Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Misi Kelima di Loh Liang #25

Yeah. Bayanganku masih berkutat di Loh Buaya. Jadi maklum saja kalau apa-apa yang aku lihat selama tracking, selalu aku banding-bandingkan dengan kondisi di Loh Buaya. Termasuk perburuan kali ini. Dilihat dari kondisi vegetasi di area ini, terlihat jauh lebih kering dan gersang bila dibandingkan dengan Loh buaya. Nuansa kemarau memang kerasa banget disini. Berasa di afrika deh hehehee…

Gak itu aja. Satwa selain komodo, seperti rusa, ayam hutan, dan babi hutan lebih sering kami temukan selama tracking. Satwa-satwa inilah yang menjadi santapan para komodo. Benar-benar rantai makanan yang terjadi secara alamiah. Maksudku alamiah, yah gak ada campur tangan manusia. Gak seperti di kebun binatang yang punya jadwal makan oleh pegawai-pegawai kebun binatang. Disini komodo dibiarkan liar. Berperikalu liar.

Manusia yang hidup di sekitar komodo juga sadar diri bahwa ekosistem yang ada memang tercipta untuk si komodo. Jadi, manusia dilarang merusak hal sekecil apa pun di sini. Dan aku sangat setuju dengan komitmen itu. Ekosistem ini milik komodo yang terus menjadi hal milik komodo. Selama kami ingin komodo tetap lestari, maka jangan pernah rusak lingkungannya.

Entah sudah berapa lama tracking ini berlangsung, namun kami menemukan hal unik di sini. Apa itu?

Plang bertuliskan “silent”. berarti pengunjung gak boleh ribut. dan plang ini gak aku temukan di Loh Buaya.

Aku lupa apa nama buah ini. Yang pasti warga sekitar mengkonsumsi buah ini. Lagi-lagi gak aku temukan di Loh Buaya.

Minimal masih ada hal yang kami lihat walaupun belum menemukan komodo seekor pun. Oya! Masih tentang ekosistem kering di area ini. Hutan kering ini terdiri dari beberapa tanaman tropis dan tumbuhan yang mendominasi adalah pohon asam. Saking banyaknya, kami sering menemukan plang yang bertuliskan “hutan asam”. Fotonya? Ada, tapi kayaknya gak sengaja terhapus ahahahha… Maaf-maaf… Bentuk fisik si plang gak jauh beda kok sama plang yang ada tulisan “silent“.

Aku lihat ada kerumunan orang-orang di depan sana. Ternyata gak cuma rombongan kami saja, ada rombongan lain yang juga sedang melakukan tracking. Tapi apa yang mereka lakukan sampai mengepung salah satu titik di bawah pohon? Aku sudah pasti mendekat untuk mencari tau. Dan apa yang aku temukan?

Ada komodo raksasa sedang tidur siang.

Kalau dilihat dari kondisi perutnya yang buncit dan berkulit kencang, pasti komodo ini habis makan siang. Sama seperti ular dan buaya yang melakukan kegiatan hibernasi setelah makan. Durasi hibernasi komodo sekitar satu minggu. Jadi setelah makan, komodo ini bobo cantik sampai seminggu kedepan. Kenapa bisa sampai hibernasi? Jawabannya sederhana, karena sistem metabolisme komodo kurang sempurnya, sehingga membutuhkan waktu berhari-hari untuk mencerna makanan yang masuk ke dalam perut.

Mumpung si komo lagi boci (bobo ciang), foto dulu deh.

sshhhttt… si komo lagi tidur

Baiklah, kali ini gak bisa lama-lama foto bareng sama komodo, soalnya banyak wisatawan yang mengantri. Kalo dipikir-pikir, komodo ini udah ngalah-ngalahin selebritis yah. Sekalinya nongol sudah diburu camera dan orang-orang berebut untuk berfoto sama artis keajaiban dunia ini hehehee… Tapi bukan berarti untuk jadi artis cukup jadi komodo yah. Gak gitu juga kaleeee… Hahahaha…

Perjalanan terus berlanjut tapi belum juga ketemu komodo kedua. Aku jadi ingat masalah populasi komodo yang jauh lebih sedikit dibanding komodo di Loh Buaya. Jadi wajar aja kalo lebih jarang ketemu komodo. Tapi sekalinya nemu, badannya besar banget. Berarti emang bener deh kalau ukuran komodo di sini jauh lebih besar.

Kalau tracking di Loh Buaya, perjalanan jauh gak terasa membosankan karena mas Budi selalu ada aja ide untuk ngelawak dan bikin gombal-gombal kocak. Nah! Kalau bapak ranger yang satu ini nampak adem anyem saja. Yaudah aja boring. Terus apa yang kami lakukan untuk mengusir kebosanan ini?

Video live report yang bergeser jadi video narsis para lelaki #KomodoTrip.

Ada pohon tumbang yang lucu juga untuk berpose di bawahnya ehehehe…

Padang rumput kering kerontang yang menarik perhatian. Foto dulu deh. Bentar doang kok.

Kemudian jalan mulai menanjak, dengar kabar dari bapak ranger kalau kami akan mengunjungi bukit yang sempat aku lupa namanya. Yang pasti mendaki bukit. Apakah bukit Mi’un juga ada di Loh Liang? Hehehehe…

Jalan menanjak.

