Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Meng-Gili Lawa-Tawa #28

Ada yang spesial nih. Apaan tuh? Yang pasti bukan nasi goreng pake telor, tapi ini sunset pake tracking ke puncak bukit Gili Lawa. Wow! Habis main air, berbasah-basah keringat lagi demi mengejar momen sunset. Selama ini kami sudah sering banget tracking, tiap hari malah. Nah! Apa bedanya sama tracking kali ini? Aku juga penasaran, ihiiiyyy… Pantengin aja terus deh cerita aku hehheee..

Kata bang Syarif, kami akan habiskan momen sunset di Gili Lawa. Gili Lawa itu yang mana yah?

Gak lama setelah beberapa pulau gersang ini terlihat, mesin boat mendadak mati. Wah! Saatnya beralih ke sekoci motor nih.

Coba tebak siapa yang ikut berpetualang bersama kami. Yes! Bang Bahar.

Bang Syarif tetap mendampingi. Gile, tumben posenya bener nih orang ahhahaa

Handycam on STANDBY

Gak butuh waktu yang lama, hitungan menit kami pun sudah sampai di tepi pantai Gili Lawa. Sama seperti pulau-pulau kecil pada umumnya. Gersang, berbukit dan tak berpenghuni. Lalu apa bedanya dengan pulau yang sudah-sudah? Mungkin aku akan dapat jawabannya nanti.

Pantai Gili Lawa

Sekoci merapat. Kaki kami memijak pasir. Waktunya tracking. Waktunya mendaki, sodara-sodara. Mau tau puncak Gili Lawa yang akan kami capai? Ikuti terus tiap langkah kami yah guys.

Menginjakkan kaki pertama

Selalu always, tidak pernah never. Aku berjalan di barisan terakhir.

Aku gak paham kenapa kaki orang-orang ini begitu kuat.

Lihat puncak itu. Itu lah tujuan kami. GANBATE!!!

Kemudian para lelaki mendahuluiku dan teh Putu. Hhmmm…

Sebenarnya bang Bahar sudah melesat dengan para lelaki, mungkin karena kasihan melihat aku dan teh Putu yang sudah ngos-ngosan jadi bang Bahar kembali turun untuk menemani kami. Lebih tepatnya memantau para wanita ini. Hahahaa bang Bahar LD nya lolos banget hahahaa…

Aku, teh Putu dan bang Bahar yang duduk sebentar untuk minum dan tarik nafas.

Medan makin curam. Kami pun memilih untuk merangkak.

Jujur yah, di bagian ini lutut sampai gemetaran. Disamping sudah lelah, posisiku sekarang ini berada di ketinggian yang entah berapa meter dari permukaan laut. Tinggi banget. Dan semakin tinggi, angin yang berhembur kencang. Tanganku semakin kencang saja berpegangan dengan ilalang kering dan batu. Masa bodoh masalah kotor. Badan selembar kayak gini, mana tau terbawa angin kaya layangan hehehe…

Begitu aku coba noleh ke belakang. Masya Allah… Aku belum sampai puncak tapi aku sudah setinggi ini.

Cantik banget!!

Biar kering kerontang tapi tetep cantik cetar membahana

Gak bisa ngomong lagi deh. Takjub luar biasa.

Langit masih belum merona. Ayo!! Jangan sampai melewatkan sunset.

Puas merinding di ketinggian bersama pemandangan yang luar biasa, saatnya melanjutkan langkah menuju puncak. Wah! Lirik lagu dong. Menuju puncak gemilang cahaya. Mengukir cita seindah asa. Menuju puncak gemilang di hati. Bersatu jadi kawan sejati. Pasti berjaya bersama beswan djarum. Hahahah musti dipelesetin dikit endingnya.

Terus merangkak bersama sengatan mahatari.

Setiap mau melangkah, aku selalu pastikan batu di depanku ini kokoh. Atau aku bisa tergelincir dan beguling sampai bawah.

Hap! hap! hap!

Naluri reporter. Lebih memilih mengabadikan momen ketimbang bantuin teh Putu mendaki. CADAS!!!

Dan akhirnya sampai juga. Aaaarrgghh!!!! Aku langsung duduk dengan dada kembang kempis. Atur nafas. Minum air putih. Tenangkan lutut. Tenangkan jantung yang dari tadi ribut. Kemudian menghimpun lagi nyawa yang masih ketinggalan di belakang sana.

