Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Terinspirasi atau Cari Mati

Berawal dari melihat dan mendengar. Kemudian ingin. Yang terakhir, merealisasikan apa yang dilihat dan didengar. Tapi kalau ingin merealisasikan imajinasi tanpa pikir panjang itu adalah tindakan bodoh. Iya, bodoh. Lupa kalau segalanya punya proses. Dampak terparah itu badan sendiri. Seperti bunuh diri kemudian mati konyol. Demi apa pun, itu bukan badanku.

 Jadi begini ceritanya.

Melihat dan mendengar film yang katanya luar biasa inspiratif. Entahlah inspiratif dari segi mananya. Waktu nonton aku cuma ngerasa pegel. Kayaknya salah posisi duduk. Fokus cuma pada karakter tokoh dalam film. Ceritanya? Flat. Konflik? Aku gak mau bahas. Kenapa? Apa yang mau dibahas? Gak ada. Ini komentar subjektif? Ya terserah, toh aku memang gak baca novelnya. Nonton juga karena penasaran.

Ya itu dia. Film yang memampang bentang keindahan alam Indonesia dari ketinggian gunung Semeru hingga puncak Mahameru. Puncak yang mendadak fenomenal. Bukan film inspiratif tapi film hipnotis. Berani taruhan? Gunung Semeru mendadak rame karena berbagai jenis manusia berebut ingin merangkak sampai puncak. Termasuk teman-teman sekelasku. Korban hipnotis. Aku juga korban hipnotis. Sempat hampir tidur waktu nonton filmnya. Kalau bukan karena keributan dari tetangga kursi, mungkin aku sudah sampai Semeru (dalam mimpi).

Melihat dan mendengar, kemudian ingin, lalu tangan dan kaki bertindak untuk merealisasikan apa yang dilihat dan didengar. Setelah nonton filmnya. Kemudian terhipnotis untuk bertindak sama seperti para artis di dalam film. Tercetuslah ide untuk mendaki Mahameru. Fix, orang-orang itu sudah terhipnotis.

Tapi masalahnya. Manusia luar biasa awam itu ingin mendaki dalam kurung waktu 5-6 hari. Hah?!?! Antara ketawa ngakak dan mengerutkan dahi. Apa iya semudah itu? Itulah mereka.

Selang beberapa hari, aku dengar dari temanku yang lain bercerita tentang pendakian ke Mahameru. Tapi bedanya, teman yang satu ini masih sangat waras. Ia paham, dengan kondisi tubuh yang masih luar biasa awam pasti butuh proses dan butuh tahap. Tujuannya memang ingin menaklukkan si Semeru, tapi ia memilih untuk latihan fisik dan mendaki gunung yang lebih rendah dahulu. Pemula. Berarti banyak langkah yang harus dilalui dari sekedar 5-6 hari.

Aku sempat diajak untuk menaklukkan ekspedisi ini. Hhmm… Berhubung aku sangat sadar diri dengan kondisi fisik yang jauh dari bugar, jadi aku lebih tertarik berkutat di kota apel. Malang. Melepas kangen dengan saudara beswan 27 Malang nampak lebih menggiurkan.

Aku sempat bertanya ke beberapa teman kampus yang terhipnotis itu. Bagaimana mereka nanti? Bagaimana saat mendaki? Ternyata jawaban yang aku dengar itu jauh lebih enteng dari berat badanku. Cuma bisa ngelus dada. Aku sudah kepalang kesal. Biarkan sajalah. Kalau aku coba jelaskan ini-itu nanti dicap sok tau. Endingnya, cuma nambah koleksi musuh.

Jadi kondisi yang aku liat saat itu seperti anak kecil yang baru selesai menonton film Superman. Kemudian berlari ke kamar. Menyambar sarung ayahnya. Dengan lincah ia ikatkan bagian ujung di leher seperti jubah. Manjat ke atap rumah bersama riang dan imajinasi tanpa celah.

I’m gonna fly

Berlari dan loncat di ujung atap. Loncat dari atap rumah, dikira dengan begitu ia bisa terbang bersama tokoh Superman. Ckckck… Aku sudah bilang kan, itu mati konyol.

perfect landing

Lantas apa yang ingin aku sampaikan dalam posting ini? Maaf mengecewakan pembaca. Ini hanya efek kekesalan semata.

Bukan kesal dengan filmnya. Sama sekali bukan. Aku justru bangga. Aku pernah jadi saksi atas keindahan Mutiara Timur Indonesia dalam #KomodoTrip bersama 5 orang keluarga Beswan Djarum lainnya.

Bukan pada filmnya, tapi pada apa yang aku lihat di sekitar hidupku. Entah aku berada di lingkungan yang salah atau bagaimana. Entahlah.

Category: Aku
Tag: ,

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 4 times 7?