Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Babercue #22

Seneng deh bisa menyelesaikan dua misi dalam sehari. Cape, pegel, keram, kulit nyut-nyutan itu seperti terbayar lunas hehehee… Selesai snorkelling waktunya mandi. Kali ini pake air tawar. Dan dari sinilah aku punya niat untuk potong rambut. Karena setelah kena air asin dan panas, rambut berasa kaku. Ntar deh kalo udah pulang ke Bandung. Alhasil memang jadi potong rambut ehehhee.. Okay, skip!

Mandi cantik, udah. Ganti baju, udah. Oiya, untuk mbak Kiki (sepupu di Bali) terimakasih bajunya ya, oleh-oleh dari bali heheheee.. Kaos lear warna biru dan celana pink ini oleh-oleh dari mbak Kiki waktu bertemu singkat di Bali sebelum berangkat ke Labuan Bajo.

Wah! Langit senja. Nongkrong di atap boat kayanya asik nih. Memang asik, karena pisang goreng flores sudah menunggu di atas. Yipiiii…

Nyam-nyam. Kemudian angin sore semilir-milir. ajib!

Gak lama kemudian datanglah teh Putu. Hei celana dan baju kita matching.

Teman kecilku juga ikut menikmati indahnya sore. Hai Peppy Kucai.

Indahnya langit sore itu jangan sampai terlewat walau dengan kulit terbakar.

Oiya, kira-kira malam ini makan apa yah?

Baru aja kepikiran menu makan malam, tiba-tiba bang Syarif datang membawa kejutan lagi. Lagi.. Lagi… Lagi… Bukan masalah menu makan malam tapi dimana kami akan makan malam. Jadi kata bang Syarif, kami akan makan ikan bakar ala babercue di pulau yang sama dengan lokasi snorkelling,Pulau Kambing. 

Dan babercue sudah siap, waktunya meluncur dengan sekoci. Kata bang Syarif, jangan lupa pake celana panjang dan jaket, banyak angin dan rawan masuk angin. Gak pake pikir panjang deh, langsung ganti celana panjang (ini celana panjang satu-satunya yang tersisa untuk perjalanan pulang ke Bandung) dan jaket.

Tapi sangat mengecewakan. Begitu sampai di pantai Pulau Kambing, boro-boro ada angin, gerah juga iya gara-gara api babercue sebesar api unggun. Bete sendiri deh, tau gitu ngapain ganti celana, mana ini celana buat pulang. Waahh bang Syarif gak asik nih kali ini. Huuwww…

Begitu sampai di lokasi babercue. Kami cukup terpana dengan ikan Giant Trapuli yang jadi menu utama makan malam. Jadi begini toh wujud si ikan yang bikin aku kekenyangan kemarin malam. Gede juga yah.

Semua perintilan bakar-membakar ikan semua sudah diurusin sama Pace, bang Bahar dan bang Syarif. Kami nonton aja dengan takjub. Aku nonton dengan agak kesal. Celanaku kotor gara-gara duduk di pasir. Zonk!

Pace dan giant trapuli

Bumbu ajaib ala bang Bahar.

GT in fire.

Luar biasa. Video live report terus memantau perjalanan kami.

Karena gak ada kerjaan, akhirnya kami foto-foto aja deh. Dan muka kusutku terpotret jelas. Maaf-maaf… Emosi labil.

Gak mood difoto jadi ngumpet.

Berharap terhibur dengan twitter di hape. nihil! gak ada sinyal!!

Nyari alas duduk biar celana gak kotor. Tetep aja udah kotor duluan.

Manyunnya juara, padahal Zulfi udah sumringah.

Lama-lama bete cape juga yah. Yaudah sih gerah-gerah sekalian, nikmatin aja deh. Celana kotor? Biarlah, namanya juga habis berpetualang. Ritual turis domestik dadakan masih lanjut? Okey! Ikut bergabung. Kali ini bang Yassir Siregar yang untuk kemampuan. Aku bilang juga apa, the golden hand.

teh Putu

Bedul.

Wahyu

Aku

Zulfi

Gila! Yassir memang luar biasaaaaaaa….

Setelah sekian lama menunggu akhirnya si raksasa GT mateng juga. Waktunya makaaannn… Eits, diantara kami ada yang kelaperan banget lho. Mau tau?

Kalap-paran

Nasib si GT.

Sudah kenyang… Sudah kotor pula celana panjangku… Saatnya kembali ke habitat kami. Menghimpun tenaga untuk misi-misi hebat besok. Tapi sebelum tidur, kami punya kebiasaan baru. Apa? Tiduran di atas atap boat dengan pelampung yang jadi bantal. Ngobrol curhat ngalor-ngidul sambil ngitung bintang jatuh ahhhahaa…

Awalnya aku bingung, kenapa bitang jatuh begitu mudah dilihat di sini ketimbang di kota. Ternyata alasannya simpel. Di kota, sudah terlampau terang. City light dan taburan bintang di langit udah seperti adu terang. Jelas aja bintang jadi kalah cemerlang lagi. Sedangkan di sini, ketika malam dan boat mulai memadamkan beberapa lampunya, bintang di langit jelas banget.

Baiklah, selesai juga petualangan #KomodoTrip hari ini. Aku review sedikit yah. Mulai dari bangun pagi dan disambut nuansa pagi yang luar biasa indah. Kemudian bertandang ke desa di pesisir Pulau Rinca yang ternyata punya nama, desa Pasir Panjang. Ternyata disana sekolah dasar yang sedang melakukan kegiatan senam pagi, dan jumat bersih. Kami juga sempat melihat kondisi kelas yang bikin lemes lutut. Kemudian aku dibuat penasaran dengan sumur air payau yang menjadi sumber air baku pada desa ini.

Selesai ekspedisi desa Pasir Panjang a.k.a kampung halaman bang Bahar dan Pace, kami melanjutkan perjalanan ke Loh Buaya untuk melihat komodo. Ditemani mas Budi dan partnernyakami menjalankan misi ketiga (berburu komodo) dan terpukau dengan indahnya bukin Mi’un. Dan sampailah pada misi terakhir pada hari ini, yaitu snorkelling di Pulau Kambing yang tak kami temukan kambing barang seekor. Hahaahaa.. kemudian ditutup dengan makan malam babercue dan curhat masal di atap boat.

Masih ada besok lho dan perjalanan kami belum selesai. Komodo trip…. rrrwwwaaaarrrrrr……..

Category: #KomodoTrip

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 5 plus 6?