Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pertama di Depan Gerbang Sekolah #4

“Hai Wira. Kenapa nelpon tiba-tiba?”

Menyandarkan ponsel flip di depan daun telinga diantara helai rambut panjang yang tak sepenuhnya hitam. Naya punya warna rambut cokelat tua alami. Berkali-kali disamakan dengan rambut artis masa kini. Cokelat karena tangan kreatif orang-orang salon, tetap cokelat Naya lebih berkilau. Sama kilaunya tapi Wira cukup tahu mana yang palsu.

Senyum teruntai dari bibir mungil Naya. Walau sambil bicara, Wira selalu berhasil menangkap basah senyum semacam itu. Senyum khas Naya. Senyum yang akan selalu dipersembahkan kepada siapa saja. Berarti Wira dianggap sama dengan orang-orang disekitar Naya. Tak apa-apa. Suatu ketika mereka tersenyum sampai tertawa terbahak-bahak bersama, itu sudah lebih dari cukup. Tak banyak orang memiliki kesempatan yang dimiliki Wira. Bahkan saat pertama kali mereka bertemu. Kenalan. Dekat. Dan tak terpisahkan. Mereka sebut itu adalah dunia mereka.

Sejumlah gambaran yang mudah tergambar dalam angan-angan Wira ketika suara cerita Naya terdengar dari seberang sana. Suara khas perempuan ceria murah senyum, mudah tertawa dan mudah membuatnya ikut tertawa. Cukup membayangkan saja, Wira sudah seperti bertatap langsung dengan Naya. Sudah memahami Naya hingga sejauh ini. Seperti dalam satu dunia yang sama.

“Kalau bilang gak ada apa-apa kayaknya bohong ya? Tapi kamu gak lagi sibuk kan, Nay?”

Mengalir saja seperti fluida angin di rooftop sana. Dari tekanan tinggi ke tekanan yang lebih rendah. Atap kantor Wira mungkin berada di antara transasi kedua tekanan itu, jadi anginnya mengalir sambil melintas. Sekedar menguapkan titik-titik peluh di ujung hidung dan dahinya. Peluh saat menempelkan kertas origami.

Wira masih menyandarkan punggung kokohnya di sandaran kursi beroda nan dinamis. Cukup sekali daya memutar, kursinya sudah berubah haluan. Mempertemukan Wira pada pemandangan kota Jakarta dari jendela kaca raksasa. Di samping meja kerja yang akan ia rindukan kelak.

Sebagian bayangan dirinya terpantul tipis dari kaca. Kaca yang ia tatap lurus jauh keluar sana. Lampu-lampu berbagai warna dan kesibukan yang masih saja berwarna. Seperti kota yang tak pernah tidur.

“Dibilang sibuk sih gak juga, tapi memang lagi ngejar deadline. Minggu ini layout harus sudah selesai.”

“Itu namanya sibuk, Naya.”

“Eh, gitu ya?”

Gelak tawa renyah seperti meletup bersama. Ini lah bagian yang selalu Wira sukai. Keringanan suara Naya yang disertai dengan keluguan. Dulu mereka selalu punya kesempatan tertawa renyah seperti ini bersama. Kalau sudah menyangkut realita dan pekerjaan, ponsel jadi penghubung tawa mereka. Sama-sama berkutat di Jakarta, tapi Jakarta sudah seperti benua kalau diukur diameter terjauhnya. Diukur dengan taxi atau angkutan umum. Seisi dompet bisa menguap konyol. Luasnya Jakarta.

“Jadi sekarang aku ganggu dong?”

Kesimpulan singkat dari deskripsi yang dipaparkan Naya. Paparan bersama suara yang melantun. Wira seperti menemukan alasan untuk terus tersenyum bersama keceriaan Naya. Sekarang bisa senyum-senyum, toh Naya tak lihat langsung. Berarti Wira harus menahan senyum saat sedang bersama? Bisa jadi. Kapan waktu itu terjadi, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

“Gak kok, Ra. Aku udah nyicil kerjaan dari jauh-jauh hari. Pas rapat redaksi juga katanya layout bulan ini sudah ok. Cuma diubah dikit. Biasa, masalah warna dan tata letak kolom.”

Deretan kalimat. Lincah seperti sedang melompat-lompat riang. Meluncur begitu saja dari mulut Naya. Pasti saat sedang bicara, mulut Naya lebih mirip mbah dukun beserta mantra. Komat-kamit. Wira tersenyum sambil mengatupkan bibirnya erat-erat. Menahan tawa. Imajinasinya benar-benar menggambarkan Naya sedang komat-kamit di sisi kendi berisi air. Asap putih tipis yang jarang-jarang juga mengepul dari dalam kendi. Tapi Naya komat-kamit sambil tersenyum lucu. Senyum bocah. Lengkap sudah kejahilan otak Wira.

“Yaudah kalau begitu kamu tetap selesaikan layout sambil dengerin aku. Aku punya kabar baik.”

“Kabar baik? Apa itu?”

