Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Namanya Wira #7

Bel tanda istirahat memporak-porandakan kesunyian gedung sekolah. Bunyi cempreng sukses merambat, memantul, bergema dan beresonansi dengan benda seirama. Siswa-siswi kelaparan juga sudah berhambur ke sudut-sudut kantin untuk mengisi ulang amunisi. Yang lain sekedar berlarian di lapangan bersama hentakan ringan bola basket memantul. Direbut sana-sini. Berlari sekaligus memantul kemudian slam dunk. Tim yang menang bersorak-sorai. Ibarat selebrasi.

Ada apa di lapangan? Siapa melawan siapa? Jangan harap ia sempat memikirkannya. Satu jam pelajaran sebelum bel istirahat berkumandang, pelajaran sejarah nampak berjodoh dengan fantasi Naya. Materi kala itu tentang reformasi Indonesia saat masih dipimpin oleh almarhum Bapak Soeharto. Guru sejarah mendongeng seperti biasa. Tangan kanan mecengkram buku cetak sejarah kelas 2 SMA. Tangan kirinya sibuk mengaduk-aduk udara di depan dan di atas kepalanya. Semangat bercerita.

Naya menyimak seksama. Sesekali melirik beberapa siswa lain, nampak susah payah menahan kelopak mata yang memberat. Melawan kantuk. Seperti mantra, membius ruang imajinasi Naya. Lirikan bola matanya beralih pada foto gedung DPR pada masa itu. Terpanjang dengan tinta berwarna dalam selembar buku cetak sejarah. Buku sudah membentang sejak menit pertama kelas dimulai. Gedung yang dipenuhi mahasiswa berbagai warna almamater, lembaran kain melilit di dahi dan lengan. Beberapa ada yang menenteng toak dan bendera merah-putih.

Dagu Naya terangkat. Tertuju lagi pada guru muda yang masih sibuk mengobok-obok udara di hadapannya. Wajahnya sedang berusaha meyakinkan siswanya, bagaimana atmosfir saat itu. Mulai dari meringis, ekspresi bengis dan tertawa sinis. Ini menyenangkan sekali. Menguatkan benak Naya tentang gambaran jiwa patriotisme mahasiswa-mahasiswa yang membanjiri pekarangan gedung hijau bersayap. Seperti kepik bulat mungil yang siap terbang. Hanya saja ini kepik hijau yang tak kunjung terbang. Padahal sayapnya sudah lama membentang.

Satu gerakan halus. Membuka resleting ransel, menggapai satu buku cukup tebal sebesar kertas gambar ukuran A4.  Bukan buku gambar, ada ring logam pengait puluhan lembar kertas tebal. Menyatu rapih. Sketch book. Mendarat sempurna di atas meja. Tangan mungil Naya membuka-buka lembaran buku hingga menemukan satu bagian yang masih kosong. Pensil kayu yang sedaritadi mencuat dari kotak pensil kain Naya hilang disambar tangan gesitnya.

Terangkat lagi dagunya. Diperhatikan lagi guru muda yang masih dengan dunia bersejarah. Kemudian kepalanya menunduk sekian derajat lebih rendah. Menarilah tangan kanan Naya. Mirip gerakan tangan guru sejarah. Mengaduk-aduk udara. Ujung pensilnya bergesek-gesek seperti atlet ice skating, penuh upaya dan kekuatan untuk mempertontonkan kelembutan dalam gerakan gemulai.

Hingga akhirnya Naya lupa kapan terakhir kali ia melayangkan pandangannya pada sang guru muda di depan kelas. Sesekali tangan kirinya mengusap bagian yang salah dengan penghapus. Itu kalau ada yang salah. Kalau ada yang ingin iya perhalus, tak segan-segan permukaan jari telunjuk kiri menjadi kikir penghalus guratan pensil. Terbentuklah efek smoke yang lebih halus. Kepalanya bergerak-gerak dalam tunduk. Meneleng ke kanan kadang juga ke kiri. Senyum tipis ikut tersungging saat bentuk yang ia inginkan tergambar sempurna.

