Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Kedua di Lapangan Upacara #5

Pantulan cahaya berbagai warna. Sempat biru lembut yang berbinar lalu berganti cepat dengan rona kemerahan. Berpindah cepat lagi. Kini lembayung menyelimuti keseluruhan wajah Naya. Mungkin bagian mata tak ikut terpapar. Ada lensa anti radiasi, jadi cahaya datang balik mantul. Standby hampir satu setengah jam di sana. Nyantol di tulang mancung hidung . Bagian tangkai melengkung juga bersandar di tulang rawan telinga perempuan ini. Tertutup lembaran cokelat berkilau lembut. Selembut rambut bayi.

Berpayung kacamata anti radiasi yang datangnya dari screen. Sepasang bola mata mungil entah sibuk atau lincah dari sananya. Pupilnya kesana kemari. Wajahnya bergeming di tempat. Dua bola hitam putih itu juga, tapi berputar-putar di tempat. Sesekali kelopaknya buka-tutup sambil melumasi. Otomatis.

Gak sorot mata, gak tikus tanpa buntut di tangan kanannya. Di genggamannya. Tikus bertombol. Kalau ditekan ada suara klik. Ditekan berkali-kali jadi klik.. klik.. klik.. Seperti latar bunyi di ruang mungil minimalis tempatnya bernaung bersama pc di depan dan mouse dalam genggaman jari lentik. Jari kurus, terkesan jengjang. Padahal hanya kurus saja. Kecil. Mungil.

Bisa saja ia langsung terlelap setelah pulang kerja sore-sore senja tadi. Mandi sejenak, asupan relaksasi untuk tulang belulang yang diselimuti oto dalam tubuhnya. Kemudian asupan nutrisi untuk lambung. Makan malam. Setelah semua itu. Alih-alih mengantuk. Otot sudah santai setelah bersentuhan dengan air hangat. Tenaga juga pulih lagi setelah asupan makan malam bergizi. Terlalu bertenaga untuk tidur.

Bekerja di salah satu redaksi majalah remaja, durasi bulanan. Ini akhir bulan, jadi harus bersiap meluncurkan edisi bulan depan. Desain layout sudah diasistensikan pada seluruh crew yang ikut campur tangan dalam bidangnya masing-masing. Tak ada masalah. Hanya revisi sedikit. Hanya bagian sudut-sudut kecil yang tak luput dari perhatian. Bagaimana layout nantinya mempengaruhi aura artikel yang menimpanya. Background.

Bunyi klik-klik punya pesaing baru. Getaran material perpaduan logam, plastik dan karet. Ddrrrttt… ddrrrtttt… Kalau klik-klik mouse datangnya dari sebelah kanan. Bunyi benda bergetar datangnya dari sebelah kiri. Punya screen juga, sama seperti pc di hadapannya, tapi ukurannya jauh lebih mini. Lebih sempit. Menyala-nyala lampunya.

Naya paham ponselnya bergerat. Bukan tak mengindahkan, hanya menggapainya tanpa memutarkan kepala barang secenti. Hafal letak ponselnya tergeletak sambil meraung dalam getar. Sudah digapai. Sudah dalam genggaman. Masih bergetar tapi suaranya mirip terpendam dalam kulit Naya. Masih juga merasa tanggung barang sedetik . Tapi ponsel terus merengek. Hitungan detik bisa merajuk lalu berhenti bergetar.

Tanpa terlalu niat, hanya ingin tahu siapa yang menelponnya. Melirik. Cuma bola mata yang menyerong. Sukses mengeja nama dalam screen ponsel berkelip, seisi kepala utuh berputar. Menatap sepenuhnya. Menatap sambil menelengkan kepala. Wira?

Utusan singkat dari pusat saraf, jempol menekan satu tombol. Getar berhenti. Lampu menyala konstan. Ponsel menyatu dengan daun telinga Naya.

“Hallo”

Kata pembuka dari seberang sana. Tenang melantun berat. Tidak serak. Tidak sengau seperti penyanyi yang belakangan ini konser di berbagai tempat. Tenar dengan selogan “Kalian luar biasa”. Berat namun jernih sebening kristal. Beningnya menghentikan klik-klik si tikut tanpa buntut.

“Hai Wira. Kenapa nelpon tiba-tiba?”

