Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Misi Pertama, Air Terjun Cinca Rami #6

Lalu lintas di Labuan Bajo ini gak sebanding dengan kondisi di Jakarta dan Bandung yang macetnya merembet kemana-mana. Kalo di Bandung wajar aja macet, banyak jalur satu arah dan jalan terlampau sempit untuk jangkauan kuantitas kendaraan bermotor. Jakarta apa lagi, tol udah sampai bertingkat-tingkat tetep aja macet. Di Labuan Bajo itu terlewat lapang. Bahkan selama perjalanan dari Treetop ke lokasi air terjun, jarang aku lihat mobil lain yang berlalu lalang. Kalaupun ada cuma sepintar trs ilang ditikungan.

Nyetir sambil tutup mata kayanya bisa banget nih. Melompong banget jalannya. Karena jalan gak penuh-penuh amat, driver ini bener-bener ngebut deh. Awalnya sih asik-asik aja. Tapi keasikan gak berlangsung lama.

Lihat blur foto ini. Wwuuuuzzzz...

Lihat blur foto ini. Wwuuuuzzzz...

Sama seperti waktu keberangkatan dari bandara, aku satu mobil dengan Zulfi dan Wahyu. Kali ini mas Chandra naik mobil yang satunya lagi. Total ada 5 orang di mobil ini, sudah termasuk aku. Driver, aku, Wahyu, Zulfi dan satu lagi mas-mas yang nantinya bakal mendampingi perjalanan kami menuju si Cinca-cinca.

Zulfi dan mas-mas entah siapa namanya heehhee

Zulfi dan mas-mas entah siapa namanya heehhee

Wahyu dan driver.

Wahyu dan driver.

Mobil melaju, kayanya bentar lagi terbang. Gila! ngebut banget. Padahal medan yang dilalui itu berkelok-kelok cukup tajam, tanjakan terus turunan yang menukik sana sini. Ada kalanya nanjak sambil tikungan tajam, turunan juga begitu. Sebelah kanan tebing, sebelah kiri jurang. Juara deh yah drivernya. Sayangnya, aku yang gak juara banget. Ini tangan udah pegangan sana-sini biar gak ikut terpental waktu mobil nikung tajam.

Kondisi habis makan. Mobil ngebut, kecepatan tinggi dan mental-mental elastis. Suara mp3 yang kelewat stereo (volume pol!). Kaca jendelaku gak bisa dibuka alias macet. Perut diputer-puter. Okey saatnya atur nafas sebelum isi perut keluar lagi.

Beberapa kali aku minta dikecilin volume mp3 nya tapi gak ngarus men. Selang beberapa menit dinaikin lagi volume suaranya. Okey, headphone masih bisa bantu aku kali ini. Tapi lonjakan di dalam perut sudah mulai naik ke uluh hati. Fine! Akhirnya aku nanya dimana ada kantong plastik. Serius mau siap-siap muntah. Tapi untuknya bisa ditunda karena Zulfi bawa minyak angin aroma terapi. You safe me, Zulfi.

Perjalanan lumayan jauh, kalo gak salah antara 45 menit sampai 1 jam. Cuaca nampak masih bersahabat. Tarik mang…

Sampailah kami di desa Wae Lolos, apakah sebentar lagi sampai? Aku juga belum tau. Yang aku pikirin waktu itu, gimana cara aku jangan sampai muntah di mobil ini. Gak cuma isi lambung, ini tengkorakku juga ikutan muter. Tapi anehnya, Wahyu masih asik sama handycam nya. Zulfi malah tidur pulas. Mereka luar biasaaaa.. (suara Ariel).

Pintu masuk desa Wae Lolos.

Pintu masuk desa Wae Lolos.

Sambil berdoa semoga cepat-cepat sampai tujuan, eh! gak lama mobil berhenti. Sudah sampai? Sudah. Alhamdulillah.

Waktu turun dari mobil, kami disambut oleh anak-anak kecil penduduk sini. Exited? Ya, pasti. Dan kami berfoto bersama.

Kami dan anak-anak kecil menduduk setempat.

Kami dan anak-anak kecil menduduk setempat.

Selalu always, tidak pernah never yah komodo crew yang satu ini hehehee

Selalu always, tidak pernah never yah komodo crew yang satu ini hehehee

Kami gak benar-benar sampai. Kami harus tracking sejauh 2 km. Jarak 2 km mah gak jadi masalah. Aku pernah tracking 6 km dan bolak-balik, jadi total 12 km. Masalahnya, medan terjal mampus deh yah. Untungnya medan yang kami lewati ini turunan, tapi tetap aja terjal. Bahkan aku butuh bantuan tongkat bambu setinggi 3/4 badanku.

Entah berapa derajat kemiringan turunan ini. Cukup curam.