Sayup-sayup terdengar bel tanda istirahat. Berakhir sudah pelajaran sejarah hari ini. Sekelebat suara guru sejarah, guru muda pemecah udara di hadapannya, melantunkan kalimat perpisahan. Sampai ketemu lagi minggu depan. Saat itu juga Naya sadar kelas sudah berakhir. Riuh suara bangku bergeser atau suara puluhan sepatu menapak baru dimulai. Menepuk-nepuk lantai kelas hingga lantai koridor. Naya malingkan sebentar perhatiannya pada teman sekelas yang tadi berjuang menahan kantuk. Sebagian ada yang langsung bangkit dari bangku, seperti ada supply tenaga tambahan, ada juga yang masih kucek-kucek mata. Mata mengantuk kadang terasa gatal. Cuma sebentar, Naya kembali menyibukkan matanya pada visualisasi imajinasinya.

Gedung DPR. Kepik raksasa yang disesak paksa oleh ratusan mahasiswa warna-warni. Kepalan tangan menghujam seperti ingin menghantam langit Jakarta. Tiang bambu seadanya dengan selembar kain warna merah dan putih menyatu. Bendera Indonesia ikut berkibar bersama semangat mereka. Masa itu. Hiruk pikuk jam istirahat seperti meriahnya protes menghujat para mahasiswa dalam sudut imajinasi Naya. Sesekali ada saja siswa yang memanggil, ingin pergi bersama ke kantin. Sekali memanggil, Naya bergeming. Pergi saja, tak memanggil untuk yang kedua kalinya. Paham, Naya tak akan menggubris. Benaknya dibuat sibuk.

Hampir selesai. Tinggal melengkapi beberapa bagian dengan arsir kecil mirip efek bayangan. Pensil kayunya masih melenggang kangkung di permukaan kertas sketch book.

Ia pikir, seluruh perhatiannya sudah sangat penuh dan tak tergantikan. Ternyata pensil berhenti bergerak ketika kursi kayu di depannya tiba-tiba bergerak memutar. Menimbulkan bunyi yang cukup mengejutkan. Kursi bergerak tiba-tiba. Sudah selesai berputar. Naya makin terkejut lagi dengan siswa bertubuh menjulang, merubuhkan tubuhnya ke atas kursi. Menghadap Naya. Diam terpaku dan terperanjat. Naya diam mematung. Pelan-pelan menarik lagi serpihan alam sadar yang muncrat dari ubun-ubunnya beberapa menit lalu.

Dia kan yang tadi pagi dihukum di lapangan? Ternyata familiar dengan wajah si pemilik tubuh kokoh di hadapannya. Perhatian Naya terus tertuju pada siswa ini. Tiba hadir di hadapannya. Menyambar satu lembar kertas kosong dalam sketch book Naya. Membalik lembar kertas bergambar kepik raksasa. Dalam satu tarikan, selembar ketas kosong sudah terpisah dari induknya. Naya mendelik. Kedua matanya membulat sangat lebar. Alisnya terlempar naik tinggi sekali.

Gerakan lelaki ini luar biasa gesit. Pensil kayu yang terselip di antara jemari Naya juga ikut disambar. Lengkap sudah ekspresi terkejut Naya. Mulutnya menga-nga cukup lebar.

Bisa saja ia mengumpat dan berteriak kesal. Keasyikannya tiba-tiba terganggu. Namun rasa penasaran lebih dulu merambat di permukaan saraf motoriknya. Hasilnya, keinginan untuk merebut lagi kertas gambar yang dirobek paksa, tertunda sementara.

Lelaki ini sama sekali tak menatap wajah Naya. Sepersekian detik setelah pensil kayu sudah dalam genggamannya, tangannya sibuk berputar-putar di atas kertas. Ujung pensil bergesek lagi. Apa yang dia lakukan? Menggambar?

Pegas yang melempar alis rapih Naya mulai mengendur. Kelopak matanya kembali ke bentuk semula, tak melebar bulat lagi. Penasaran semakin merajalela, menguasai saraf Naya. Yang ia lakukan saat ini hanya menonton pertunjukan atraksi pensil menari dan penghapus melompat kecil kesana-kemari.