Tak hanya kepala, kini tubuh utuh naya sudah mengabaikan pekerjaan kantor. Pekerjaan kantor dalam rumah, dibawa pulang. Pekerjaan yang membenamkan wajahnya dalam sorotan warna-warni layout. Tapi tubuhnya menanggalkan itu sejenak. Sementara. Wira mencuri perhatiannya. Utuh. Penuh.

Mengamati, seksama sekali. Ketenangan yang melantun berat tapi mengalun. Semburat senyum Wira dalam benak pikiranya. Keteduhan Wira saat menatapnya. Segalanya berkeliaran seperti bebas beterbangan di otaknya. Ini lebih dari berbagai gradasi warna yang ia kenal. Sensasi hanya ia yang paham. Hatinya paham. Saraf pusatnya juga paham. Refleks tak terencana. Sudut bibir mungilnya tertari ke atas. Melekung bulat sabit menyerupai bentuk bibirnya. Naya menikmati.

“Kalau bilang gak ada apa-apa kayaknya bohong ya? Tapi kamu gak lagi sibuk kan, Nay?”

Mengalun lagi gelombang tenang dan teduh. Indera pendengarannya menerima dengan suka cita. Indikatornya nyata. Senyum simpul tipis masih bertahan terus disana. Belum pudar. Bagaimana bisa pudar? Sepanjang ceritanya, belum pernah pudar. Berkembang lebih merekah bisa jadi. Merekah dari saat pertama hingga kini.

“Dibilang sibuk sih gak juga, tapi memang lagi ngejar deadline. Minggu ini layout harus sudah selesai.”

Jelasnya Naya menjelaskan apa yang sedang terjadi. Tadi siang hingga sore di kantor dan saat ini di kamar mungilnya. Sesekali tertawa renyah bersama. Dilihat dengan mata telanjang memang Naya seperti tertawa sendiri. Dalam pendengaran, ada suara berat melantun damai ikut tertawa bersama dirinya. Lagi-lagi Naya menikmatinya.

Ada rona berwarna dari aura mata perempuan ini. Sejak tersenyum tiba-tiba hingga terus tersenyum selama Wira terus bicara dari seberang sana. Darah di pembuluh kapiler mengalir lebih kencang. Terutama disekitar wajahnya. Gesekan bulir darah seperti bergesek kuat dengan dinding kapiler. Menghangat dan bersemulah wajah Naya. Merah jambu.

***

Untung saja pagi ini tak jadi pagi yang penyebalkan. Siklus alamiah yang akan dialami wanita di belahan dunia mana pun. Kecuali wanita jadi-jadian. Sayangnya siklus datang tiba-tiba. Datang saja tanpa permisi kemudian mengejutkan segala bentuk otot-otot perut Naya. Baru juga pelajaran pertama dimulai, perih melanda sebagian perutnya. Melilit saja nampak tak cukup mewakili. Kalau cucian butuh diperas agar kandungan airnya berkurang dan mudah dikeringkan oleh sinar matahari. Perut Naya bukan cucian basah, tapi pagi-pagi cerah sudah ada daya aneh yang memeras kuat. Sakit.

Sudah insting, pasti ini sudah waktunya tamu bulanan datang menjenguk. Setia betul tamu yang satu ini. Bagaimana tidak, kalau telat menjenguk juga bisa buat resah berhari-hari. Lebih baik dijenguk setiap bulan saja. Walau melilit pelik yang penting dijenguk.

Naya tetap beruntung. Pagi akan tetap cerah. Secerah nuansa hatinya. Sepertinya perkara datang bulan tak akan meredupkan sinar cerah langit pagi. Sesekali perutnya masih terasa diputar-putar dengan tekanan tinggi. Biarkan saja berputar, toh tak perlu khawatir lagi sekarang.

Langkah riang menyertai perjalanan Naya kembali menuju kelas, dari toilet. Pelajaran bahasa Inggris bisa jadi sebuah supply energi riang baginya. Pelajaran yang tak merepotkan otak imajinatifnya. Sambil berdendang dalam hati. Lagu-lagu gembira.

Melewati koridor yang berhadapan langsung dengan lapangan basket sekaligus lapangan upacara. Lapangan persegi panjang ini punya empat sisi. Koridor yang akan Naya lalui, berhadapan langsung dengan salah satu sisinya. Lapangan semen, permukaannya berkilau cemerlang saat cahaya matahari tak sekedar menyinari. Cahaya datang menabrak permukaan semen. Lalu memantul ke segala arah, menginat permukaan semen tak rata sepenuhnya. Ada bulir pasir yang mencuat, ada juga yang tenggelam mirip cekungan.

