langkahnya.

Tersengal-sengal sudah pasti. Kalau berlarian dalam gedung seperti ini tak setara dengan mengitari bundaran HI di tengah-tengah hiruk pikuk kota Jakarta. Jadi lelah yang dirasakan, katakanlah belum seberapa. Tak ada apa-apanya.

Berdentang dan sekarang berubah jadi dentuman berat dan cepat. Bahkan lebih cepat dari langkah berlari di lahan datar. Sepatu hebatnya sudah menghantam permukaan tangga menuju rooftop. Tujuan utama. Tangga dibagi menjadi dua bagian. Ketika mencapai ketinggian setengah dari jarak utama antara lantai dan langit-langit, tangga berkelok ke kiri. Seperti tangga pada umumnya. Tangga emergency di berbagai gedung bertingkat pada umumnya.

Itu dia pintu terakhir. Pintu biasa setinggi 2 meter terbuat dari kayu yang dilapisi lembaran alumunium. Jangan tanya mangapa. Pintu rooftop sudah begini adanya sejah pertama kali Wira bergabung dalam perusahaan desain ini. Jabatan pertama saat itu drafter. Sekali ayun ganggang pintu sudah berputar dan pintu terbuka. Gerakannya pasti. Wira mengerahkan kekuatannya, tak setengah-setengah.

Memetik hasil dari perjuangannya berlari dari lantai 2 hingga lantai teratas, lantai 6. Rooftop. Begitu pintu terbuka, ada belaian halus mendorong sebagian rambutnya berdansa bersamanya. Kuat layak menampar namun masih dalam kelembutan angin sore kota Jakarta. Kalau harus mengatakan sejuk, bisa jadi demikian. Wira sedikit berkeringat. Terutama dibagian pelipis dan kening. Angin semacam ini cukup lah menguapkan keringat yang baru juga muncul dari pori-pori kulit.

Sedikit terlena sampai lupa kalau masih banyak hal yang harus ia lakukan. Kertas origami berbagai warna serta camera SLR di bahu kiri. Satu tarikan nafas. Kuat-kuat ia hirup bersamaan dengan fluida angin yang menyambut kehadirannya di ruang terbuka. Kemudian dilontarkan sama kuatnya melalui mulut. Pertama ia gembungkan bagian pipi, lalu ditiupnya hembusan nafas. Lega. Bersahaja.

Perhatiannya tertuju pada satu dinding. Bukan satu-satunya dinding. Ada empat dinding yang membentuk seperti kubus nyaris sempurnya. Tiga diantaranya dinding polos putih keabu-abuan. Usang. Satu dinding lagi tempat pintu bernaung sebagai sarana keluar-masuk manusia semacam Wira.

Dari tiga dinding polos. Wira memilih satu dinding. Ukurannya sama saja. Hanya letak yang lebih dramatis. Menurutnya. Jadi dinding ini berhadapan langsung dengan sudut matahari terbenam. Lahan kosong di depan dinding ini adalah lahan terluas di rooftop. Jadi dinding berbentuk kubus terletak di bagian sisi lantai teratas gedung ini. Bukan ditengah-tengah.

Wira tanggalkan pelan-pelan tas hitam, rumah mungil camera SLR kesayangannya dan kantung plastik berdampingan di depan dinding pilihannya. Awalnya memang dinding ini berwarna putih keabu-abuan. Usang dimakan angin setiap saat dan hujan kota Jakarta. Hujan asam mengikis warna utama dinding. Itu dulu. Berkat ide brilian sekaligus kurang kerjaan, Wira menempeli bidang dinding ini dengan origami. Warna-warni. Sudah ia lakukan selama 5 hari terakhir. Sambil bersumpah dalam batin, ini adalah hari terakhir.

Angin menari gemulai, melambat. Kalau angin pertama geraknya menampar, kali ini pelan. Sepoi-sepoi. Tapi daya sepoi angin mampu menyuntikkan tenaga baru dalam imajinasinya. Motoriknya lincah lagi. Saatnya beraksi.

Dengan teliti Wira memilih kertas origami dari deretan warna mejikuhibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu). Sekitar dua sampai tiga kertas dalam genggamannya. Telaten ia oleskan lem khusus perekat kayu pada bagian belakang kertas origami. Sengaja. Berharap agar lem bekerja optimal, kertas origami yang sudah tertempel di dinding tak terikut terbang terbawa angin. Jadi bertahan di tempat. Di permukaan dinding.