Entah berapa derajat kemiringan turunan ini. Cukup curam.

Perjalanan tetap terasa menyenangkan karena teman-teman kecil ini selalu mendampingi kami.

Perjalanan tetap terasa menyenangkan karena teman-teman kecil ini selalu mendampingi kami.

Salah satu jenis pohon yang banyak tumbuh di kawasan ini.

Salah satu jenis pohon yang banyak tumbuh di kawasan ini.

Nafas sudah mulai gak beraturan. Tapi teman-teman kecil kami ini sakti banget. Mereka masih kelihatan santai, melintasi medan ini tanpa bantuan tongkat bambu bahkan tanpa alas kaki. Aku sempat nanya, mereka cape ato gak. Jawabannya, “gak, karena sudah terbiasa”. Ya, itu pertanyaan bodoh. Kalau aku tinggal di sini, pasti aku juga sudah sehebat mereka. Kemudian pertanyaan kedua timbul dan ini selalu keluar dari mulutku hampir setiap 5 menit sekali.

“Air terjunnya masih jauh gak?”

“Masih kakak, ayo semangat.”

Hahahaaa.. Aku jadi terlihat lebih lemah dari mereka semua. Setelah di pertengahan jalan, salah satu dari mereka bertanya siapa namaku. Sampai sejauh ini aku baru sadar kalau kami belum saling kenal satu sama lain.

“Kakak punya nama?”

“Ya, namaku Ayu. Nama kamu siapa?”

“Elin. Kakak masih sekolah?”

“Ya, aku masih sekolah. Elin kelas berapa?”

Kemudian Elin menjawab sambil terus berjalan santai padahal aku sudah ngos-ngosan. Sayangnya aku lupa waktu itu Elin jawab apa. Yang pasti belum sampai SMP. Masih SD, lupa kelas berapa.

Dari sini aku jadi malu sendiri. Ya, sudah setua ini tapi kemampuan ramah-tamahku bener-bener minim. Dan Elin adalah nama pertama yang aku ingat setelah Ona dan Putri (kalo gak salah). Selebihnya aku lupa.

Aku gak terbiasa olah raga, jadi jangan tanya kemampuan kaki ku. Alhasil, setiap tracking aku selalu berada di baris terakhir bersama Zulfi.

Itu Elin yang pake kaos putih, celana pendek warna biru. Lihat, aku keempat dari terakhir.

Itu Elin yang pake kaos putih, celana pendek warna biru. Lihat, aku keempat dari terakhir.

Gak lama kemudian, suara percikan air mulai terdengar. Pertanyaan 5 menit sekali muncul lagi, tapi sayang, perjalanan masih jauh.

Seketika hening lagi. Aku harus cari topik pembicaraan, biar perjalanan gak boring. Topik pertama adalah tentang pohon. Pohon apa yang banyak tumbuh disini. Mereka semangat sekali, jawab pertanyaanku bersahut-sahutan. Ya, ada pohon nangka, kemiri, kecapi, mangga dan masih banyak lagi. Otak kecilku berputar. Hutan ini sudah jadi area bermain mereka setiap hari. Gak seperti aku yang sudah tinggal di tengah kota, boro-boro kenal nama-nama pohon kecuali dari buku biologi atau di pekarangan tetangga.

Masih sambil berjalan, aku lihat banyak kulit buah manggis di sini, seingatku mereka gak ada yang sebut buah manggis waktu aku tanya masalah pohon. Aku buka topik lagi deh. Ternyata kulit buah yang aku sangka kulit manggis itu adalah kulit buah kemiri. Benar-benar mirip. Bentuk fisiknya juga mirip, bulat, kecil, ungu kehitaman.

Aku sampai gak habis pikir, sejauh ini aku gak pernah tau bentuk buah kemiri itu seperti apa, kemiri yang aku lihat selama ini adalah bijinya. Elin sampai bela-belain mencari buah kemiri yang masih utuh. Memukul buahnya pake batu dan terbelah-lah buah itu. Daging putih di dalamnya adalah kemiri. Dari kemiri ini lah keluarga mereka mendapat pemasukan. Biasanya kemiri dijual di pasar.

Keasikan ngobrol. Ternyata aku, Zulfi, Elin dan beberapa teman kecil tertinggal dengan yang lain.

Rombongan tertinggal.

Rombongan tertinggal.

Setelah melewati medan curam. Kami melewati kawasan persawahan.

Setelah melewati medan curam. Kami melewati kawasan persawahan.

Aku dibuat bingung lagi sama pemandangan petak-petak sawah ini. Elin cerita kalau penduduk sini juga menanam padi. Sayangnya waktu kami datang, sawah sedang tidak produktif karena beberapa bulan lalu masuk musim kering. Baru akhir november ini hujan turun mengguyur Labuan Bajo.

