Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Senja, Langit Magenta dan Kalong #9

Suara mesin boat melembut. Memang sudah gak bergerak maju. Bergerak menyamping malah. Kami ikut berputar bersama boat. Gak lama kemudia mesin mati total. Sebagian dari kami sudah berkali-kali melirik arloji. Tiga jarum tam di tanganku ini belum benar-benar dalam formasi jam 6 tepat. Sedikit lagi sih.

“Itu dia! Mereka sudah muncul.”

Teriakan bang Syarif seperti instruksi sakti yang memutar paksa kepala kami. Mendongak ke langit. Berdecak kagum. Mengucap syukur. Seketika merasa makhluk paling kecil dari segala kebesaran Tuhan di tanah Indonesia ini. Di tanah Mutiara Timur Indonesia ini.

Senja. Langit magenta dan jutaan kalong terbang melintas sekitar 5 meter diatas kepala.

Senja. Langit magenta dan jutaan kalong terbang melintas sekitar 5 meter diatas kepala.

Ya, tujuan kami setelah ekspedisi air terjun Cinca Rami adalah Pulau Kalong. Salah satu dari banyaknya pulau-pulau di Taman Nasional Pulau Komodo ini. Sembari mengadahkan wajah, ada beberapa pertanyaan menggaruk otak kecilku. Yang pasti bang Syarif satu-satunya orang yang bisa menjawab fenomena ini.

Apa yang dilakukan kalong-kalong ini? Mereka mencari makan sampai tanah flores. Apa  yang menerka makan? Bukan darah seperti mitos vampir, tapi buah-buahan matang yang masih bergelantungan di pohon. Mengapa mereka terbang sampai sejauh itu? Memangnya gak ada persediaan makanan yang cukup di Pulau Kalong? Kenapa tepat jam 6 sore? Kenapa bukan jam 7 malam atau jam 12 malam? Berapa banyak populasi kalong di pulau ini?

Pertanyaan ini tak sepenuhnya terjawab. Aku paham, bang Syarif juga tak begitu paham tentang hal ini. Tapi setidaknya bang Syarif masih  bisa jelaskan beberapa hal. Kalong ini punya penglihatan yang buruk, jadi wajar kalo aktifitasnya dimulai jam 6 sore hingga malam hari. Menjelang subuh, kalong-kalong ini akan kembali ke pulau. Tak ada penghuni manusia di pulau ini. Mengapa jam 6 sore? Mungkin insting. Mereka memang sudah dianugrahi insting, sepeti manusia yang dianugrahi akal sehat. Tapi mengapa bisa sampai tepat jam 6 sore? Inilah rahasia terbesar Tuhan.

Mulut ini cuma bisa berucap subhanallah berkali-kali. Ciptaan Tuhan ini luar biasa. Ditambah indahnya warna langit yang gak biasa ini. Magenta. Antara merah muda dan ungu.

Sambil terus mengira-ngira seberapa besarkan ukuran kalong ini. Menurut penglihatan kami, mereka memiliki panjang nyaris 1 meter ketika membentangkan sayap terlebar. Besar ya.

Kami tak ingin melewatkan kesempatan emas ini. Makasih Yassir. The golden hand yang sukses mendokumentasikan momen ini.

Kami tak ingin melewatkan kesempatan emas ini. Makasih Yassir. The golden hand yang sukses mendokumentasikan momen ini.

Yassir adalah bagian dari kami berenam. Gak banyak yang aku tau tentang beswan Medan yang satu ini. Doi jurusan komunikasi dan sudah terbiasa dengan camera SLR dari semester 2 (kalau gak salah) jadi aku gak kaget kalau pengetahuannya tentang fotografi memang yahud. Ketika kondisi gelap, kalong-kalong terbang cepat, dan doi harus beradu dengan kecepatan rendah dan diafragma lebar tentunya, doi bisa taklukan itu semua. Hebat.

Ini dia hasil karya dari the golden hand of Yassir Cinca heehhe…

Yassir hebat.

Yassir hebat.

Kapal, langit dan percikan sinar lampunya. Cakep ehhehee

Kapal, langit dan percikan sinar lampunya. Cakep ehhehee

Aku rasa jumlah mereka lebih dari jutaan. Pemandangan seperti ini terus berlangsung selama 1 jam penuh. Satu jam, setelah itu kalong-kalong ini benar-benar habis tak tersisa.

Kemudian kejutan makan malam melontar istilah “WAUW!!” dari mulut kami. Ini diluar dugaan. Aku pikir menu makan gak akan jauh berbeda dengan makanan rumahan, taunya malah makanan hotel.

Makan malam pertaman di Yohanes MV III

Makan malam pertaman di Yohanes MV III

Biar aku jabarkan sedikit. Ada potongan ikan Giant Trapuli yang bentuknya mirip balok ukuran 3 cm × 7 cm × 3cm. Ada 3-4 balok Steak Giant Trapuli di atas piring entah berapa diameternya, aku gak sempat kira-kira ehehhe. Ada kentang goreng, salad sayur (potongan timun dengan wortel rebus yang disiram mayones) yang dialasi sejenis daun. Daun itu (aku lupa apa nama daunnya) sudah dilumuri olive oil. Kemudian di piring khusus lauk ada tempe goreng gurih, capcay dan cumi goreng yang kriuk banget. Yang terakhir ya bakul nasi hehee… Berhubung aku gak terlalu lapar, jadi aku gak pake nasi. Tapi memang balok ikan ini bikin kenyang luar biasa walau tanpa nasi, cuman pake kentang goreng dan salad sayur.

Masakan ini tercipta dari tangan sakti bang Bahar. Siapa dia? Ya ya yaaa tenang aku pasti cerita. Pantengin terus cerita aku di #KomodoTrip ini ya ehheehhe.

Mari kita review kegiatan kami di hari pertama. Pertama-tama kami berangkat dengan penerbangan pagi dai Bali menuju Labuan Bajo. Oya, sebelumnya aku sempat nostalgia dulu di kompleks rumah bude. Begitu sampai di Labuan Bajo, kami makan siang di Treetop. Seafood restorant yang bisa buat kami tenggelam dalam air laut dengan kerangnya. Kemudian perjalanan luar biasa basah di misi pertama, ekspedisi Cinca Rami. First mission completed, kami langsung berlayar dengan Yohanes MV III dan bersenang di atapnya. Masih belum selesai, kami dikejutkan dengan pemandangan langit tak biasa dan jutaan kalong terbang bebas dari Pulau Kalong. Dan ditutup dengan menu makan malam yang top markotop.

Ini baru hari pertama. Gimana besok?

Category: #KomodoTrip

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 4 plus 3?