Hoosh!!! hosh!!

Pernah nyangka gak kalau aku sudah berdiri setinggi ini? Setinggi apa?

Waktu nengok ke bawah

Setinggi ini.

Setinggi ini!!!!!

Tapi ini belum seberapa. Waktu aku mutar kepala ke samping, ternyata bang Syarif sudah berdiri di puncak yang lebih tinggi lagi.

Itu tinggi banget.

Gak lama kemudian Bedul menyusul.

Sebenarnya aku sudah males banget berdiri dan menggerakkan kaki lagi. Tapi kalau dipikir-pikir, puncak itu gak terlalu jauh. Jadi? Lanjutkan!!

Memang gak terlalu jauh dan begitu sampai di puncak, semuanya bisa terlihat. Termasuk sumber pusaran air yang sempat buat aku bingung ketika baru bangun tidur.

Airnya, bukitnya, wow!!

wihiiii

sesi photoshoot hehehee

keren banget yah

Hei Jinggaswara. Siapa yang sanggup mengantarkan sopranmu sampai puncak Gili Lawa? Aku!!! Haahhaha

Jadi, bagaimana pusaran air bisa terbentuk. Ternyata sumbernya bukan karena ikan atau apapun. Melainkan karena bertemunya arus dari berbagai arah hingga akhirnya mereka membentuk suatu putaran. Putaran inilah yang membentuk pusaran air. Pertemuan dari berbagai arah arus air. Kondisi ini terlihat jelas dari tempatku berpijak. Ada arus yang datang dari celah tebing sehingga mempengaruhi arus air laut. Entah apa istilah ilmiahnya, tapi memang ini yang aku lihat.

sumber pusaran air.

Lagi-lagi. Turis macam apa yang melewatkan momen super langka ini hahahaha….

Gak kalah keren dong sama 5 cm yang fenomenal itu.

Kegilaan juga masih tersisa sampai puncak.

Hei lihat mataharinya. Saatnya menghitung mundur.

Dan senja pun tiba. Dan miki kelima, selesai!!!

Mutiara Timur Indonesia. Ini bukan di New Zealand, bukan di Afrika, bukan di Australia. Ini Indonesia. INDONESIA. Wooohhhooooo….

Menyadari perlengkapan kami terbatas, terutama masalah penerangan. Diantara kami berdelapan, gak ada satu pun yang bawa senter atau lampu emergency. Hari semakin gelap dan sudah saatnya untuk pulang. Tapi perjalanan menuruni bukit ini tetap sama sengsaranya dengan mendaki. Betisku sudah meraung-raung. Aaauuww!!

Turun pun tetap di barisan terakhir.

Blagu banget tuh si Wahyu, mentang-mentang paling depan.

Sepertinya aku mulai ngerti kenapa Wahyu pengen cepet-cepet turun bukit. Hiihihih.. Bahagia bener..

bang Bahar dan bang Syarif jadi korban kenarsisan kami ahhaah

Kulit menghitam, berkeringan, rambut gak berbentuk dan parahnya lagi, gak bisa pose model ahhaah

LEVITASI… Dimana aja bisaaaa

Saatnya kembali ke sekoci motor dan mandi. Ini badan sudah bener-bener kecut. Baru juga keluar dari air laut, sudah keringatan lagi. Oya! Di misi ini aku ber-quote sembari mendaki dengan kaki gemetaran. Mau tau apa?

This trip is all about salt, between sea and sweat.

Bener kan? Kalo gak snorkelling ya tracking. Ujung-ujungnya, asin air laut dan asik keringat ahahaha… Keren kan…

Ini adalah penutup hari yang luar biasa. Senja aja udah begini menakjubkan, apa kabar makan malam yah? Eh! Kalo bang Bahar ikut trackingi bersama kami, terus siapa yang masak makan malam?????

Category: #KomodoTrip
  • sucilestari says:

    This is, my favorite part ! Cantik :)

    January 27, 2013 at 11:06 am
  • ayu emiliandini says:

    sucilestari :

    This is, my favorite part ! Cantik

    Hahaha Gili Lawa yang cantik teh? kirain aku? ahahhaa

    January 28, 2013 at 2:20 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 6 * 7?