Pertanyaan riang muncul tiba-tiba. Imajinasi Wira bermain tebak-tebakan lagi. Pasti Naya membuka mulutnya lebar-lebar. Kedua mata lebarnya membelalak. Kedua alis rapihnya pasti mendadak melompat seperti trampolin. Naya sudah dianugrahi alis yang sempurna. Tak seperit artis ibu kota yang repot menyukur alis dan disulam sana-sini.

“Tadi siang menjelang sore aku dipanggil sama Pak Hari—“

“Direktur kamu, Ra?”

Belum sampai selesai kalimat Wira, tapi Naya sudah menimpali. Respon yang cukup cepat. Memastikan saja sebelum Naya salah memahami cerita Wira. Dalam ingatannya, Naya pernah dengar nama itu. Wira pernah cerita padanya.

“Iya, big boss. Tapi tenang aja Nay, aku dipanggil bukan karena berulah atau apa—“

Daya sarafnya wajahnya muncul lagi. Menarik ujung bibir Wira lagi. Tersenyum lagi. Sambil membayangkan cerianya respon Naya nanti, setelah tahu kabar apa yang akan Wira sampaikan. Wira menarik nafas lembut dan dihembuskan halus-halus.

“Tapi karena aku naik pangkat. Sekarang jabatanku Chief Designer.”

“Serius, Ra? Tiba-tiba bisa naik jabatan. Selamat ya Wira. Kamu emang pantes ngedapetin posisi itu.”

Senyum Wira merekah lagi. Disambut juga dengan degub-degub mirip meletup dari balik tulang rusuknya. Kalau diraba, akan terasa ada yang melompat-lompat di dalam sana. Melompat sambil berdegub. Keributan ini hanya Wira yang merasakan. Tak terbayangkan lagi bagaimana ekspresi Naya. Perhatiannya dikejutkan dengan jantung yang tiba-tiba menggelar pertunjukan marching band.

Segala yang terjadi dalam ruang direktur, Wira ceritakan sepintas. Sengaja. Memancing Naya untuk terus bertanya karena penasaran. Bagi Wira, tak sulit menarik perhatian Naya. Mungkin bagi lelaki lain sulit. Itu bukan perkara sulit untuk lelaki nyentrik seperti dirinya. Wira beruntung. Keberuntungan dari Yang Maha Kuasa, karena ia berada di dalam satu dunia. Dunia yang sama dengan Naya.

Tercetuslah janji bertemu di sebuah cafe dekat kantor Naya. Meski weekend, Naya tetap harus ngantor karena deadline layout yang ia kerjakan jatuh di hari itu. Hari sabtu. Pas di hari sabtu.

“Jadi kita ketemunya sore sekitar jam 5. Gak apa-apa kan, Ra?”

“Gak masalah. Intinya besok aku yang traktir.”

“Asyik!!”

Selalu suka keceriaan Naya yang awet sepanjang masa. Bahkan ketika Jakarta sudah berkelap-kelip.

***

“Ayo lah pak. Saya kan baru terlambat 5 menit.”

“Lima menit gimana? Ini sudah terlambat jauh. Jam tangan kamu yang habis baterai.”

“Ya bapak, jam tangan saya gak salah pak.”

“Tapi kamu salah, Wira. Kamu datang terlambat lagi pagi ini. Bel tanda masuk sudah setengah jam yang lalu.”

Terus seperti itu. Pembelaan Wira tak diindahkan barang sedetik oleh satpam sekolah. Bapak paruh baya berseragam kemeja putih dan celana kain biru gelap ini sudah kepalang gerah dengan rutinitas Wira. Kutinitas berhias terlambat karena bangun kesiangan. Mau improvisasi dengan gaya apa pun, pak Kasto sudah bebal. Telinganya sampai kapalan mendengar kelihaian Wira menyusun alasan agar diloloskan masuk ke dalam kelas.

Dari kejauhan seperti ada yang meronta-ronta. Terdengar mengepak-ngepak seperti sayap burung. Semakin lama, kepakan sayap itu menjadi makin stereo. Wira menghentikan sejenak usaha meluluhkan hati pak Kasto.

Belum sempat memutar kepalanya ke belakang, si sumber suara sudah menyusul tepat disamping Wira. Suara mengepak itu ternyata suara langkah berlari dari seorang gadis. Begitu berhenti di samping Wira, gadis ini sudah megap-megap. Mirip ikan mas yang diangkat dari perairan empang.

Wira hanya terkesima di tempat. Antara bersyukur karena ia tak sendiri dan terkesiap dengan penampakan gadis yang terlewat mungil baginya. Bagi Wira yang memiliki tubuh menjulang tinggi. Terlatih melompat di bawah ring basket atau sekedar three point.

Sempat membungkuk sebentar untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Mengisi bagian paru-paru yang pasti juga berukuran mini. Kemudian tubuh mungil ini menegak lagi punggungnya. Melongo dengan pagar besi sudah tertutup rapat.

“Yah sudah ditutup gerbangnya.”

Tidak berbicara dengan siapa-siapa. Bergumam sendiri. Kalau bisa tertawa kencang, mungkin Wira sudah lakukan itu sekian detik setelah mendengar gadis itu bergumam. Kalau gerbangnya terbuka, aku sudah masuk dari tadi.

