Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Third Mission #18

Berdoa selesai. Saatnya melancarkan misi ketiga. Kami bertujuh (ketambahan bang Syarif) mengikuti langkah mas Budi yang sudah jalan di depan. Hitungan beberapa langkah, tiba-tiba mas Budi menghentikan langkahnya. Jari telunjuknya menunjuk ke arah satu sudut di bawah pohon. Gak jauh dari tempat kami berdoa bersama.

“Kita sudah disambut nih sama satu ekor komodo, tuh disana.”

Apa sudah ada komodo? Mana? Kepalaku celingukan, kemudian berhenti waktu aku temukan sosok telentang itu di bawah pohon. Itu adalah komodo pertama yang aku lihat. Langsung, bukan di tv. Ini beneran komodo. Si komo yang bikin macet jalan Bandung tiap weekend? Hallaahh salah fokus.

Komodo pertama di misi ketiga kami

Komodo pertama di misi ketiga kami

Aku lupa apa jenis kelamin komodo ini. Yang pasti kata mas Budi, komodo jantan ukuran tubuhnya lebih besar dari betina. Kebetulan komodo pertama yang aku lihat ini baru selesai makan. Bisa dilihat dari kulit perut yang kencang. Itu bahasa halus dari perut buncit. Jadi komodo ini sama seperti ular, setelah makan mereka akan hibernasi sampai beberapa waktu. Dan beberapa waktu itu aku lupa berapa lama heheheh maaf…

Semua lensa camera termasuk video live report kami tertuju pada komodo ini. Dasar komodo angkuh, dia tetep masang muka lempek. Stay cool di tempat. Tapi bagus deh, dari pada tiba-tiba nerkam kan horror juga.

Gak mau buang-buang waktu terlalu lama. Kami lanjutkan perjalanan tapi terhenti, lagi. Beberapa langkah dari komodo pertama, kami bertemu dengan komodo yang lain. Kondisinya sama. Perut buncit dan ambil posisi hibernasi. Pasti abis makan bareng nih mereka berdua.Prikitiiiiwww….

Komodo kedua.

Komodo kedua.

Potret sana sini dan lanjutkan lagi perjalanan. Eh tiba-tiba ada yang lewat. Lucu deh. Ukurannya lebih kecil dan ramping tapi cara dia berjalan seperti raksasa yang punya kaki besar haahhaaa… Padahal kakinya kecil-kecil aja.

“Mas Budi. Kira-kira itu komodo umurnya berapa?”

“Hhhmmm… Yang pasti dia itu netasnya bulan april kemarin.”

“Kalau sekarang bulan november, berarti 7 bulan?

“Iya, umurnya baru 7 bulan”

Aku lempar lagi pandanganku ke arah bayi komodo yang sekarang sedang menyantap sesuatu.

“Kalau umurnya baru 7 bulan, makanannya apa?”

“Liat aja sendiri, tuh lagi makan telur”

“Itu telur apa?”

Mas Budi cuma ketawa. Gak dijawab pertanyaan aku. Apa iya telur ayam? Emang ada ayam di ekosistem sekering ini? Trus telur apa?

Bayi komodo usia 7 bulan. Keliatan komodonya?

Bayi komodo usia 7 bulan. Keliatan komodonya?

Baiklah, aku zoom biar keliatan. Tuh dia lagi makan telur.

Baiklah, aku zoom biar keliatan. Tuh dia lagi makan telur.

Yah, abis deh telurnya. Nyam nyam

Yah, abis deh telurnya. Nyam nyam

Hihihi bener deh lucu banget kalo yang masih bayi ini. Begitu telurnya habis, komodo mini ini berlalu begitu aja. Bye.. bye.. baby komodo. Dan perjalanan masih harus berlanjut.

Saat ini kami berjalan menuju dapur. Ya ada satu bangunan rumah panggung yang disebut dapur yang banyak makanan. Biasanya banyak komodo yang nangkring di dapur ini. Dan benar saja. Beberapa komodo dewasa nampak sedang kekenyangan. Jadi perutnya buncit-buncit hahaha..

