Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Sumur Air Payau #15

Jalan setapak ini akan membawaku menuju sumber air tawar di desa ini. Masih jalan setapak yang rapih. Seperti sudah diatur kemana arah langkahku harus mendarat. Lucu juga. Tapi sepertinya aku harus melihat banyak hal sebelum bertemu dengan si sumur payau.

Jalan setapak disela-sela rumah warga.

Jalan setapak disela-sela rumah warga.

Suasana desa yang masih alami.

Suasana desa yang masih alami.

Belum sampai beberapa meter, kami berhenti di satu titik. Disana ada seorang ibu-ibu. Duduk dengan baskom berbagai ukuran mengelilinginya. Aku pikir sedang mencuci piring, ternyata sedang meracik jamu. Warnanya kuning. Ternyata ramuan jamu berbahan baku kunyit. Menarik, ada jamu juga di pesisir rinca.

Ibu-ibu dan jamu kunyit.

Ibu-ibu dan jamu kunyit.

Selesai berbincang-bincang singkat seputar jamu kesehatan ini, kami kembali bergegas menghampiri si sumur air payau yang masih menggelitik otakku.

Ini lah saatnya aku tau nama desa tempatku berputar-putar sedari tadi pagi. Cape deh…

Desa Pasir Panjang.

Desa Pasir Panjang.

Tapi begitu aku melihat ke bawah. Ada makhluk unyu-unyu bercapit. Seukuran yuyukangkang tapi entah kenapa yang satu ini sedikit aneh.

Punya dua capit tapi yang satu ukurannya lebih besar. Bahkan sebesar ukuran si kepiting ini sendiri.

Punya dua capit tapi yang satu ukurannya lebih besar. Bahkan sebesar ukuran si kepiting ini sendiri.

Rasanya pengen nyomot salah satu dari mereka. Salah satu? Ya mereka banyak sekali berkeliaran di tanah berlumpur ini. Dari tadi berputar-putar pesisir, aku baru menemukannya di area berlumpur ini. Mungkin memang ini habitatnya. Tapi kalo aku comot pake tangan, ntar pasti digigit pake capit.

Lagi asik mikirin gimana caranya mencomot makhluk unyu ini, aku baru sadar. Untuk yang kesekian kali, aku ketinggalan rombongan. Hei kepiting aneh, sekarang kamu boleh aman. Aku gak jadi nyulik kamu untuk aku jadiin oleh-oleh. Hhhmmm…

Sambil berlari kecil. Untungnya aku gak tertinggal jauh. Entah kata bang Bahar atau bang Syarif (aku lupa), setelah jalan menanjak ini kami akan sampai ke sumur air payau. Cukup tenang begitu melihat slope tanjakan gak segila track ekpedisi air terjun Cinca Rami. Itu terlewat edan. Jadi tanjakan ini masih dalam kategori manusiawi.

Waktu berjalan sambil menunduk, eeng… iing… eeng… aku menemukan apa ini pemirsa???????

Sampah plastik?!??!?!

Sampah plastik?!??!?!

Kenapa tiba-tiba ada sampah plastik di area sekitar sumur? Sebentar… Sebentar… Coba kalian perhatikan, apa yang berbeda dari tumpukan sampah plastik ini? Ya, aku tau semuanya plastik. Tapi perhatikan lebih jeli. Keseluruhan sampah plastik ini berasal dari packaging produk detergen. Kalau bisa ada sampah produk detergen, berarti ada aktifitas cuci-mencuci baju di sini?

Pertanyaan pertama yang akan memancing pertanyaan berikutnya. Selang beberapa langkah, yeah terjawab sudah pertanyaanku.

Beginilah aktifitas warga ketika berada di sumur.

Beginilah aktifitas warga ketika berada di sumur.

Karena belum ada sistem perpipaan, air sumur diangkut secara manual oleh ibu-ibu rumah tangga.

Karena belum ada sistem perpipaan, air sumur diangkut secara manual oleh ibu-ibu rumah tangga.

Hai otak kecil, saatnya berputar sedikit. Kenapa ada kegiatan cuci-cuci baju di sekitar sumur? Kenapa gak di rumah masing-masing saja? Ini semua berawal dari sistem penyaluran air baku. Air sumur ini adalah sumber air baku bagi desa Pasir Panjang (yey kali ini sebut nama yah). Belum ada sistem perpipaan yang dapat menyalurkan air sumur ini ke rumah-rumah penduduk. Oleh sebab itu, aktivitas mandi hingga mencuci baju langsung saja dilakukan di sumur. Biar sekalian. Kemudian kebutuhan untuk minum, masak dan mencuci piring barulah menggunakan air sumur yang diangkut secara manual.

Banyak sekali kekurangan yang diterima oleh ibu-ibu rumah tangga yang mengangkut air dengan jirigen bahkan ember di atas kepala. Dari segi kesehatan, entah apa efeknya tapi kepala ibu-ibu ini diberi beban tekanan yang gak sedikit.

