Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Snorkelling di Pulau Kambing #21

Kayaknya gak akan mungkin tidur setelah makan siang. Misi selanjutnya akan lebih menguras tenaga. Bahkan kami harus berganti kostum dan sudah pasti basah. Apa lagi kalau bukan snorkelling. Kulit muka baru aja rileks dari sinar matahari yang cetar membahana komodo, tapi sekarang sudah harus berhadapan dengan panas (untuk yang kesekian kali) dan air asin.

Saat berganti baju renang dan mempersiapkan peralatan snorkelling yang jauh-jauh di tenteng dari kota masing-masing. Sebelumnya aku pernah pakai alat ini dengan ukuran yang lebih kecil. Tapi bukan dipakai untuk ngambang di air laut, justru di kolam renang. Hahahhaa waktu itu memang aku masih kecil banget. Untuk ukuran kolam renang, aku masih bisa berenang. Nah! Kalo laut? Aku belum pernah coba.

Ternyata banyak tahap-tahap dalam penggunaan alat snorkelling ini. Mulai dari kacamata snorkelling. Selain harus disetting sesuai dengan ukuran kepala, kacamata ini juga punya aturan pakai. Harus benar-benar pas, jangan terlalu rapat nanti bisa pusing, dan jangan terlalu longgar juga nanti air bisa masuk dan mengenai mata. Hindari helaian rambut yang terjepit pada kacamata, karena itu bisa jadi jalan masuk untuk air. Jadi bagi perempuan berambut panjang macam aku ini, ada baiknya penguncir rambut ke belakang. Pake karet yang rapet, soalnya saat snorkelling karet bisa aja lepas dan ilang.

Karena alat kami masih baru, jadi ada beberapa langkah yang harus dilakukan agar kacamata tidak berembun saat digunakan. Kebayang deh, jauh-jauh datang ke sini tapi gak bisa lihat indahnya dunia laut gara-gara kacamata burem. Itu konyol, hahahah..

Biar kacamata gak gampang berembun ada banyak cara. Pertama, kacamata diolesi sampo bayi terlebih dahulu. Bagian kacamata yang dioles adalah bagian lensa kacamatanya. Bagian dalam dan luar harus dioles rata. Setelah itu diamkan beberapa detik lalu dibilas dengan air. Bisa pakai air tawar, bisa juga dengan air laut.

Cara kedua dengan air ludah. Caranya sama dengan yang pertama tapi sampo bayi bisa diganti dengan ludah sendiri. Dioles lalu dibilas. Dan cara yang terakhir dengan dibakar. Jadi di bagian lensa kacamata di panaskan dengan air. Jangan sampai kebakar beneran yah. Lebih mirip dipanaskan langsung dengan air. Kalau sudah, noda hitam bekas terbakar bisa dibersihkan dengan sampo bayi dan ludah lalu dibilas dengan air.

Karena ini pertama kali kami menggunakan alat snorkelling, jadi langkah yang dilakukan baru cara pertama. Cara kedua akan kami lakukan ketika kondisi emergency (kondisi ketika kacamata tiba-tiba berembun saat sedang snorkelling).

Dan yang terakhir. Jangan lupa pakai sun block yah. Waktu itu aku pakai sun block  mulai dari kaki, tangan, leher dan muka. Tips nih buat kalian yang nantinya akan mengunjungi Taman Nasional Pulau Komodo. Gunakanlah lotion dengan kadar 50 SPF atau lebih, karena sun block yang kami bawa hanya 30 SPF dan itu gak ngefek banget!!!!! Inilah jawaban kenapa banyak sekali teman-teman yang mengira aku gak pakai sun block begitu lihat betapa hangusnya aku setelah pulang dari trip ini.

Siap-siap menuju Pulau Kambing.

Ritual turis dadakan gak tenggelam dimakan air asin lho, karena teh Putu punya  underwater camera. Jadi masih bisa narsis hahahahaaa…

Karena ini baru pertama kali bagi kami (kecuali teh Putu yang sudah melanglang buana diberbagai laut Indonesia), jadi kami gak langsung nyempulng ke laut. Kami menepi dulu di pantai Pulau Kambing untuk training singkat ala bang Syarif. Hehehee…

Kaki katak harus dicek, gak lucu kan pas lagi berenang tau-tau copot. Hehehehe. Kacamata dicek untuk yang kesekian kali. Oya! Selang yang digunakan untuk bernafas (entah apa namanya) harus tersangkut erat di karet kacamata. Dan yang terakhir adalah cara menggunakan semua alat snorkelling ini. Mulai dari berdiri, berenang, berputar arah sampai berdiri lagi.

