Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Hari ini

Kamis. Kuliah Sumber Daya Air yang ternyata dosen berhalangan hadir (lagi). Kemudian dilanjut dengan kuliah Desain Pengolahan Biologi sampai menjelang sore. Sempat beberapa kali hujan besar, terus gerimis kemudian washout lalu hujan lagi karena langit mendungnya masih bersisa. Begitu terus, tapi gak masalah. Aku bawa jaket, pake kupluk dan bawa payung. Sudah siap basah. Tapi bukan berarti basah-basahan kaya iklan pompa. Video clip india aja sekalian. Haaha…

Selesai kuliah, masih gerimis.

Ada wacana yang kebelet pengen jadi rencana. Nonton. Nonton apa? Terserah yang penting nonton. Nonton dimana? Terserah yang penting nonton. Jam berapa? Okey jam 7 malam.

Jam tangan unguku bisik-bisik berisik.

“Sekarang masih jam 6 kurang. Masih sempet mandi.”

Bisik masuk lewat telinga, terus diantar pake saraf, kemudian otak memproses cepat. Ide yang bagus.

Pendek cerita akhirnya nonton. Aku dan teman-teman wacana yang kebelet jadi rencana, terealisasikan juga akhirnya. Antrian tiket nonton gak panjang-panjang banget. Ini kamis. Bukan sabtu atau minggu. Dua hari itu haram hukumnya datang ke mall. Kenapa? Gak ada gunanya. Refreshing kalo buntalan manusia menggumpal di mall apa lagi bioskop, sampai lesehan sambil nunggu  pintu teater dibuka itu kurang lebih penat. Mending aku tidur. Atau autis sama tulisan sendiri. Ya kayak gini.

Ditimbang-timbang sambil ngantri tiket. Antara 5 cm atau Habibie dan Ainun. Sama-sama film Indonesia. Sama-sama recommended, tapi timbanganku berat ke Habibie dan Ainun. Teman-teman yang lain mengikuti. Ya sudah lah.

***

Duduk manis, riuh penonton lain yang masih mondar-mandir. Layar lebar sudah pasang intro. Iklannya banyak juga. Tapi agak gak biasa. Mungkin sponsor dari film yang mau aku tonton. Bisa jadi. Terus? Tetep aja nonton. Aku gak mikirin iklan. Bukan urusanku.

Film dimulai. Air segar untuk kedua mataku. Imajinasi dimulai

***

Filmnya tentang perjalanan hidup dua anak manusia hebat. Anak-anak bangsa yang luar biasa. Sudah diatur Tuhan, jadi mereka lahir seperti satu paket. Yang satu jenius yang dianugrahi penyakit TBC tulang. Yang satu lagi dokter keibuhan yang luar biasa kuat.

Masalah jalan cerita, aku gak mau bahas. Mau tau ceritanya? Nonton aja sendiri. Tapi aku mau bahas beberapa hal. Yang menurutku menarik. Filmnya memang menarik. Mataku sampe gak mau kedip. Biar sembab juga tetep gak mau kedip. Hebat yah. Bukan mataku yang hebat. Indonesia hebat, punya dua manusia hebat dan kisahnya dikemas dengan tampilan yang hebat. Hebat.

Setting waktunya beragam. Sejalan dengan perjalanan kisahnya. Dari berbagai dialog dan nuansa vintage. Orang jaman dulu lebih romantis ya. Serius. Kalo ngomong itu gak pake embel-embel. Apa adanya. Bahasa kerennya itu to the point. Kalo jaman sekarang kepanjangan prolog sama epilog. Isinya kadang gak ada. Ya itu, biasa disebut gombal. Hehehee… Tapi bener lho. Banyak kalimat sederhana yang bikin aku melongo. Kaget sampai seisi teater ketawa ngakak. Bukan lucu, tapi hal sederhana yang apa adanya itu terkesan polos dan lucu bagi orang-orang yang hidup di zaman sekarang. Termasuk aku.

Kemudian istilah-istilah ilmiah yang jadi tambahan ilmu baru untuk aku. Keren. Seperti rancangan gerbong kereta api yang bisa bertahan dengan tekanan 200 ton. Rahasianya? Elastisitas. Itu sangat masuk akal. Kalau daya besar dilawan dengan kekakuan, material itu akan hancur. Meledak. Tapi kalau dipertemukan dengan material yang lebih ringan, hanya akan berubah bentuk kemudian kembali ke wujud semula ketika tekanan berakhir. Sesimpel itu ternyata. Sekali lagi, hebat.

Lalu perjalanan karir yang semakin tinggi maka semakin kencang anginnya. Perjalanan yang disertai kekuatan satu sama lain. Mereka berdua ini sudah seperti satu material utuh yang akan rapuh kalau satu sisinya hilang. Benar-benar satu. Hebatnya cinta mereka.

Ini nih yang bikin mata saya terus melongo, biar berair atau sembab , tetep aja melek.

***

Kemudian selesai. Aku sudah tau handphoneku getar daritadi. Aku letakkan di dalam tas dan tas aku pangku, jadi getarnya terasa. Aku abaikan saja. Lagi asik nonton.

Film selesai, aku buka handphone. Dan subhanallah..

Ayu, selamat ulang tahun! Semoga Ayu selalu mendapat segala yang terbaik dari Allah, amin o:) (Hutomo Herlambang)

Kawan dekat di Jinggaswara. Sempat berjuang bersama di sana. Sekarang jarang bertemu karena aku sudah memilih vakum bernyanyi. Urusan kuliah dan tetek-benyek nya memang menguras perhatian waktu keseharian. Tapi tetep punya waktu buat nyampah di blog. Hehehe…

Amal yang lagi duduk di sampingku juga tiba-tiba meluk. Katanya, selamat ulang tahun. Dan mataku perih, basah lagi. Itu masih di dalam teater yang mulai sepi. Aku malas buru-buru berdiri dari kursi.

Dan aku dapan ucapan spesial dari salah satu orang hebat yang pernah aku kenal.

screen_20121221_0010101***

Siapa yang bilang hari ini kiamat?

Category: Aku, Lensa Bercerita
  • ardik says:

    Happy birthday ayuuu :)

    December 20, 2012 at 7:00 pm
  • ayu emiliandini says:

    ardik :

    Happy birthday ayuuu

    makasih ardik… ;)

    December 20, 2012 at 9:14 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What do bees make?