Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pagi Indah #10

Buka mata. Senyap luar biasa. Nampaknya malam sudah beres. Itu ada semburat terang dari sela-sela pintu. Sudah pagi. Entah jam berapa waktu itu. Nengok jam tangan sudah gak kepikiran. Turun dari ranjang kayu. Aku tidur di ranjang bawah, teh Putu tidur di ranjang tingkat atas. Aku sudah cerita kan, aku dan teh Putu akan terus sekamar. Wanitanya cuma kami berdua heheee.

Memang sudah terang. Tapi gak silau. Yang ada itu justru udara segar agak hangat dan lembut. Aku suka biru langit setiap pagi. Ditambah biru laut misterius. Misterius? Ada surga di bawah sana. Mata telanjang gak akan tau kalau gak dicelup masuk ke dalamnya.

Aku berjingkat masuk ke dalam kamar hiu. Nyambar pocket camera sekenanya. Gak lupa untuk keluar lagi. Gak lama kemudian ada yang menderu dari belakang boat. Pelan-pelan ada yang bergerak. Itu mesin boat yang akan selalu menyala setiap jam 6 pagi. Kami gak pernah melakukan perjalanan malam.

Selamat pagi ombak. Bukan ombak sesungguhnya. Ini pecahan aliran laminer air laut.

Selamat pagi ombak. Bukan ombak sesungguhnya. Ini pecahan aliran laminer air laut.

Ini dari tepi sisi kiri boat. Pasti pemandangan dari depan boat jauh lebih indah.

Ternyata Bedul, bang Syarif dan Zulfi sudah bangun lebih dulu. Hei, coba lihat warna langitnya.

Ternyata Bedul, bang Syarif dan Zulfi sudah bangun lebih dulu. Hei, coba lihat warna langit dan air lautnya.

Mau lihat lebih bentang lagi. Yes, I’m gonna show ya.

Merahnya permukaan bukit seperti sudah terlalu terbakar matahari. Merah yang gak pernah hangus. Apa lagi menghitam.

Merahnya permukaan bukit seperti sudah terlalu terbakar matahari. Merah yang gak pernah hangus. Apa lagi menghitam.

Matahari malu-malu dari balik bukit.

Matahari malu-malu dari balik bukit.

Aku dan matahari pagi.

Aku dan matahari pagi.

Itu aku dan Zulfi lagi menikmati pemandangan dan angin yang bikin rambutku terbang kesegala arah.

Itu aku dan Zulfi lagi menikmati pemandangan dan angin yang bikin rambutku terbang ke segala arah.

Pulau yang satu ini nampak punya kehidupan.

Pulau yang satu ini nampak punya kehidupan.

Mungkin Yassir pengen niru salah satu adegan di film Titanic. Tapi kata aku jadi kayak lagi ngeringin ketek huuahahha

Mungkin Yassir pengen niru salah satu adegan di film Titanic. Tapi kata aku jadi kayak lagi ngeringin ketek huuahahha

Wahyu datang menyusul.

Wahyu datang menyusul.

Dan video live report langsung beredar. Full tilt sekali sobat komodo yang satu ini #eh.

Dan video live report langsung beredar. Full tilt sekali sobat komodo yang satu ini #eh.

Yeah! Live report kali ini dibuka oleh bang Yassir.

Yeah! Live report kali ini dibuka oleh bang Yassir.

Sesi live report sudah kelar. Doi minta difotoin. Kalo begini wajah kau tak nampak bang. Ngeliatin apaan sih?

Sesi live report sudah kelar. Doi minta difotoin. Kalo begini wajah kau tak nampak bang. Ngeliatin apaan sih?

Kata bang Syarif. Pagi ini kami akan berkunjung ke Pulau Rinca. Ada sebuah desa pesisir di sana. Kenapa kami harus kesana? Ada apa disana? Aku sendiri bingung. Disana ada komodo?

Itu dia pelabuhan sederhana milik Pulau Rinca.

Itu dia pelabuhan sederhana milik Pulau Rinca.

Lebih dekat lagi.

Lebih dekat lagi.

Makin dekat. Nyaris merapat.

Makin dekat. Nyaris merapat.

Sudah ada nelayan yang pergi melaut.

Sudah ada nelayan yang pergi melaut.

Nampaknya nelayan itu dapat ikan.

Nampaknya nelayan itu dapat ikan.

Itu dermaga. Yohanes MV III merapat ke dermaga.

Itu dermaga. Yohanes MV III merapat ke dermaga.

Sedang asik terpukau dengan pemandangan pagi. Tiba-tiba bang Bahar datang. Beliau bilang sarapan pagi sudah siap. Wah, apa menu sarapan pagi ini? Tadinya bang Bahar nyiapin sarapan di ruang tengah. Tempat kami makan malam. Berhubung kami sudah betah nongkrong di depan jadi pagi ini sarapan di bagian depan boat.

Ini pancake raksasa yang pernah aku lihat. Ini ukurannya lebih dari sejengkal tanganku.

Ini pancake raksasa yang pernah aku lihat. Ini ukurannya lebih dari sejengkal tanganku.

Pertama, aku belum pernah sarapan dengan pancake. Ya kali anak kosan siapa yang mau nyiapin pancake. Kedua, aku jadi gak punya tolak ukur porsi makanku. Selama ini aku cuma bisa ukur dari takaran nasi. Sebentar, sepertinya ada yang kurang dari pancake ini. Ya, selainya mana?

Seingatku ada dua botol selai di ruang tengah. Buru-buru lagi ke ruang tengah dan celingukan nyari selai. Sudah girang waktu dua botol selai di tangan, tapi agak apes. Botol pertama, isi sudah mau habis dan botol kedua sudah kadaluarsa. Bang Bahar ini memang pengertian. Tiba-tiba datang bawa berbotol-botol selai berbagai varian rasa. Kemudian aku bilang,”Wauuw”.

Tahap pertama, aku coba setengah dari lingkatan pancake ini. Aku lupa waktu itu aku pilih selai rasa apa hehehe… Gigitan pertama. Wah! Enak. Gigitan berikutnya. Seperti ada rasa pisang. Zulfi juga bilang begitu. Asik banget ni pancake. Begitu aku melirik ke luar sisi boat, WAAAWWww ini luar biasa asik.

Subhanallah cantik banget. Permukaan air laut udah seperti kaca. Ikan-ikat mungil juga ikut terlihat.

Subhanallah cantik banget. Permukaan air laut udah seperti kaca. Ikan-ikat mungil juga ikut terlihat.

Sarapan makin hap-hap deh. Ternyata, setengah diameter lingkatan pancake sudah buat perutku penuh. Mantep juga sarapan kali ini.

Selesai sarapan. Kami harus bergegas untuk menyelesaikan misi kedua setelah ekspedisi Cinca Rami dan misi pertama pada hari itu. 16 November 2012.

Pertanyaanku masih sama. Ada apa di desa pesisir Pulau Rinca ini?

Category: #KomodoTrip

    Pingback/Trackback

    Babercue #22 « Kaca Mata Saya

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What do bees make?