Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Kelas 2 Ipa 1 #6

Seingatnya, beberapa menit lalu ada niat ingin menyelesaikan pekerjaan yang ia bawa pulang. Pekerjaan rumah? Bukan. Layout yang ia bawa pulang. Lantas yang ia lakukan kini?

Duduk agak membungkuk. Tubuhnya condong kedepan sedikit. Kedua siku tangannya berpangku pada permukaan meja. Meja yang menahan beban pc beserta tikus wirelessnya. Kalau Naya termangu begini, beban meja bertambah sekian newton. Masih kuat. Sudah kodratnya di timpa beban ini itu, disini-disitu.

Siku berpangku malas. Kedua telapak tangan menyatu. Bukan sedang berdoa. Naya menggenggam ponsel dengan kedua tangannya. Menatap layar semoit. Sudah padam lampunya. Serupa dengan screen pc, entah sudah berapa lama Naya abaikan. Ponsel berbunyi dan Wira menyapa dari seberang sana. Seketika bagian tubuh lain tak mengindahkan apa-apa. Katakan “nanti dulu” untuk layout yang harus ia selesaikan. Deadline besok. Hari sabtu besok. Nanti saja.

Tak ada yang benar-benar ingin ia lihat dari permukaan ponsel. Menarik pun tidak. Bukan masalah apa yang sedang ia lihat. Ini tentang apa yang sedang ia simak. Apa yang ia ulas. Apa yang ia lakukan? Menyimak baik-baik, fenomena yang baru saja terjadi.

Menggambarkan Wira dengan permainan otak kanan. Saat berkata, alis dramatis yang selalu sepadan dengan sepasang mata teduh. Dalam gerakan-gerakan kecil setiap kali ekspresi wajahnya berubah. Ketika hanya mengatakan “Hallo”.

Kesendirian yang sudah hilang. Pergi jauh-jauh tak jelas kemana sudah perginya. Hadirnya pelan-pelan seperti perlahan. Seperti melangkah dengan gaya mengendap. Pelan-pelan agar dentum sol sepatu tak mengejutkan apa pun. Begitulah hadirnya Wira. Naya tak lagi mengagumi keindahan visualisasi imajinasinya sendiri. Satu-satunya sudut yang terus ia datangi. Beralasan untuk ditemui berkali-kali. Berbagi khayalan yang dapat ia bagi. Dunia yang ia naungi. Dulu sendiri, sekarang tidak.

Ada yang menggelitik salah satu organ dalam tubuhnya. Geli dan selalu membuat tertawa mudah. Tersenyum mudah. Senang mudah. Semakin mudah saat membaginya bersama Wira. Fenomena yang tak ia pahami. Ketika Wira datang. Duduk di hadapannya. Ikut menggoreskan pikiran bersama pensil dan kertas. Tak bicara. Hanya senyum setelah itu. Seketika dirinya berkata lantang. Tepat sekali.

***

Teeeett!! Teeett!!! Teeettt!!!

Dan ratusan penghuni puluhan kelas berhambur. Mencuat dari pintu masing-masing. Tumpah ke koridor. Mengalir dalam permukaan yang datar. Merambat pelan-pelan memenuhi segala jenis sudut hingga pojok. Berbelok ke kantin sampai bagian paling terekspos pada bangunan gedung ini. Lapangan basket. Satu lahan lapang yang dapat diakses dari berbagai sudut. Dari posisi mana pun dapat menjatuhkan pandangannya pada lahan eksis yang satu ini. Sudah jelas, siapa yang menjadi bintang laga di sana, termasyurlah dia. Fenomena klasik di era remaja usia belasan. Banjir manusia berkostum putih abu-abu.

Begitu bel istirahat berbunyi, Wira sudah berada di kerumunan lautan manusia. Memilih berkeliaran di koridor. Tak benar-benar berkeliaran tanpa arah seperti air di atas daun talas. Miring sedikit begeser, miring lagi bergeser lagi. Langkah ringan bersama cerahnya siang Jakarta. Matahari memang pilih kasih. Negara-negara yang lain mengimpikan suhu menyengat. Ingin tergesa-gesa menanggalkan jaket tebal panjangnya menjuntai hingga lutut. Jakarta? Berlumur peluh kau dibuatnya.

Hari ini kelenjar keringat Wira sudah jenuh. Pagi-pagi sekali, bekerja sebagai penurun suhu tubuh kokoh Wira saat berlari. Beradu dengan Pak Kasto. Lagi-lagi, bertepatan dengan kegiatan Pak Kasto. Detik-detik menegangkan bersama roda pagar besi yang bergulir. Dorongan Pak Kasto membuatnya menggelinding di lahan datar.