Dinding ukuran 4 meter × 3 meter sudah bukan lagi putih atau nyaris abu-abu. Tapi sudah seperti mozaik warna warni dari kertas origami dalam berbagai ukuran. Sesekali bagian ujung-ujung origami melambai bersama angin yang datang. Wira tak melumuri lemnya sampai rata. Tak terlalu penting, selama kertas menempel di permukaan dinding dan selesailah perkara.

Belum sepenuhnya permukaan dinding tertutup origami. Maha karya miliknya belum selesai. Tapi sumpah dalam benaknya berkata, sebentar lagi rampung. Langkahnya seperti mondar-mandir. Dari tempatnya meletakkan belasan bungkus kertas origami bersama lem kayu. Memilih warna dan ukuran yang sesuai dengan perhitungannya. Sudah terpilih maka saatnya mengolesi bagian belakang kertas dengan lem. Pelan-pelan dan tidak terlalu tebal. Wira sedikit terganggu kalau kertas origaminya menjadi basah karena lem terlalu banyak. Alasannya, merubah warna cerah kertas menjadi gelap.

Sudah diberi lem. Wira kembali bangkit dari posisi setengah jongkok, menghampiri bagian dinding yang akan ia tempeli kertas. Kalau beberapa hari sebelumnya ia membutuhkan tangga untuk menempel kertas di bagian atas dinding, saat ini tangga makan gaji buta. Wira justru harus berlutut, waktunya bagian bawah dinding yang ia jamah.

Lama-lama letih juga. Bolak-balik setengah berjongkok lalu berdiri, berjalan sedikit, kemudian berjongkok lagi, kadang-kadang berlutut. Peluh tak sempat menetes karena tergerus angin. Masih sepoi-sepoi dikala langit sudah mulai berubah warna. Sore menjelang petang.

Wira kembali berjalan menghampiri dua kertas origami. Dua kertas terakhir. Mengingat matahari tak lagi bersinar jingga, jadi harus cepat-cepat diselesaikan. Satu lembar berwarna merah dan satu lembar lagi berwarna ungu. Menyambut olesan lem kayu, pelan-pelan agar kertas tidak basah. Berlari kecil menghampiri bagian dinding terakhir. Selesai!!

“Huuaaaaahhh…. Akhirnya selesai juga.”

Luapan gemas bercampur pita suara dan hempasan nafas lega. Wira jatuh terduduk sambil menatap maha karya ratusan kertas origami di permukaan dinding rooftop. Kedua bola matanya menatap nanar ke berbagai sudut dinding warna-warni mirip mozaik. Warna acak namun rapih.

Dadanya berkembang dan mengempis tergesa-gesa. Seperti trampolin. Memantul. Tapi nafasnya tersengal-sengal ini mengandung makna puas. Sangat puas. Puas dan senang. Menerima penghargaan terhadap kinerja yang baik, naik pangkat. Masih dihari yang sama, karya origami selasai dalam 6 hari. Hari ini hari keenam.

Diam sesaat untuk mengatur nafas. Sudah teratur. Wira bangkit, menghampiri camera yang masih bersembunyi di balik rumah mungilnya. Penuh kasih sayang Wira keluarkan dan ia kalungkan di leher bekas peluhnya mengering. Berjalan lagi ke arah tempatnya jatuh terduduk.

Mundur beberapa langkah. Mundur agak jauh. Berjalan mundur sampai punggungnya dikejutkan oleh pagar besi setinggi setengah dari tubuhnya. Pandangannya masih menatap mozaik berukuran 4 meter × 3 meter. Dari kejauhan, mozaik membentuk pola. Dari tempatnya berpijak, pola terlihat sangat sempurna. Sesuai dengan perhitungan dalam imajinasinya.

Ia sambut camera yang mengantung di leher. Nyalakan camera. Mulai membidik. Bahunya membungkuk sedikit. Satu kelopak matanya tertutup. Jari telunjuk dan jempol kiri lihai memutar lensa camera. Klik!

Jepretan pertama. Wira meredakan cameranya. Melihat hasil shoot dari screen. Gelap. Baru ia sadari, langit sudah tak lagi sore. Pantas saja saat sedang asyik menempel kertas. Ia melihat sekelebat warna jingga di permukaan kertas warna-warni. Wira melewatkan sunset.

Sejauh ingatannya berlabuh tentang rooftop ini. Nampaknya ia pernah melihat lampu sorot di sekitar sini. Kepalanya berputar mencari keberadaan sang lampu. Kemudian kepalanya berhenti saat mengadah ke atas. Kedua matanya menatap cemerlang. Itu dia!

BERSAMBUNG

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

Earth orbits the ...