Suara percikan air makin terdengar jelas, nampaknya air terjun sudah mulai dekat.

Air terjun dari kejauhan.

Air terjun dari kejauhan.

Air terjun di depan mata, ayo percepat langkah, walaupun sempat gemetaran gara-gara cape.

Kaki Zulfi keram. Padahal 5 meter lagi sampai.

Kaki Zulfi keram. Padahal 5 meter lagi sampai.

Welcome to Cica Rami.

Welcome to Cica Rami.

Pas lagi semangat ’45 buat ngelangkahin batu besar, tiba-tiba Yassir manggil dari arah belakang.

Yihaaa!

Yihaaa!

Akhirnya sampai juga wooohhoooo….

Air terjunnya deras banget. Anginnya kebul-kebul begini, angin + percikan air = baju basah. Antara keringat dan percikan adem air terjun. Mau tau kelakuan kami setelah ini?

Si Bedul pengen naik ke atas batu besar di tepi air terjun, tapi celananya ditarik sama mas Chandra. Ini kocak banget.

Si Bedul pengen naik ke atas batu besar di tepi air terjun, tapi celananya ditarik sama mas Chandra. Ini kocak banget.

Berhasil juga si Bedul naik sampai atas batu.

Berhasil juga si Bedul naik sampai atas batu.

Susah-susah naik ke atas batu untuk pose ini?

Susah-susah naik ke atas batu untuk pose ini?

Yassir selalu sibuk dengan cameranya.

Yassir selalu sibuk dengan cameranya.

Semar Cinca Rami Hahahhaa

Semar Cinca Rami Hahahhaa

Ritual wajib ala #KomodoTrip. Foto bersama seperti ini.

Ritual wajib ala #KomodoTrip. Foto bersama seperti ini.

Dan tiba-tiba terbesit ide untuk bikin photo shoot ala iklan shampoo. Beginilah hasilnya.

Entah apa fungsinya Bedul berdiri di belakang teh Putu hahaha

Entah apa fungsinya Bedul berdiri di belakang teh Putu hahaha

Baiklah. Sampai sini perjalan kami di hari pertama dan tracking pertama. Sebenernya belum beres-beres banget sih, musti balik lagi ke mobil dengan medan yang “menantang”. Berkutat dengan mobil yang meluncur nyaris terbang. Dan langsung menuju boat. Oya tentang boat ini bakal aku ceritain. Setelah posting ini ya. Hehehe..

Makasih udah baca posting nan panjang ini. Aku punya bonus untuk kalian. Tadaaaa!!

Hahahaa ada yang bisa nebak siapa model iklan jam tangan ini?

Hahahaa ada yang bisa nebak siapa model iklan jam tangan ini?

Category: #KomodoTrip
  • Yassir says:

    hhahhahahahha
    keren-keren
    Aku tunggu lanjutannya…
    Wah, punyaku belom siaaaaaaaaaap

    December 27, 2012 at 9:32 am
  • ayu emiliandini says:

    Yassir :

    hhahhahahahha
    keren-keren
    Aku tunggu lanjutannya…
    Wah, punyaku belom siaaaaaaaaaap

    Wahaha padahal kamu duluan yang buka intro. Aslinya aku bingung mau make foto yang mana aja. jadi kenapa baru bisa posting sekarang karena aku seleksi dulu dgn susah payah ahahhaa… Aku paling suka sesi iklan sampo haahhaa

    December 27, 2012 at 9:40 am
  • Zulfika Satria says:

    sumpah yang shampoo itu bikin ngakaaaak :))

    December 27, 2012 at 8:00 pm
  • ayu emiliandini says:

    Zulfika Satria :

    sumpah yang shampoo itu bikin ngakaaaak :))

    Hahahaha aslinya bikin posting ini sambil ngakak zul hehehe

    December 27, 2012 at 9:00 pm
  • Irma says:

    Itu foto penutup kenapa bedul pamer ketek ya :))

    December 27, 2012 at 9:16 pm
  • ayu emiliandini says:

    Irma :

    Itu foto penutup kenapa bedul pamer ketek ya :))

    Hahahaha… bonus buat pembaca setia teh…

    December 27, 2012 at 10:34 pm
  • P. Agnia Sri Juliandri says:

    bedul!! aaaaaakkkkkkkkk
    *pusing liat ketek

    January 2, 2013 at 10:23 am
  • ayu emiliandini says:

    P. Agnia Sri Juliandri :

    bedul!! aaaaaakkkkkkkkk
    *pusing liat ketek

    hhahhaha mau brapa kali liat ni foto tetep aja ngakak hahahaa

    January 2, 2013 at 10:27 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 4 + 9?