Ayo berhitung, ada berapa komodo di kolong dapur ini?

Ayo berhitung, ada berapa komodo di kolong dapur ini?

Kami gak ingin melewatkan momen ini.

Kami gak ingin melewatkan momen ini.

Baik lah, waktu terus berputar dan kami masih harus melanjutkan perjalanan di jalur sedang. Dipimpin oleh mas Budi. Oyah satu peraturan yang harus ditaati pleh pengunjung kawasan penuh komodo ini. Setiap kelompok jangan pernah terpisah dengan kelompoknya. Jadi sebisa mungkin, selama tracking kami gak boleh terpisah. Warning buat aku yang selalu jalan paling belakang nih.

Tapi aku gak takut kalau nanti terpisah dari rombongan kok hehehe… Jadi begini. Posisi tracking sama seperti saat ekspedisi air terjun Cinca Rami. Kami berbaris memanjang dengan ranger yang mengapit kami. Mas Budi di depan dan partnernya berjalan di barisan paling akhir. Tepatnya di belakangku. Kenapa aku gak takut? Ya iya lah, kan masih ada ranger di belakang aku heehhe. Tapi sebisa mungkin jangan sampai ketinggalan.

Mas Budi memimpin di depan.

Gak pernah paham sama ekspresi mukamu Wahyuuu…

Sambil berjalan, sambil memperhatikan sekitar. Dalam hati bergumam. Jadi begini toh habitat aslinya komodo. Kemudian aku ingat ilalang kering yang aku lihat saat pertama kali masuk dari dermaga. Ilalang kering.

Pertanyaan pertama terlontar juga. Kali ini partner mas Budi yang jadi sasaran pertanyaanku. Kenapa ilalang bahkan beberapa pohon disini kering? Habis kebakaran? Ternyata bukan. Jawabannya adalah musim kering. Ya sebelum bulan November datang, selama itu adalah musim kering. Suhu udara di kawasan Loh Buaya ini sampai menyentuh angka 40 derajat Celsius. Gila! Pantes aja kering. Dan sebentar lagi aku yang bakal kering.

Habitat komodo. Cocok banget buat lokasi syuting film horror. Makin horror kalau komodo muncul tiba-tiba hahaaha.

Selama perjalanan ekspedisi Loh Buaya. Aku melihat beberapa plang tanpa tulisan dengan desain yang sangat sederhana. Kemudian aku paham kalau plang ini menandakan sarang komodo. Kalau plang ini terlihat, berarti kami memasuki kawasan sarang komodo. Sejauh perjalanan jalus sedang, kami melewati tiga sarang.

Plang tanda sarang komodo.

Gak lama kemudian mas Budi berseru lagi. Ada komodo dengan ukuran jumbo sedang telentang. Kekenyangan dan nyaris hibernasi. Mungkin tidurnya sedikit terganggu dengan kedatangan kami.

Aku punya kekurangan dari penglihatan. Mataku minus dan silindris. Begitu aku buka kacamata, walau cuma -1, tapi bisa saja aku cuma bisa lihat manusia-manusia berwajah rata atau beberapa gumpalan warna. Loh Buaya ini buat keringatkau bercucuran. Kacamataku berkali-kali melorot sampai ujung hidung. Belum lagi aku harus menanggalkan  geek glasses ku dan berganti dengan sun glasses. Silaunya sinar matahari bikin aku pusing. Panasnya matahari sudah seperti menggeliting kornea mata. Ngilu.

Loh Buaya hot banget

Loh Buaya hot banget

Lalu hubungannya dengan komodo yang dilihat mas Budi saat memasuki sarang? Ya, itu dia. Aku jadi gak bisa lihat apa-apa. Kecuali aku menanggalkan sun glasses dan berganti dengan kacamata minus. Barulah raksasa malas itu terlihat. Besar banget. Wow.

ranger partner mas Budi, teh Putu dan Bedul berpose. Sedangkan aku sibuk celingukan nyari komodo yang dilihat mas Budi.