Kemudian proses kontaminasi. Mana tau, selama perjalanan dari sumur hingga rumah, air yang mereka bawa dengan kondisi tidak tertutup, telah mengalami proses kontaminasi dengan bakteri hingga polutan di udara bebas.

Kalau untuk ukuran desa yang belum padat penduduknya, aku rasa proses kontaminasi masih minim. Okey masih aman. Bagaimana kalau desa ini semakin padat namun distribusi air baku masih tetap seperti ini? Semakin banyak manusia, keberadaan bakteri di udara juga akan meningkat. Kegiatan manusia semakin beragam. Polutan di udara?

Dan yang terakhir adalah persentasi kehilangan air. Bagaimana kalau ibu-ibu ini terjatuh dan air dalam wadah yang mereka bawa tumpah semua? Pasti harus kembali mengambil air di sumur. Bisa jadi volume air ketika berada di sumur akan berkurang ketika sampai di rumah. Pertama, karena guncangan saat berjalan dan air tumpah sedikit-sedikit. Yang kedua adalah faktor penguapan, mengingat suhu udara pesisir ini sangatlah panas. Sangat berpotensi untuk menguap.

Jadi sudah cape-cape, volume air selama perjalanan pun berkurang. Banyak kekurangannya kan?

Ini baru masalah distribusi. Aku masih penasaran dengan rasa payau. Apakah benar payau?

Begitu semakin dekat dengan sumur, aku seperti Captain Hook yang menemukan harta karun. Cepat-cepat mendekat dan bertanya ini itu pada warga setempat yang sedang menimba air sumur.

Tampak atas sumur air payau desa Pasir Panjang.

Tampak atas sumur air payau desa Pasir Panjang.

Untuk pembuktian, aku langsung menyiduk air dari ember. Awalnya ingin aku minum tapi setelah aku pikir-pikir lebih baik jangan. Barang seteguk. Kenapa? Siapa yang menjamin akan kebersihan air sumur ini? Toh tak aku temukan sistem pengolahan air minum di desa ini. Bahkan pengolahan dalam langkah sederhana sekali pun, seperti filtrasi sederhana. Jadi air sumur ini bersih? Belum tentu, walau secara fisik air ini jernih.

Alhasil, aku cukup berkumur dengan air sumur untuk merasakannya. gak asin. Ini benar-benar mengejutkan. Jarak antara bibir pantai dengan sumur, bisa dibilang kurang dari 3km. Luar biasa kekuasaan Tuhan. Gak asin berarti tawar? Belum tentu. Yang aku tau air tawar itu segar, karena di dalamnya telah terkandung mineral dari proses filtrasi dengan lapisan bebatuan di bawah tanah sana. Dan biasanya air tawar seperti ini berada di pegunungan, bukan di seputaran pesisir seperti ini. Air sumur ini jauh dari kata segar. Jadi aku setuju kalau sumur ini berair payau.

Bukan berarti rasa penasaranku sirna begitu saja. Dari percakapanku dengan warga yang sedang menimba air sumur, kedalam sumur ini kurang dari 100 meter. Aku lupa tepatnya berapa tetapi yang pasti sekitar puluhan meter. Masalah kontinuitas, air sumur ini akan kering ketika musim panas dan kembali terisi ketika musim hujan tiba. Saat aku berkunjung saat itu bulan november, sudah masuk musim hujan. Benar saja, sumur ini dalam keadaan terisi dengan air.

Satu kesimpulan baru. Berarti sumur ini adalah sumur dangkal. Bukan berarti kedalamannya kurang dari 100 meter lalu aku bisa menyebutnya sumur dangkal. Kondisi air sumur yang tidak konstanlah yang membuat aku berkesimpulan demikian. Seandainya sumur ini mencapai lapisan akifer (lapisan kedap air) dalam tanah, air yang mengalir tidak akan bergantung pada musim. Air akan terus mengalir apapun musimnya. Yeah I call it table water.

Air di sumur adalah permukaan air tanah pada gambar ini.

Air pada sumur adalah permukaan air tanah pada gambar ini.

Permukaan air tanah adalah table water yang aku maksud.Lihat gambar sumur paling kanan. Kondisi yang sama dengan sumur air payau.

Permukaan air tanah adalah table water yang aku maksud.Lihat gambar sumur paling kanan. Kondisi yang sama dengan sumur air payau.

Waw!!! Terbukti aku sudah lulus matakuliah Geohidrologi, Teknik Lingkungan Tepat guna, Sistem Pengolahan Air Minum, Mikrobiologi Lingkungan dan Desain Pengolahan Fisika Kimia. Yes!!!!!!!!!!!!

Aku berkutat dengan sumur. Yang lain berkumpul di sekeliling bapak-bapak berkaos hijau. Siapa dia?

Aku berkutat dengan sumur. Yang lain berkumpul di sekeliling bapak-bapak berkaos hijau. Siapa dia?

Aku baru sadar kalau sedari tadi aku terpisah dengan yang lain. Aku akhirnya bergabung. Dan berkenalan dengan bapak berbaju hijau ini.