Setelah dicoba, ternyata kakiku kalah kuat dengan arus air laut. Ternyata bisa berenang di kolam renang belum tentu bisa berenang di laut. Tekanannya beda banget boss. Jadinya aku pake pelampung deh. Dan satu-satunya member #KomodoTrip yang gak bisa berenang selama misi snorkelling ini. Tak apa lah. Anggap aja pengalaman. Oya aku harus menanggalkan kacamata geek style ku, karena gak mungkin aku pakai. Semoga aja dengan kondisi mata minus 1 dan silidris 0,75 ini masih bisa melihat surga di bawah laut.

Itu aku yeah!! Liat aja pelampung orange kebesaran dan mencrang itu.

Aku dan Yassir.

Aku dan bintang laut bulat merah. Itu hasil temuan pertama bang Syarif.

Kebodohan yang aku lakukan saat snorkellingi pertama adalah nabrak. Kan aku cuma satu-satunya yang pakai pelampung, jadi ngambang banget di permukaan air. Begitu arus datang ya langsung terikut, bahkan sedikit saja mengayuh kaki, aku sudah meluncur dengan otomatis ahahhaa. Nah masalahnya aku bisa meluncur tapi gak tau gimana cara ngeremnya. Alhasil, banyak yang jadi korban tabrak lagi dari aku hahahahaa…

Aku juga paling takut ketinggalan rombongan jadi bawaannya pengen deket-deket terus ama yang lain. Tapi boro-boro bisa konvoi, yang ada malah usel-uselan hahahaa… Maaf, namanya juga pertama kali.

Kebodohan kedua, kakiku tiba-tiba keram setelah beberapa menit snorkelling. Untuk di pelampung ada peluit, aku tiup aja. Eh kejadian ini malah bikin yang lain ketawa. Huuuwwww… Gak asik.

Kebodohan yang kesekian. Kan aku ceritanya katrok nih baru pertama kali snorkelling. Jadi tiap kali liat ikan-ikan lucu, aku histeris kaya ketemu artis hahahaha… Beneran lucu lho, kaya di film Finding Nemo. Eits! Gak percaya? Nih aku kasih buktinya. Aku mulai dari terumbu karang dulu ya.

Warna-warni cantiknya.

Itu ada kerang Jini oh Jini ahahaha

Ada warna hijau…

Wah! Ini apa yah?

Wihihiii yang ini kalo dipegang kayanya nyoi-nyoi deh. Kaya yupi.

Tuh kan bener bagus-bagus banget terumbu karangnya. Pas lagi asyik-asyiknya menikmati terumbu karang, tiba-tiba bang Syarif berseru. Aku gak paham dia ngomong apa, soalnya mulut bang Syarif terhalang alat snorkeling. Yang pasti setelah berseru, bang Syarif langsung melesat ke dalam dan menunjuk sesuatu.

Apaantuh?

Ternyata itu adalah seekor ikan hias yang aku pikir lagi pura-pura pingsan buat mengecoh predator. Tapi waktu bang Syarif pegang dan dibawa ke permukaan, tubuh ikan itu bergeming. Ternyata ikan mungil ini sudah mau mati. Yaahhh… Sayang banget.

Si mungil yang sekarat.

Sedihnya jangan lama-lama deh, soalnya ini pelampung kebesaran kayanya agak nyusahin. Udah kebesaran, longgar pula. Aku akhirnya memilih untuk menepi di karang remis bersama Yassir dan Bedul. Kata bang Syarif harus hati-hati, karena karang remis ini tajem-tajem banget permukaannya. Masak sih?

Dari kiri ada Zulfi, aku dan Yassir. Singgah sebentar di karang remis.

Walau gak bener-bener banget nih pelampunya tapi lumayan lebih rapet dari kondisi sebelumnya. Lanjut lagi dong snorkellingnya. Sekarang kita lihat-lihat ikan lucu. Yuk!

Widiihh… Gaya kamuflasenya keren yah.

Si cantik yang lagi sendiri aja nih hihihihii

Kuning-kuning. Hai kuning.

hijau, biru, ungu… waaauuwww

Aduuh aduuh ini jenis ikan apa yah? Bagus banget warnanya.

waah ada barakuda transparan ikut berenang bareng.

Ikan apa ini? Tapi putihnya keren.

Teripaaaaaaanngg… hhhhiiiihhhh

Oya? Kenapa nama pulaunya kambing yah?

Category: #KomodoTrip

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 2 in addition to 9?