Ternyata namanya bukit Sulphurea.

Gak butuh waktu yang lama untuk mendaki. Ternyata landasan tracking gak securam bukit Mi’un. Jauh lebih landai. Kemudian sampailah kami di puncak bukit Sulphurea. Yeah!!!

Bukit Sulphurea.

Waktu balik badan, baru sadar kalau ternyata bang Syarif berpose di atas patung berbentuk batang pohon. Kemudian bang Syarif jadi bahan bully kami. Haahhaha…

Pose andalah bang Syarif hahaha

Masalah pemandangan dari atas bukit ini masih kalah dengan pemandangan bukit Mi’un, jadi aku malas untuk menjelaskan panjang lebar heehhee…

Karena gak banyak hal yang membuat kami terpukau, jadi kami memutuskan untuk kembali menuruni bukit. Pemandangan di kaki bukit masih sama dengan pemandangan yang sudah-sudah. Banyak pohon kering dan ilang-lang kerontang. Kemudian kami bertemu jembatan. Yeah! Ritual foto-foto dulu.

Udah kaya cover FTV gitu yah ehehehhe

Alhasil, komodo kedua pun belum juga kami temukan. Objek foto bergeser menjadi foto pemandangan di sekitar sini.

Langit cerah yang cukup membakar kulit.

Di akhir jalur tracking, kami melewati pameran cendera mata yang dijual oleh warga-warga setempat. Waktu lewat pameran ini ada rasa penasaran untuk melihat-lihat namun begitu tau harganya gak murah, penjual yang agresif dan agak memaksa, aku jadi buru-buru angkat kaki deh. Rata-rata cinderamata yang disajikan adalah patuh komodo yang dipahat dari kayu dan kerang. Ada juga kalung mutiara asli yang datangnya dari Lombok. Hhhmmm… Terus terang aku sama sekali gak tertarik.

Salah satu cidera mata yang disajikan warga setempat.

Sempat kecewa karena selama perjalanan hanya bertemu dengan satu komodo. Sambil malas-malasan, kami berjalan menuju titik pertama saat briefing jalur tracking. Tapi kebosanan kami seketika lenyap ketika kami melihat lebih dari 2 ekor komodo sedang bersantai di tepi pantai. Alhamdulillah, nemu komodo juga akhirnya ehhehe…

WOW! Jadi begini muka komodo dari depan.

Lihat kukunya

Ototnya gila… Gede banget.

Dari dekat, kulit komodo ini lebih mirip kulit gajah yang kendur dari pada kulit kadal pada umumnya.

Aku sempat nanya bapak ranger dan memang ukuran komodo ini mencapai 3,2 meter. Subhanallah panjang banget.

Dan wisata macam apa yang melewatkan moment langka ini hehehehee…

Teh PutuKomo haahhaha

Kenapa bentuk hidungku aneh begitu? Maaf, salah fokus.

Ceritanya Zulfi pengen banget megang ekor komodo pake telunjuk. Hhhmmm…

Ekspresi kaget?

Hei bang!!! Cameranya dimari…

Yeah! Itu tangan mirip kepalanya komodo.

No Comment deh…

Ini pose sambil deg-degan…

Ini ritual yang sebenarnya ahhaha full team

Gak cuma ini aja. Tiba-tiba datang tamu tak diundang yang cukup mencuri perhatian kami. Bukan artis ibu kota, tapi tamu yang satu ini bisa dibilang salah satu saingan komodo dalam hal berburu makanan. Hei-hei siapa diaaaa..

Percaya gak percaya. Dia itu babi hutan. Kok bisa?

Babi hutan memang makanan komodo tapi itu gak berlaku pada babi hutan yang punya taring di mulutnya. Babi hutan bertaring ini justru cukup ditakuti komodo. Gak percaya?

Saat babi hutan mendekat, si komodo gak menyerang. Diem aja.

Lucu juga yah, komodo takut sama babi hutan hehehhee…

Well… Berakhirlah perburuan kali ini. Awalnya sempat membosankan tapi diakhir sangat luar biasa. Komodonya besar-besar banget. Wow! Takjub! Mau balik lagi ke boat tapi Pace belum jemput. Jadi kami foto-foto dulu. Foto pemandangan.

 

Saung di tepi pantai.

 

Pantai putih. Percaya atau gak, komodo juga berkeliaran sampai pantai dan berenang di laut. Bisa berenang juga.

Dermaga dan pelabuhan mungil untuk kapal-kapal kecil.

Dermaga yang kami lewati ketika datang dan pulang.

Bukti otentik nih kalo kami pernah menjalankan misi disini heheeh

Sambil menunggu Pace di ujung dermaga.

Gak lama kemudian…

Pace dataaaaang

Ini dia Pace. Aku sudah pernah cerita tentang Pace kan?

Wihiiii go boat (re:home)

Itu dia boat kami.

Mas Manto lagi mancing tuh.

Yihaaaaa… Fifth mission completed!!!! Setelah ini kami mau snorkeling lagi. Dimana? Yang pasti di tempat yang warna pasirnya gak bisa. Hehehehe pasti tau dong, kan aku udah kasih clue. Hihihihi…

 

 

Category: #KomodoTrip

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 7 times 5?