Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Hujan, Aku Harus Pulang #7

Gak cuma ransel yang mengambil alih keseimbangan tubuhku. Ada daya magnet yang terus menarik sorot mataku ke belakang. Memutar sebagian tubuhku. Menorehkan engsel leher dan tengkorakku. Menyibukkan bola mata dalam poros rongganya. Sekelebat manusia dengan pikiran bercabang. Sibuk sendiri dan memikirkan kereta beserta gerbongnya.

Kembali menatap pacar yang sudah berada lima langkah dari tempatku tertahan. Aku yang menahan. Aku tau dia gelisah. Dua jarum sudah berlenggang menuju posisi sakral. Tepat jam pasirku berhenti sempurna. Pasirnya habis. Kalian dimana? Sebentar lagi aku pergi.

Bulir-bulir hujan. Sejauh aku berusaha fokus untuk tetap melihat. Bulirnya halus. Tapi di tempat lain bagaimana? Teman-temanku terjebak dengan bulir hujan yang lebih besar dan serakah.

Kemudian aku kembali meratapi kegelisahan pacar yang mekhawatirkan kereta. Kalau harus berjalan mundur. Mungkin sudah kulakukan. Melangkah mendekati kereta namun tetap menghadap ke belakang. Bagaimana kalau kalian datang ketika aku sudah tak terjangkau dengan suara teriakan. Suara memanggil. Ransel di punggung beserta jaket parasut terlalu memakan tempat. Engselku bergerak terbatas.

Berjalan menuju gerbong. Keretanya sudah berhenti sempurna. Ini beratnya luar biasa. Semakin ingin menunggu semakin berat. Sekejab akan berubah jadi kurcaci. Beban berat bertumpu di punggung dan dua tungkai kaki.

Mendapati dua orang berpakaian pramugari berdiri di kanan-kini pintu masuk gerbong. Pramugari? Entahlah. Kalau mereka bisa bawa teman-teman ku hadir, mungkin aku akan peduli. Masih melangkah dengan tenaga ala kadarnya. Pacar mengerti. Itu mudah. Jadi aku cukup diam dan dia paham.

Ditambah sinyal handphone harus terpental dengan logam. Sial! Ini gerbong sudah sebangsa kaleng raksasa.

Kemudian satu teman berhasil sampai di depan pintu batas atar penumpang. Langkah seribu mendera. Bang!! Bang!!! Bang!!! Bagaimana jadinya kalau sol sepatu classic converse beradu tekanan dengan logam gerbong kereta. Kemudian beradu dengan tangga turun dan lantai stasiun.

Aku lihat ada David di sana. Selama 3 hari di Malang, ini kesempatan pertama untuk bertemu. Aku paham, dia sibuk skripsi. Histeris, senang, reuni sepintas dan harus berpisah lagi. Kepala kereta sudah berputar. Aku harus kembali ke dalam gerbong. Pacar melihat aku kembali dengan menahan air mata. Ini sangat memudahkan. Hanya diam dan dia paham.

Peluit berkumandang. Sirine kereta berbalas. Ini kasar!!! Ini waktunya kereta berangkat.

Hingga ratusan roda kereta bergulir. Bersama bulir hujan. Semakin besar dan serakah. Ini membasahi segala yang melintas dibawahnya. Kalau menggenangi segala cekungan di bawahnya. Terus saja berdera. Petir dan teman sejawat juga memperindah suasana.

Jendela kereta

Langitnya kelabu. Sejauh pandangan mata itu abu-abu.

Dream Catcher itu bersamaku.

Malam pun datang

Aku pikir gelangku terlalu erat. Ternyata…

Gelang manik-manik ungu dari Ove dan tiket gelang Jatim Park 2 yang masih bertahan disana.

Hidup akan terus punya cerita kalau kaki mu mau melangkah, telinga mu mau menerima, matamu mau menyimak, mulutmu mau menyambut, tangan mu mau memeluk, tubuhmu rela membagi kehangatan, dan ingatan mu berporos untuk terus memutas ulang. Apa? Kenangan.

Saksi perjalananku

Terima kasih Dalang 27. Kalian tau. Aku belajar toleransi berteman dan kekuatan emosional dari kalian. Kenapa belajar? Karena aku asing temukan itu di sini. Dimana? Tempat ku berada saat ini.

Terima Kasih banyak 

d(^_______^)b

Category: #NgalamTrip

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 + 5?