Dari pertama kali memperkenalkan diri, namanya Uncle Luis. Entah bagaimana susunan huruf untuk kosakata yang tepat. Beliau ini adalah ranger yang sedang berpatroli. Mungkin istilah yang lebih mudah dicerna adalah polisi komodo. Jadi di desa ini berkeliaran komodo yang bisa saja menyerang warga. That’s why ada uncle Luis disini. Beliau ini benar-benar ramah dan banyak cerita tentang ini itu. Tentang komodo pastinya.

Kalau tadi aku disibukkan dengan sumur air payau, sekarang aku jadi penasaran dengan hewan langka yang satu ini. Ada beberapa fakta tentang komodo. Komodo punya penglihatan yang buruk namun jangan pernah ragukan indera penciumannya. Tapi cara kerja penciuman komodo gak bersifat radius, tapi tergantung dari datangnya angin. Itu masuk akal. Sangat sensitif dengan bau darah. Masalah itu aku sudah tau. Walau penglihatannya buruk, bukan berarti gak mudah terusik dengan benda yang bergerak cepat.

Hewan yang satu ini cukup misterius.

Hari semakin siang dan sudah saat kami kembali ke boat. Sebelum pulang, berfoto dulu dengan paman ramah ini hehehee…

Dari kiri ada Yassir, Bedul, aku, uncle Luis, teh Putu, Wahyu dan Zulfi.

Dari kiri ada Yassir, Bedul, aku, uncle Luis, teh Putu, Wahyu dan Zulfi.

Di jalan pulang, yang namanya turis tetep harus menjalankan ritual foto-foto hehehehe…

Terus terang aku gak ngerti kenapa makhluk di samping aku ini harus melet-melet kaya komodo heehehe

Terus terang aku gak ngerti kenapa makhluk di samping aku ini harus melet-melet kaya komodo heehehe

Bisa aku pastikan kalau yang aku temukan ini adalah salah satu fasilitas sanitasi. Jamban komunal yang dapat digunakan lebih dari satu rumah. Alright, aku gak akan bahas ini karena aku tau kalian pasti gak tertarik hehehe.. Yang pasti fasilitas ini penggunakan sistem cubluk yang minim penggunaan air.

Jamban cubluk komunal.

Jamban cubluk komunal.

Aku sudah cerewet tentang sistem perpipaan yang belum menyentuh tanah Pasir Panjang. Gak akan ada kelas tambahan lagi hehehe aku janji. Tapi aku gak bohong lho kalau ada panel surya di desa ini.

Didepan dua galon itu ada panel surya ukuran besar. Dari samping jadi gak keliatan.

Di depan dua galon itu ada panel surya ukuran besar. Dari samping jadi gak keliatan.

kalau ini ukuran mini yang ada di pekarangan rumah pak kepala desa.

kalau ini ukuran mini yang ada di pekarangan rumah pak kepala desa.

Sebelum meninggalkan dermaga ini. Ritual turis domestik dulu dong.

Sebelum meninggalkan dermaga ini. Ritual turis domestik dulu dong.

Terharu. Teman-teman kecil ini mengantar kepergian kami.

Terharu. Teman-teman kecil ini mengantar kepergian kami.

Menjauh. Tangan kami terus melambai.

Menjauh. Tangan kami terus melambai.

Yeah! Misi kedua selesai! Setelah misi Cinca Rami yang melelahkan, misi Pasir Panjang pun rampung. Kemana boat akan membawa kami? Aku tanya kapten dulu ya ehheheh.

Category: #KomodoTrip
  • ardik says:

    ayuuu kok keren siii pengen kesana deh hehehe

    January 5, 2013 at 7:04 pm
  • ayu emiliandini says:

    ardik :

    ayuuu kok keren siii pengen kesana deh hehehe

    harusnya kmrn kamu nyempil di koper aku dik eheheeh

    January 6, 2013 at 9:45 am
  • ardik says:

    yu jamban komunal itu go green banget y brarti, oia trus klo sumur air payau itu juga diterapkan di daerah parangtritis jogja yu, kayaknya sistemnya sama gt ya?

    January 8, 2013 at 7:54 am
  • ayu emiliandini says:

    ardik :

    yu jamban komunal itu go green banget y brarti, oia trus klo sumur air payau itu juga diterapkan di daerah parangtritis jogja yu, kayaknya sistemnya sama gt ya?

    Semua jenis fasilitas sanitasi itu green action dik. termasuk jamban komunal. jenis sanitasi itu disesuaikan sama kondisi lokasinya. mulai dari kondisi tanah, permukaan air tanah sampai budaya masyarakat setempat.
    air payau itu bukan masalah diterapkan ehhehhehe itu fenomena aja dik. ada sumur yang airnya payau, bukan tawar seperti pada umumnya.
    maksudnya sumur air payau diterapin di jogja itu gmn? kok aku penasaran ya hehehhe

    January 8, 2013 at 9:54 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 3 + 7?