Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Menulis

Hallo…

Kalau judulnya sudah “Menulis”, minimal itu udah jadi clue. Aku mau tulis apa di posting kali ini. Yang tentang tulis-menulis. Khususnya tulisan yang aku tulis.

Kenapa menulis?

Sebelum aku jawab karena, aku mau cerita. Sejarahku tentang menulis.

Pada dasarnya aku sudah kenal diary dari bangku SD. Bukan karena dibiasakan menulis atau apa. Aku punya kepribadian yang tertutup. Cenderung malu untuk membahas berbagai hal. Teman juga sedikit. Alhasil, aku nulis buku diary sampai gak terhitung sudah berapa buku.

Kemudian aku duduk di bangku SMP. Masih menulis diary tapi hhmmm… aku tertarik untuk menulis yang lain. Aku gak begitu paham bagaimana otakku ini bisa bekerja, disana banyak adegan atau gambar-gambar bergerak yang seliweran di kepala setelah aku nonton film atau sekedar melihat-lihat pemandangan di luar jendela bus sekolah.

Kalau disusun runut, rangkaian adegan itu bisa jadi cerita. Tapi sayangnya aku gak terbiasa membaca. Dirumah gak boleh ada komik dan novel. Cuma buku-buku pelajaran. Bagaimana bahasa novel, aku sama sekali gak tau. Baca komik juga diem-diem. Kalau ketauan bisa dimarahin. Tanpa membaca referensi, bukan berarti aku gak bisa memulai. Inilah awal mula aku menulis cerita pendek. Tata bahasa yang aku gunakan aku pelajari sendiri dari dialog film atau drama series.

Sebelumnya aku juga suka puisi sejak nonton film “Ada Apa Dengan Cinta”. Draft puisi di komputer sudah gak terhitungKegemaranku menulis puisi,  diketahui oleh temen-temen sekolah. Mereka tau dari mading. Aku pernah sesekali menyumbangkan puisi. Walau kadang tiba-tiba dicopot dari mading dan dibuang ke tong sampah. Katanya kampungan. Dari sini aku jadi bebal dengan kritikan subjektif yang bikin otakku muter.

Kemudian aku jadi keranjingan menulis cerpen. Gak jarang orang tua memergoki aku duduk berjam-jam di depan komputer. Dimarahi? Iya, kadang aku jadi lupa waktu. Tapi karena semangat menulis ini, aku bisa ngetik lancar dengan 10 jari tanpa melirik key board. Keren kan.

Lalu ada teman yang memberikan alamat sebuah penerbit. Dari sinilah aku memberanikan diri untuk mengirimkan beberapa cerpen terbaikku ke penerbit. Tapi sayang, hitungan minggu cerpen ku pulang lagi. Ditolak. Ini yang bikin aku cukup terpukul. I was single fighter. Sekalinya ngedrop yang jatuh sampai gak mau nulis lagi. Toh orang tua juga gak begitu mendukung.

Tapi aku sempat bangkit sedikit waktu buletin sekolah meloloskan cerita pendekku dan terpampang di sana. Senang. Tapi aku gak mencantumkan identitasku dalam cerpen itu. Aku masih malu. Tapi benar saja, ini jadi lebih mudah. Minimal aku bisa leluasa mendengar betapa banyak orang yang memuji dan mencerna tuliasanku disaat yang sama.

Masa SMP ku berakhir. Aku berganti seragam. Adegan reflek masih mewarnai ruang pikirku. Semakin dipikirkan makan adegan akan semakin jelas, tapi aku biarkan saja. Biarkan jadi pelaku dalam ruang imajinasi. Aku berhenti menulis cerpen, tapi tetap menulis diary.

Jadi kenapa aku menulis?

Karena aku butuh. Imajinasiku senang bergerak kesana kemari dan berwarna merah kuning hijau. Waktu kelas 3 SD aku juga pernah ikut kursus melukis, tapi motorikku gak sanggup memenuhi keinginan imajinasi yang terlalu kompleks. Aku gak pintar menggambar ehehehhe…

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 + 6?