Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pesisir Rinca #11

Dermaga inilah penghubung antara boat dengan pesisir Pulau Rinca.

Inilah penghubung antara boat dengan pesisir Pulau Rinca, dermaga

Pesisir Rinca di ujung dermaga.

Pesisir Rinca di ujung dermaga.

Selama melangkah di atas dermaga, kelas oceanography mendadak jadi nyata untuk hari ini. Mata kuliah tentang lingkungan pesisir yang masih berada dalam jangkauan jurusanku, teknik lingkungan. Sejauh yang aku tau, aku belajar dari sisi pencemarannya. Dan aku jadi bingung mau mulai dari mana.

Dari sini saja lah. Dari padang lamun hijau yang lebat dan subur.

Padang Lamun

Padang Lamun

Lamun itu sejenis tumbuhan laut yang warna hijau seperti rumput tapi bukan rumput laut. Awalnya aku pikir padang lamun ini selalu ada di setiap pesisir pulau, tapi toh nyatanya aku baru menemukan pemandangan ini di pesisir Pulau Rinca. Entah apa yang membuatnya hanya muncul di pesisir pulau ini sedangkan banyak kepulauan di area Taman Nasional Pulau Komodo.

Tadi aku juga lihat ada terumbu karang tepat di bawah boat saat sarapan. Jadi urutannya begini. Setelah bibir pantai, selang beberapa meter ada padang lamun di kedalaman sangat dangkal. Bahkan ketikan air laut surut, padang lamun sudah jadi padang savana dari kejauhan. Savana dengan lembar daun yang basah. Setelah padang lamun baru lah terumbu karang di kedalaman sekitar 3 – 5 meter. Hhhmmm mungkin bisa dikoreksi kalau aku salah. Secara terakhir kali masuk kelas oceanography itu waktu semester 3.

Apabila terjadi pencemaran di sekitar muara sungai dan pesisir, hal pertama yang akan rusak adalah padang lamun. Bisa jadi padang lamun tak lagi tumbuh atau mati. Kalau padang lamun sudah terancam keberadaannya, itu rambu merah untuk keberlangsungan terumbu karang. Tapi yang aku lihat disini, padang lamunnya segar. Dari sini aku punya kesimpulan singkat. Lingkungan pesisirnya masih alami. Itu sekarang, entah bagaimana besok.

Perjalanan masih terus berlangsung. Kali ini kami ditemani oleh bang Syarif dan bang Bahar. Bang Bahar yang masak menu makan malam dan pancake raksasa? Yup. Jadi bang Bahar ini aslinya dari Pulau Rinca ini. Beliau memang diam-diam menghanyutnya. Jarang banget bersuara. Beda kasus kalau sudah sibuk di dapur, pasti sudah klontang.. klonteng… cess… perpaduan suara panci akustik dan suara tempe yang ketemu sama minyak koreng panas. Mendesis, semilir wangi.

Turis domestik yang sempat mencuri perhatian warga sekitar. Yang aku suka adalah jalan setapak ini. Benar-benar menuntun kami dari sudut satu dan lainnya.

Turis domestik yang sempat mencuri perhatian warga sekitar. Yang aku suka adalah jalan setapak ini. Benar-benar menuntun kami dari sudut satu dan lainnya.

Video live report melaporkan langsung dari pesisir Pulau Rinca.

Video live report melaporkan langsung dari pesisir Pulau Rinca.

Dari beberapa pemandangan yang aku lihat. Aku buat kesimpulan singkat lagi. Warga desa ini mengandalkan kekayaan laut untuk bisa betahan hidup. Itu logis, dari segi topografi dan geografis pun sangat mendukung. Selain melihat ada beberapa nelayan saat pertama kali boat merapat, aku juga sering menjumpai deretan ikan yang dijemur. Mungkin sedang proses pembuatan ikan asin.

Ikan asin yang jadi objek camera pocketku.

Ikan asin jadi objek camera pocketku.

Ikan teri diasinin.

Ikan teri diasinin.

Jenis ikan lain juga dijadikan ikan asin.

Jenis ikan lain juga dijadikan ikan asin.

Selain ikan, aku menemukan hasil laut lain. Sepertinya ini juga dikonsumsi oleh masyarakat setempat.

Entah apa namanya. Kerang?

Entah apa namanya. Kerang?

Jalan sepatak ini masih terus berlanjut, entah dimana ujungnya, jadi kami terus berjalan sambil mengagumi pemandangan yang belum tentu kami dapatkan di Indonesia bagian lain selain disini. Mutiara timur Indonesia.

Perahu. Pantai. Surut. Laut. Bukit.

Perahu. Pantai. Surut. Laut. Bukit.

Tempat menjemur ikan bisa jadi tempat jemuran alternatif.

Tempat menjemur ikan bisa jadi tempat jemuran alternatif.

Sebagaimana kehidupan. Pasti ada yang kembali dan desa ini punya lahan pemakaman.

Sebagaimana kehidupan. Pasti ada yang kembali dan desa ini punya lahan pemakaman.

Kaki masih terus melangkah, walau keringat sudah meluncur dari berbagai sudut pori-pori kulit. Entah berapa temperatur udara ambien di sini, tapi panasnya benar-benar menyengat. Aku sudah bertahun-tahun bertahan di sejuknya Bandung (kadang panas juga sih), belum sepenuhnya bisa beradaptasi.

Kaki tetap bergerak maju seperti biasanya, tapi ada yang menarik perhatianku di atas sana.  Aku sempat tanya ke bang Syarif, apa gunanya di gantung di atas pohon setinggi itu. Sayangnya aku gak puas dengan jawaban bang Syarif karena beliau pun tak tau apa alasannya. #jhedang!

