Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Namanya Wira #7

Bel tanda istirahat memporak-porandakan kesunyian gedung sekolah. Bunyi cempreng sukses merambat, memantul, bergema dan beresonansi dengan benda seirama. Siswa-siswi kelaparan juga sudah berhambur ke sudut-sudut kantin untuk mengisi ulang amunisi. Yang lain sekedar berlarian di lapangan bersama hentakan ringan bola basket memantul. Direbut sana-sini. Berlari sekaligus memantul kemudian slam dunk. Tim yang menang bersorak-sorai. Ibarat selebrasi.

Continue reading

Kelas 2 Ipa 1 #6

Seingatnya, beberapa menit lalu ada niat ingin menyelesaikan pekerjaan yang ia bawa pulang. Pekerjaan rumah? Bukan. Layout yang ia bawa pulang. Lantas yang ia lakukan kini?

Duduk agak membungkuk. Tubuhnya condong kedepan sedikit. Kedua siku tangannya berpangku pada permukaan meja. Meja yang menahan beban pc beserta tikus wirelessnya. Kalau Naya termangu begini, beban meja bertambah sekian newton. Masih kuat. Sudah kodratnya di timpa beban ini itu, disini-disitu.

Continue reading

Kedua di Lapangan Upacara #5

Pantulan cahaya berbagai warna. Sempat biru lembut yang berbinar lalu berganti cepat dengan rona kemerahan. Berpindah cepat lagi. Kini lembayung menyelimuti keseluruhan wajah Naya. Mungkin bagian mata tak ikut terpapar. Ada lensa anti radiasi, jadi cahaya datang balik mantul. Standby hampir satu setengah jam di sana. Nyantol di tulang mancung hidung . Bagian tangkai melengkung juga bersandar di tulang rawan telinga perempuan ini. Tertutup lembaran cokelat berkilau lembut. Selembut rambut bayi.

Continue reading

Hari ini

Kamis. Kuliah Sumber Daya Air yang ternyata dosen berhalangan hadir (lagi). Kemudian dilanjut dengan kuliah Desain Pengolahan Biologi sampai menjelang sore. Sempat beberapa kali hujan besar, terus gerimis kemudian washout lalu hujan lagi karena langit mendungnya masih bersisa. Begitu terus, tapi gak masalah. Aku bawa jaket, pake kupluk dan bawa payung. Sudah siap basah. Tapi bukan berarti basah-basahan kaya iklan pompa. Video clip india aja sekalian. Haaha…

Continue reading

Kotak Mungil#3

Kemana perginya orang-orang kantor? Seketika jadi jauh lebih sunyi. Sepulangnya dari rooftop ternyata sudah cukup malam, jadi tak ada urusan lain yang bisa dilakukan pegawai kantor. Sudah pulang ke rumah masing-masing.

Hentakan langkah berat yang sekedar berjalan jadi dentuman langkah raksasa. Walau masih ada manusia tersisa, mungkin langkah raksasa lain juga ikut meramaikan. Tak satu pun. Satu-satunya saingan ya denting jarum jam dinding. Menantang beradu kencang dari berbagai sudut dinding ruang kerja. Lantai dua. Lantai para drafter. Ruang lama bagi Wira.

Continue reading

Origami & Rooftop#2

Kedua kaki kokohnya masih bernyanyi. Nyayian dengan beat kencang. Pertama-tama berdentang saat meninggalkan Pak Aji berdiri melongo di sekitar lorong keberuntungan. Baginya yang sedang beruntung hari ini. Hentakan sol sepatu converse setengah merah dan sisanya hijau kusam. Entah kapan terakhir kali niat dicuci. Niat pun dipertanyakan. Lantas pernahkah dicuci? Biarkan Wira mengingat momen terakhir mencuci sepatu hebatnya. Sepatu segala medan itu hebat baginya.

Continue reading

Jangan Seperti Ini, Rea #61

Jordan sudah tak injak lagi pedal gas, tapi mesin mobil masih meraung pelan. Beralih pada pedal rem, ia injak pelan. Alasan yang sederhana. Agar mobil yang ia kendarai dapat berhenti pelan-pelan. Ada aku duduk di sisinya. Agar aku juga tetap merasa nyaman saat mobil berhenti. Tangan kiriku tak harus berhenti membelai puncak perutku karena terkejut. Berhenti di depan kantor. Jordan mengantarku sampai depan loby kantor. Setiap hari juga seperti itu.

Continue reading