Itu tugas pertama. Kelenjar keringat belum sempat bernafas lega. Selang beberapa menit harus bekerja lebih ekstra lagi. Sengat matahari pagi yang katanya mengandung vitamin E, baik untuk kulit. Tetap saja paparan sinar matahari langsung juga meningkatkan suhu tubuh Wira. Nasibnya harus berkeringat dua kali. Yang kedua, hormat pada sang merah putih di hari kamis.

Lupakan keringat, tak ada urusan. Yang penting ia harus cepat-cepat. Berjalan cepat menuju ruang tempat anak-anak jurusan IPA belajar. Kelas yang membuat seorang gadis mungil berlari lincah. Entah siapa namanya. Sempat menarik pergelangan tangan Wira sebelum meninggalkannya melongo di koridor. Melihatnya mengetuk pintu. Membuka pintu sambil tersenyum, kemudian menghilang. Ditelan daun pintu.

Satu langkah, dua langkah dan berhenti. Papan kayu bergantung sempurna di bingkai pintu. Tidak salah lagi. Tiba-tiba daya aneh mergelayutan dalam dadanya. Mungkin karena beradu langkah bersama ratusan siswa SMA yang membanjiri koridor.

Tarik nafas kuat-kuat lalu ditiupkan lewat mulut. Baiklah. Saatnya beraksi.

Pasang mata baik-baik. Kepala Wira mulai berputar-putar sembari tubuhnya bersandar diambang pintu. Gak mungkin aku salah kelas. Tapi dimana dia? Jangan-jangan sudah pergi ke kantin? Sambil resah, sambil terus mencari. Si penghuni asli kelas ini mulai terganggu dengan Wira. Tubuh kokoh nan menjulang. Kalau dia bersandar diambang pintu, sama saja lebar pintu tertutup sepertiga.

Untungnya tak lama-lama ia menjadi penghuni ambang pintu kelas 2 Ipa 1. Susah payah menemukan apa dicari. Gadis tak seberapa tinggi yang sempat menyita perhatiannya. Saat sama-sama terlambat di depan gerbang dan saat dijemur wakil kepala sekolah tadi pagi. Seperti penyegar mata, baru berniat mengistirahatkan mata dari silau sinar matahari, tatapan justru bertemu dengan gadis itu lagi. Nah itu dia.

Sudah ia perkirakan, kadar percaya dirinya sudah cukup. Tidak kurang atau lebih. Pas. Bayangkan saja, ini kali pertama Wira memasuki kelas IPA. Sadar diri ini bukan wilayahnya. Bukan kekuasaannya. Tak memikirkan banyak perkara, masuk saja dengan langkah pasti. Satu objek sorot mata jatuh pada gadis berambut cokelat. Sedang melakukan sesuatu. Dari jauh seperti sedang menulis. Semakin dekat dan tebakan awal salah telak. Sebuah sketch book ukuran A4 membentang di atas meja.

Entah untuk yang kesekian kali, Wira terperanjat lagi. Kemarin ia sudah melihat betapa ceriwis dan spontannya gadis ini. Kini, yang lain berhambur ke kantin atau sekedar berotasi dengan dalih ingin eksis. Makhluk ini justru sibuk menggoreskan pensil kayu di permukaan kertas. Garis tebal hingga tipis. Rapih dan memang sesuai pada tempatnya. Sesekali pola hatch dibuat manual. Free hand.

Lelaki yang sudah cukup percaya diri ini hanya menelan ludah sambil berdiri terpaku. Tubuh menjulang tinggi mematung. Berpikir dalam diam. Bagaimana caranya ia memulai percakapan. Berpikir, berpikir dan pikir-pikir lagi. Ting! Muncul satu bohlam menyala terang dari ubun-ubun Wira.

Persentase percaya dirinya sempat goyah sebentar. Waktu mati gaya ia goyah. Mundur saja atau katakan “Hai” saat itu juga? Tidak dua-duanya. Kedua mata lebarnya cemerlang. Aku punya ide!

***

Lama-lama bosan juga Naya menatap ponsel. Sekali kedip. Ketika mata kembali terbuka, mendapati untaian manik-manik cokelat melingkar di pergelangan tangan kanan. Jemari tangan kiri membelai lembut si manik-manik bulat. Siapa yang mengira, cokelatnya serupa dengan cokelat rambutnya.

Satu-satunya saksi bisu atas segala kebahagian yang selalu ia bagi berasa kawan sedunianya. Penghuni dunia imajinasi yang sama. Saksi tanpa mulut. Seolah-olah paham dengan apa-apa yang menggelitik salah satu organ tubuh Naya. Menggelitik hatinya. Menggelikan. Membuatnya mudah tersenyum, mudah tertawa, mudah senang. Sembari terus membelai untaian manik -manik bulat dalam benang warna seirama. Saat itu pula senyum sudah tenukik. Mirip bulan sabit.

BERSAMBUNG

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 2 times 2?