Lapangan tak seberapa ini bisa jadi dramatis hanya karena jatuhnya cahaya matahari di permukaannya. Mata Naya sangat sensitif dengan hal-hal menakjubkan macam peristiwa permukaan lapangan yang berkilau. Orang awam tak menjangkau penglihatan sampai sejauh ini. Tapi Naya melihatnya, bahkan dengan kasat mata.

Kemudian penglihatannya menangkap ada hal lain. Cukup mengejutkan. Naya juga terkejut seketika. Kepalanya meneleng sambil terus menatap ketidakwajaran itu. Tak wajar. Berkilaunya permukaan lapangan seperti terhalang dengan satu tubuh kokoh. Untuk ukuran Naya, tubuh itu menjulang tinggi. Lebih dari sejengkal dari ubun-ubunnya.

Tadi melangkah riang, kini mirip mengendap-endap. Mendekati sisi lapangan. Namun tertahan oleh pilar bangunan gedung sekolah. Pilar dari kayu, sama kokohnya dengan tubuh itu. Tubuh berdiri menghadap tiang bendera yang berkibar kain merah-putih di puncaknya. Posisi hormat dan kepala mengadah ke atas. Bukan menantang. Bahkan mata sang pemilik tubuh memicing silau, walau sudah berpayung telapak tangan posisi hormat.

Naya sudah menyandarkan setelah berat tubuhnya pada pilar kayu tempatnya mengintip. Percuma juga, tubuhnya tak tertutup seluruhnya. Minimal ia bisa gunakan pilar untuk menyembunyikan wajahnya saat pemilik tubuh menyadari dirinya sedang diamati.

Kelopak mata Naya ikut memicing. Bukan silau. Kerut diantara alis seperti kemjembatani alis rapihnya. Salah satu anugerah yang ia dapatkan dari ras keluarganya. Gulungan film seperti bergerak memutar lagi. Ada tembakan cahaya tepat di badan film, sehingga muncul gambar bergerak. Naya terus meraba-raba, dimana ia pernah bertemu dengan lelaki jangkung ini. Nampak familiar tapi… Pernah liat dimana ya?

Terus menjatuhkan pandangan pada tubuh kokoh menantang di hadapan tiang bendera. Hitungan detik, ada yang bergerak dari tubuh itu. Naya tak ambil pusing. Wujud menjulang dari tampak samping kanan. Jadi Naya hanya menangkap separuh wajah lelaki itu.

Sibuk menebak film yang berputar dalam otaknya. Baru ia sadar, sang pemilik tubuh sudah memiringkan kepalanya sedikit. Menatap Naya dari tempatnya berjemur. Dua pasang mata, bertemulah mereka disana. Kelopak maya membulat penuh. Hal yang sama juga terjadi pada si jangkung berhormat.

Mata Naya membulat lebih penuh lagi. Tarikan nafasnya lebih panjang lagi. Ritme denyut jantungnya berirama beat. Tempo setingkat meningkat. Pelan-pelan tapi pasti. Lekuk ramah tiba-tiba bersemi. Siswa itu tersenyum. Manis sekaligus teduh. Naya masih terpaku. Tumben, otaknya butuh perpanjangan durasi untuk mencerna adegan yang sedang terjadi.

Tapi tak berlangsung lama. Tiba-tiba hadir seorang guru bertubuh tambuh menghampiri lelaki itu. Berkacak pinggang, melotot dan terkesan dibuat galak. Sang pemilik tubuh kokoh tersentak. Seperti pegas yang dikejutkan daya tiba-tiba. Kepalanya memantul lagi ke posisi semula, mengadah menatap bendara berkibar.

Baru lah otak Naya berhasil mencerna segalanya. Sekuat tenaga ia ingin tertawa, disaat yang sama dengan sekuat tenaga ia harus menahannya. Itu kan laki-laki yang terlambat kemarin. Jadi hari ini terlambat lagi? Ya ampu. Kecicikan dalam hati. Mulut terkatup rapat bersama empat jemari yang merapat.

BERSAMBUNG

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 8 multiplied by 7?