Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Labuan Bajo – Denpasar #37

Pagi di Labuan Bajo.

Biasanya aku selalu penasaran dengan sumber cahaya yang mencuat dari celah pintu kamar. Ingin cepat-cepat mengimpun nyawa kemudian mencelat hingga tepi jemuran di depan kamar. Berjinjit. Ingin lihat deburan ombak. Sebenarnya itu hempasan air tenang yang terbelah kacau karena MV Yohanes III berlayar dengan perkasa. Atau sekedar memutar otak kecil berporos tentang keberadaan pusaran air. Atau terkejut dengan riang begitu melihat ubur-ubur transparan menyapa dari permukaan laut. Atau berlari ke muka boat, mendapati mas Manto lagi ngerayu gagak hitam dengan potongan roti.

Pagi ini aku lihat kelambu. Tembok bata. Bukan kayu seperti kamar miniku di boat. Diam tenang. Tak ada suara mesin boat yang selalu mengejutkan saat tiba-tiba hidup atau padam. Menghimpun nyawa dan menegaskan diri. Aku sudah di Labuan Bajo.

Aku lupa saat itu teh Putu yang duluan bangun atau sebaliknya. Yang pasti, pagi-pagi sekali kami sudah menuju restoran untuk sarapan pagi. Masih ingin menikmati pancake raksasa berlapis dengan berbagai rasa selai. Masih ingin melahap nasi goreng ikan teri hasil kreasi bang Bahar. Atau teriakan bang Syarif setiap kali lapar dan ingin makan.

“Bahaaaaaarrrr…. Sudah lapar niiihhh……..”

Aksen sedikit melambai yang sering membuat kami tertawa geli. Ditambah reaksi bang Bahar yang cuma lempeng tanpa ekspresi. Hahahaha… Sekarang harus siap dengan roti bulat tanpa isi dan rasa. Ditemani telur ceplok, berbagai jenis saus dan teh hangat. Ini perpaduan yang aneh.

Clingak-clinguk ngeliatin para bule yang makan dengan nikmatnya. Aku justru menelan ludah. Makanan seperti ini cuma bikin mampet tenggorokan. Gak ada kenyang-kenyangnya. Tapi apa mau dikata. Tetap harus dimakan. Mau mati kelaparan? Itu akhir liburan yang konyol. Mati konyol.

Nyam… Nyam… Nyam…

Pesawat kami lepas landas jam 11 nanti. Sedangkan saat itu masih jam 7 pagi. Sambil menerka-nerka, semoga toko cendramata sudah buka. Kalau di Bandung toko jenis apa pun prinsipnya nine to nine, buka jam 9 pagi dan tutup jam 9 malam. Tapi untungnya di Labuan Bajo, beberapa toko cendramata di sekitar hotel sudah ada yang buka.

Mulai lah kami wara-wiri menghabiskan uang untuk membeli oleh-oleh. Membeli dengan penuh pertimbangan. Disamping harga yang luar biasa mahal, gak ada satu pun jenis cenderamata yang bisa ditawar harganya. Bahkan ada penjual yang bengong waktu aksi tawar-menawar harga kerap kami lakukan.

Mungkin orang-orang bule gak pernah mempermasalahkan harga mahal ini. Malah mungkin bagi mereka, harga segitu masih wajar-wajar aja atau bisa jadi murah. Lah kami kan bukan bule. Emang sih itemnya udah kaya negro tapi kan tetep bukan dompet bule hehehee… Alhasil harus tetep legowo dengan harga yang mahal dan gak bisa ditawar. Kapan lagi bisa nginjek tempat ini heeiiiii….

Urusan oleh-oleh, check. Baju basah karena keringat juga check!!! Panas gilaakk… Kalo bisa nyanyi, udah dari tadi berisik bareng 7icon.

“Gak.. Gak.. Gak kuat… Gak.. Gak.. Gak kuat… Aku gak kuat sama Labuan Bajo… Lalallalaaa…Lalalalaaa….”

Skip!!!

Uang sudah menipis. Waktu juga ikutan tergerus matahari Labuan Bajo, menipis. Cepat-cepat check out dari hotel dan bergegas menuju airport. Masih bersama mas Chandra dan bang Bahar yang juga ikut menunggu. Sebenarnya sedih waktu kami harus berpisah di pintu boarding pass. FYI!!! Boarding pass nya cuma Rp 11.000 lho.Serius gak bohong. Hehehhee…

Berpisah lah kami di sana. Masuk ruang tunggu dan bernafas lega. Akhirnya aku bertemu dengan AC. Yiihaaaa…Agak lama juga nunggu pesawatya ready. Tapi dimanapun kami berada, selalu ada alasan untuk tetap hore hehehee… Saking horenya, sampai tak terasa pesawat sudah datang.

Tetap melakukan ritual ini.

Waktu itu aku gak dapat tempat duduk di samping jendela. Tapi waktu lihat kursi di samping Zulfi kosong, aku langsung pindah tempat duduk. Yess!!! Duduk juga di samping jendela. Perjalanan pulang gak begitu menyenangkan. Pesawat yang kami tumpangi penuh dengan penumpang, berbeda saat keberangkatan kami. Sampai bisa wara-wiri kayak pesawat pribadi. Tempat duduk kami pun berjauhan jadi terpaksa kami puasa hore sampai pesawat mendarat di Denpasar.

Pemandangan dari atas pesawat. Tetap menawan pastinya.

Sampai ketemu lagi.

Warna air dan hijau pulaunya. Tetap menawan.

hahahha gak tau mau comment apa.

biru lautnya. putih pasirnya.

Waktu itu aku cukup terlena dengan AC yang sudah cukup lama aku rindukan. Saatnya menyumbat telinga dengan headphone dan terlelap.

Bangunkan aku kalau sudah sampai Denpasar yah.

Category: #KomodoTrip

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 8 * 5?