Gesit luar biasa. Hitungan menit pola gambar mulai terbentuk. Mirip dengan gambar nuansa reformasi Naya. Garis tebal dan tipis berada di tempat yang tepat. Pas. Tak berlebihan. Arsir halus dan tebal juga mempertegas objek yang ia gambar.

Mata Naya membulat lagi. Bukan terkejut dan kesal. Ia terpesona. Ada pesan singkat yang Naya terima dari guratan pensil itu. Benar. Ini sebuah isyarat. Lebih lucunya lagi, Naya paham isyaratnya.

Lahir sebuah atmosfir yang pernah Naya alami sebelumnya. Ada dua karakter dalam gambar lelaki ini. Satu laki-laki tinggi tegap lengkap dengan ransel di punggung dan rambut cepak. Satunya lagi gadis berambut panjang, lurus menjuntai hingga melebihi bahu.  Sudut pandang gambar ini seperti melihat dua karakter berdiri berdampingan, sedang membelakangi. Jauh di hadapan kedua karakter tersebut terdapat pola garis vertikal berjejer rapih. Oh itu mirip pagar besi di gerbang sekolah. Sentuhan terakhir, pola arsir luar biasa lembut di baju karakter. Jelas sudah, kedua karakter ini sedang mengenakan atasan kemeja putih dan bawahan abu-abu. Naya seperti de javu.

Pikir Naya, selesai sudah adegan drama musikal alat tulis di atas sobekan kertas sketsa. Belum benar-benar selesai. Lelaki ini masih menggoreskan pensil. Bukan pola atau hatch. Ini tulisan. Sebuah nama. Ia tulis di samping kepala si karakter laki-laki tinggi berambut cepak. Sebuah nama singkat dan satu gores mirip panah tertuju pada kepala karakter. Namanya Wira.

Seketika gerakan tangannya berhenti. Selesai sudah satu adegan paling mengesankan bagi Naya. Belum benar-benar terbit wajah lelaki bernama Wira ini, masih menunduk khusyuk. Naya sudah merebut kertas dari hadapan Wira. Pensil yang mencuat dari jemari Wira juga ia rebut. Sama seperti yang dilakukan Wira di adegan-adegan terakhir. Naya menggoreskan namanya di samping karakter gadis mungil lengkap dengan tanda panah yang mengarah pada kepala si karakter.

Selesai melengkapi karya kilat, Naya mengangkat dagunya. Bertemulah dua pasang mata yang berhadapan. Barulah Naya diyakinkan sekali lagi. Kedua mata teduh dan lebar, akan selalu sepadan dengan alis tegas dan tebal. Lebih tebal dari alis rapihnya. Rahang tegas menyiku dan satu cekungan lesung pipi kanan saat senyum Wira menyinggung. Naya ikut tersenyum. Semakin lebar dan terbit lah gelak tawa renyah diantara mereka.

“Jadi hari ini kamu datang telat lagi?”

Naya membuka percakapan diantara mereka. Percakan pertama yang terjalin diantara mereka.

Naya menatap mantap lelaki ini. Menanti tanggapan dari lawan bicaranya.

“Habis aku orangnya susah bangun pagi, jadi gini deh.”

Sambil malu-malu bersama lesung pipi di salah satu pipinya, Wira menggaruk bagian kepala yang tak terlalu gatal. Naya melihat adegan ini seperti salah satu tokoh dalam cerita yang sedang melawan rasa malu atau canggung. Baginya lucu. Kedua matanya terus menyoroti Wira yang salah tingkah sambil tertawa kecil. Bisa lucu juga dia.

Entah apa yang sedang berkutat dalam benak lawan bicaranya. Kini Wira tak lagi menggaruk pundak kepalanya. Ia membenarkan posisi duduk. Menarik bangku ke depan. Agar jadi lebih dekat dengan Naya.

“Terus ulangan matematika mu kemarin apa kabar?”

BERSAMBUNG

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is that thing with fingers at the end of your arm (one word)?