Itu dia komodonya. Besar banget.

Untuk mencari keberadaan komodo, kami sempat beberapa kali terkecoh. Saat ada suara tanah digali, kami pikir itu komodo yang sedang menggali tanah untuk menetaskan telurnya. Ternyata bukan, itu burung gosong yang suka menggali tanah. Untuk bertelur juga? Entahlah.

Hasil karya burung gosong yang menipu. Sialan. Dasar gosong.

Selama tracking mas Budi banyak cerita tentang komodo. Termasuk sifat angkuh komodo. Kalau seandainya ada komodo lewat, ada baiknya kita diam di tempat dan persilahkan komodo berlalu. Saat komodo mendekat sedangkan kami terlalu banyak bergerak, bisa jadi komodo ini aku menyerang kita. Jadi lebih baik diam, toh penglihatannya tak lebih baik dari indera penciumannya.

Aku juga baru tau kalau komodo punya sifat kanibal. Bisa jadi ia memakan anaknya sendiri. Agak serem memang. Jadi komodo betina harus menggali tanah dengan panjang 2 meter dan kedalaman 1 m, kemudian telur yang dikeluarkan betina di kubur di dalamnya. Tak benar-benar dikubur. Si betina ini sengaja membuat sedikit celah di sudut galian sebagai jalur masuknya cahaya matahari. Tujuannya? Sebagai penuntun ketika bayi-bayi komodo sudah menetas dan ingin keluar ke permukaan tanah.

Kenapa harus kedalaman 2 meter. Karena dalam kedalaman tersebut, bau bayi komodo gak akan tercium sampai permukaan tanah. Setelah bertelur dan menimbun telur-telurnya, komodo betina akan berlalu begitu saja. Hubungan ibu dan anak terputus disini. Seperti yang sudah aku bilang. Komodo itu kanibal dan bisa memakan anaknya sendiri.

Saat membuat galian tanah untuk telur. Komodo betina bisa membuat lebih dari satu lubang. Untuk mengecoh komodo lain agar telurnya gak dimakan. Cukup mencekam juga yah cara hidup komodo ini. Mulai dari menetas, komodo sudah hidup dan berjuang sendiri sampai dewasa. Kelakuan seperti ini jangan ditiru ya. Gak manusiawi. Kita harus sayang sama ibu. Berarti Malin Kundang yang melawan ibunya sendiri sama saja dengan anak komodo haahhaa… Mau jadi anak komodo?

Tiba-tiba mas Budi berseru lagi. Katanya dia lihat komodo. Mana? Mana???

Itu dia komodonya. Kelihatan?

Itu dia komodonya. Kelihatan?

Nih. Aku zoom sedikit. Kalau sudah dewasa, muka komodo jelek ya?

Nih. Aku zoom sedikit. Kalau sudah dewasa, muka komodo jelek ya?

Lagi-lagi mas Budi berseru. Kali ini bukan karena lihat komodo tapi ingin menunjukkan sesuatu yang unik. Unik. Jelas aja unik. Ada pohon palem dengan daun yang menyerupai bentuk love. Ini ciyus lho.

Tuh kan bener bentuknya mirip love

Tuh kan bener bentuknya mirip love

Kemudian aku punya ide cemerlang. Ha Ha Haaaa… Gimana kalau bentuk jari dipotret tepat di samping-samping pohon ini. Mau lihat hasilnya?

Yihaaa jadi I love you ahaaiiyyy...

Yihaaa jadi I love you ahaaiiyyy…

Love love love love

Love love love love

Ini baru kejutan kecil dari mas Budi. Kejutan yang sebenarnya ada di atas bukit. Penasaran sama kejutan besar dari mas Budi? Aku juga penasaran hihihi….

Category: #KomodoTrip

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What do bees make?