“Lho! Ini lagi terlambat.”

“Maaf pak saya telat. Semalam saya belajar matematika sampai larut terus ketiduran terus kesiangan pula. Makanya saya telat. Tapi tolong saya pak, saya ada ulangan matematika nih, pelajaran pertama pula. Ayo lah pak, saya udah bela-belain datang ke sekolah pake lari-lari begini masa gak bisa ikut ulangan.”

Belum ditanya alasan mengapa datang terlambat, makhluk mungil ini sudah nyerocos. Wira hanya bisa mendelik. Ditambah lagi wajah Pak Kasto yang berubah dari sangar menjadi datar. Tak sekedar datar, diantara alisnya ada kerut yang menimbang-nimbang paparan panjang lebar dari siswi SMA ini. Lebih tepatnya, siswi ini nyerocos sambil memasang wajah memelas yang kelelahan setelah berlari.

“Ya sudah kalau begitu. Toh saya juga baru kali ini liat kamu terlambat.”

Cukup sekali ayun, pagar besi bergeser sedikit. Minimal siswi mungil nan ceriwis ini dapat melewati celah yang Pak Kasto berikan padanya. Wira masih terperanjat di tempat. Sambil mendelik, mulutnya juga terbuka sedikit. Bengong sekaligus takjub. Begitu mudahnya korban yang satu ini lolos.

Belum sempat mengatur kata-kata, gadis itu sudah berada di balik pagar besi. Membelakangi. Nampaknya hendak berlari lagi. Wira hanya menelan ludah sambil bergumam dalam hati. Giliran cewek yang terlambat cepet banget responnya. Kesal bukan main, Wira melampiaskannya pada kerikil-kerikil mungil di sekitar kakinya. Ia tendang-tendang ke berbagai arah tanpa bersuara. Mana tahu dalam benaknya ada teriakan unjuk rasa tanda protes.

“Pak, kenapa dia gak ikut masuk? Kan dia sekelas sama saya, dia juga ikut ulangan matematika.”

Wira terkesiap lagi. Tubuhnya buru-buru berputar lagi menghadap pagar besi yang belum sepenuhnya tertutup.

“Jadi kalian ini satu kelas ya?”

Pak Kasto juga sama saja terkesiap seperti Wira.

“Iya pak.”

Dengan gerakan gesit pula gadis ini kembali melangkah ke luar pagar dan menarik tangan Wira yang masih bengong seperti orang bodoh. Wah? Sekelas sama aku? Tapi kok gak pernah liat? Anak baru gitu yah? Tapi perasaan hari ini gak ada jadwal ulangan apa-apa deh. Dan masih banyak lagi pertanyaan dalam kepala Wira.

Telapak tangan mungil sukses menggapai tangan Wira dan menarik tubuh jangkung itu sekuat tenaga. Dalam sejarah hidupnya, baru kali ini ia diselamatkan oleh gadis yang tak pernah ia lihat keberadaannya di sekolah. Bahkan sejak pertama kali ia belajar di sekolah SMA ini.

Wira mengikuti langkah gadis ini. Setelah selesai melewati celah sempit yang tadi dilalui gadis itu, Wira mengimbangi langkahnya. Gadis itu berlari di koridor.

“Makasih ya Pak Kasto.”

Langkahnya kembali beradu di atas koridor sambil menghabiskan kalimat terimakasih padaPak Kasto. Tangan gadis itu masih menarik pergelangan tangan Wira. Sembari terus berlari, tangan gadis itu terlepas begitu saja. Wira menghentikan langkahnya pelan-pelan. Dalam penglihatannya, gadis itu terus berlari. Rambut panjangnya berayun gemulai, seirama dengan setiap langkah yang mendarat dan bahu yang berguncang. Hingga sosok mungil itu berhenti di sebuah pintu kelas. Mengetuk. Membuka pintunya. Sedikit menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lalu hilanglah dia dari balik pintu. Pintu kelas tertutup lagi.

Wira tetap diam di koridor. Menatap lekat-lekat pintu kelas yang sudah tertutup. Satu tangannya menggaruk-garuk kepala bagian belakang, sebenarnya tak benar-benar gatal. Otaknya gatal. Jadi dia anak kelas 2 ipa 1.

***

Percakapan dalam telpon berakhir. Wira masih belum sanggup meredakan senyum yang menarik ujung bibirnya. Daya itu terlalu kuat untuk di lawan.

Kursi kerja Wira berputar lagi. Tak sengaja sepatunya menabrak salah satu kardus di lantai. Ada kalender duduk di dalam kardus. Wira gapai, spontan. Punggungnya membungkuk lalu bersandar lagi ketika kalender sudah di dalam genggaman.

Satu angka mungil terbingkai coretan pulpen merah. Melingkar. Kalimat mungil diatas tanggal tersebut. Letaknya menyerong agar tak menutupi angka yang lain. Naya’s birthday.

BERSAMBUNG

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 9 multiplied by 4?