Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Bali (bocah nyaris 21 tahun) #3

Bali. Pagi tanggal 15 November 2012. Dari subuh udah bangun sih. Packing barang-barang dan sekitar jam setengah 6 pagi udah mulai keluar dari kamar masing-masing cari makan. Berharap breackfast dari hotel, eh ternyata sarapannya baru jam 7 pagi. Tahan dulu deh lapernya.

Kalo gak salah di luar hotel ada mini market yang katanya buka 24 jam. Okey deh berangkat ke sana. Dan untuk kedua kalinya di php-in karena ternyata mini market masih tutup.

Para korban php in the morning. Khususnya yang baju kuning hihihi...

Para korban php in the morning. Khususnya yang baju kuning hihihi...

Untungnya php gak berjalan lama karena dapat kabar dari Mbak Kiki, sebentar lagi Bude dan keluarga dari Bali nyampe hotel. Yes! Akhirnya yah kesampean juga buat ketemu. Padahal kemarin lumayan galau antara milih ke Ubud atau ke rumah Bude.

Memang bener deh. Hitungan menit, datang lah sejenis mobil toyota warna hitam. Ada Bude Pur, Mbak Kiki, Mas Yudi (suami Mbak Kiki) dan Icha (anak Nas Pri). Untuk keluargaku yang satu ini kayanya pernah aku bahas disini deh.

Saling jabat tangan, cipika-cipiki dan bertukar kabar. Alhamdulillah semuanya sehat. Kali ini gak sempat ketemu sama Pakde Nardi (Suami Bude Pur) dan Mas Pri (Anak pertama Bude Pur). Mereka masih menjalankan ibadah Haji. Gak apa-apa deh yang penting masih sempat ketemu walau belum lengkap. Aslinya udah sempet ketemu Bude Pur di Surabaya waktu libur lebaran kemarin. Tapi siapa sangka kesempatan ini bisa buat aku datang lagi ke Bali.

Ternyata (untuk yang kesekian kali) rumah Bude yang dulu masih satu daerah sama hotel tempat aku menginap. Ide cemerlang kalau aku bisa datang kesana lagi. Apa yang berubah dari tempat itu setelah 14 tahun ya?

Bener-bener hitungan menit sudah sampai di komplek perumahan rumah Bude dulu. Ya, Bude sempat beberapa kali pindah rumah termasuk rumah Bude yang aku kunjungi dulu.

Rumah Bude sudah disulap jadi gedung sekolah. Tapi ada aku lega, ada bagian penting yang belum berubah banyak. Masih ingat posisi pura dan masjid yang berdekatan? Ya, dulu aku pikir jarak antara masjid dan pura itu sekitar 10 meter. Ternyata ingatanku salah. Letak masjid tepat berhadapan dengan pura. Dan di samping kanan masjid ada gereja juga. Aku sebut itu segi tiga suci. Masjid, pura dan gereja. Bisa bayangkan betapa indahnya kedamaian dalam perbedaan beragama. Hebatnya Indonesia ini.

Ini di depan pura. Dari kiri ada Mbak Kiki, Icha, aku dan Bude Pur. Dari dulu sampai sekarang tetap begitu bentuk gerbangnya.

Ini di depan pura. Dari kiri ada Mbak Kiki, Icha, aku dan Bude Pur. Dari dulu sampai sekarang tetap begitu bentuk gerbangnya.

Gerbang pura tahun 1998. Dari kiri ada Papa, Indri, aku dan Mama.

Gerbang pura tahun 1998. Dari kiri ada Papa, Indri, aku dan Mama.

Mbak Kiki, Bude Pur dan aku di depan masjid.

Mbak Kiki, Bude Pur dan aku di depan masjid yang berhadapan langsung dengan pura.

Mbak Kiki, aku dan Bude di depan gereja yang bersebelangan langsung dengan masjid.

Mbak Kiki, aku dan Bude di depan gereja yang bersebelangan langsung dengan masjid.

Ini dia gereja yang bertetangga sama masjid.

Ini dia gereja yang bertetangga sama masjid.

Muka masjid dan pura yang saling berhadapan.

Muka masjid dan pura yang saling berhadapan.

Senang rasanya bisa melihat segi tiga suci ini. Datang ke tempat ini lagi memang kaya mimpi. Aku jadi ingat, dulu aku punya teman. Bocah perempuan seumuran, dulu dia tetangganya Bude. Anak dari bapak-bapak yang sembahyang pagi di pekarangan rumah. Ingat dulu paling suka main sepeda bareng. Lebih tepatnya aku yang minta diajarin gowes sepeda roda dua. Sayang, aku lupa siapa namanya. Masih ingat, tiap sore di hari-hari tertentu dia ada les tari Bali. Dari rumah dia sudah pakai kostum tari walau atasan masih pake kaos. Apa kabar dia ya?

Mamang penjual sate keliling juga sempat hafal namaku. Aku selalu minta dibelikan sate selama di Bali. Waktu itu aku belum paham apa-apa aja kuliner khas Denpasar, cuma tau ada mamang sate dan selalu makan sate. Sampai dengar kabar kalau mamang sate ini berkali-kali nanya keberadaan aku yang tiba-tiba ngilang. Kata Bude, aku sudah pulang ke Kalimantan. Gimana kabarnya yah sekarang? Masih jual sate keliling komplek?

Napaktilas masa-masa dulu. 14 tahun itu isinya perubahan. Aku juga berubah jadi hampir 21 tahun.

Sebelum kembali ke hotel, kami pergi ke patung kuda yang masih di sekitar komplek. Ukurannya luar biasa besar. Dulu aku sebut ini patung kuda, padahal sebenarnya ini patung kesatria wewayangan yang sedang berperang. Mungkin karena jumlah pantung kuda yang lebih menonjol jadi aku sebut patuh kuda.

Papa, indri, mama dan aku di depan patung kuda, 1998.

Papa, indri, mama dan aku di depan patung arjuna, 1998.

Mbak Kiki, Icha, Aku dan Bude Pur di depan patung arjuna, 2012.

Mbak Kiki, Icha, Aku dan Bude Pur di depan patung arjuna, 2012.

Yeah selesai sudah acara nostalgia. Jam di tangan sudah hampir menuju jam 7 pagi jadi harus cepet-cepet balik untuk sarapan. Benar memang begitu nyampe hotel, temen-temen yang lain sudah duduk manis di meja restaurant hotel. Saatnya makan kemudian lanjut Labuan Bajo, Flores.

Category: #KomodoTrip

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 9 * 5?