Dua karung jagung yang digantung di dahan pohon.

Dua karung jagung yang digantung di dahan pohon.

Kemudian perhatianku berhenti pada papan yang hampir terbengkalai ini. Minimal tulisannya masih terbaca jelas.

Papan Balai Taman Nasional Komodo.

Papan Balai Taman Nasional Komodo.

Terimakasih. Sama-sama.

Terimakasih. Sama-sama.

Indah tiada tara pemandangan yang ada di belakangku ini.

Indah tiada tara pemandangan yang ada di belakangku ini.

Tebak aku lagi motret apa.

Tebak aku lagi motret apa.

Nah! Pemandangan yang satu ini cukup buat otak kecilku berputar kencang. Secara masih segar di kepalaku tentang mata kuliah Penyediaan Air Minum (PAM) semester 6 kemarin. Memang sudah cukup lama aku penasaran tentang air tawar disini. Mulai dari Q demand (debit kebutuhan air tawar), penduduk sini tak begitu padat walau aku gak tau pastinya berapa nominal populasi penduduk disini. Gak tau juga bagaimana pola perkembangan penduduk disini. Yang pasti, bang Syarif dan bang Bahar juga belum tentu sampai sejauh ini.

Wajar aja kalau sistem galon masih berlaku disini. Ada galon ukuran besar di beberapa rumah. Gak semua rumah punya galon besar seperti ini di pekarangan depan rumah. Hanya beberapa, sedikit sekali. Sisanya mungkin bergantung dari galon ini. Aku bisa lihat dari barisan jirigen dengan berbagai nama. Standar, biar gak tertukar dengan jirigen lain. Jadi sistem perpipaan sebagai sarana distribusi air tawar belum ada di desa ini. Kalau pun akan dibangung, gimana slope nya ya? Areanya datar begini. Garuk-garuk kepala deh.

Sistem distribusi air tawar di desa ini.

Sistem distribusi air tawar di desa ini.

Pertanyaan baru muncul. Dari mana sumber air tawar di desa ini? Sebentar, dari tadi aku nyebutnya “desa ini”. Ni desa pasti punya nama kan? Tapi apa? Sedangkan Rinca adalah nama pulaunya, bukan desanya. Sabar, mungkin sebentar lagi aku akan tau.

Cukup senang rasanya ketika bang Syarif akhirnya jawab pertanyaanku yang satu ini. Beliau bilang, masyarakat disini mengkonsumsi air payau dari sumur air payau di bukit. Gak terlalu jauh dari desa, hanya saja lokasinya sedikit tinggi karena berada di kaki bukit. Dan aku gak sabar untuk bisa berkunjung ke sana. Sumur air payau? Dijadikan sumber air baku untuk keperluan sehari-hari? Hhhmmm… Dari berkerut.

Nampaknya masyarakat setempat tak sepenuhnya bergantung pada sumur air payau di bukit. Lagi-lagi flashback dengan mata kuliah Teknik Lingkungan Tepat Guna di semester 4 lalu. Ternyata masyarakat disini sudah mengenal istilah Sistem Penangkap Air Hujan (SPAH) dengan bantuan atap rumah. Ini mudah. Air hujan yang tertangkap oleh kemiringan permukaan atap disalurkan dengan talang kedap air menuju tempat penampungan air. Penampungan air bisa terbuat dari semen atau drum seperti rumah ini. Toh ini sudah masuk bulan november. Musim hujan.

Sistem Pengangkap Air Hujan dengan atap rumah.

Sistem Pengangkap Air Hujan dengan atap rumah.

Bukan berarti aku berhenti penasaran dengan sumur air payau. Aku harus tetap berkunjugn ke sumur itu.

Perjalanan masih terus berlanjut.

Berbicara tentang rumah. Rata-rata rumah penduduk di desa ini adalah jenis rumah panggung. Itu wajar, mengantisipasi apabila air laut pasang terlalu jauh hingga menyentuh desa.

Salah satu bentuk rumah masyarakat ini. Masih sangat sederhana dan selalu rumah panggung.

Salah satu bentuk rumah masyarakat ini. Masih sangat sederhana dan selalu rumah panggung.

Sepertinya jalan setapak ini menuntun kami ke sebuah bangunan sekolah dasar. Ini hari jumat. Sepertinya akan ada senam pagi. Wanna join?

Category: #KomodoTrip
  • ayu emiliandini says:

    dianratnasari :

    padang lamun itu kaya rumput dilapangan bola ya
    wah lumayan ilmu kampus bisa dipraktekin juga
    btw..dari poto2nya udah keliat bagus banget

    Iya. saking masih bagus ekosistemnya jadi kaya lapangan bola heehhee… itu foto2 dari kami ber-6 digabung teh jadi itu semua bukan aku sendiri yang nge-shoot. hehehe.. aku mah cuma modal pocket ahahah

    January 5, 2013 at 6:07 am
  • ayu says:

    Ibam :

    akhirnya terjebak di blognya ayu.
    gile, baru baca part ini aja udah sampe mikir, kapan ya bisa berangkat ke sana. haha…
    btw, itu seriusan pake pocket camera? masih ga percaya..
    hasilnya udah mirip sama yang pro! cool!

    aku aja masih gak percaya bisa injek pulau yang satu itu hahaha..

    utk foto udah campuran kang. gak semua dari jepretanku, selama di foto ada akunya berarti bukan aku yang motret haahha.. foto dari cameraku itu yang foto padang lamun, video live report, ikan teri close up, jemuran alternatif, pemakaman, papan balai taman nasional komodo, jirigen berjejer, sistem penangkap air hujan dgn atap sama rumah panggung. selebihnya dari camera temen… heheheee

    March 17, 2013 at 9:30 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 7 plus 9?