Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

SD Sindang Sari 5 #4

Kondisi gedung sekolah yang bikin aku banyak mikir. Mereka upacara bendera dimana? Bahkan tiang bendera beserta selembar kain merah-putih pun gak nampak berkibar di sekolah ini. Kalau bukan karena keberadaan makhluk-makhluk mungil berkostum putih-merah, aku pikir tempat ini sebatas gang kelinci di tengah-tengah kepadatan kota Bandung. Inilah sekolah yang akan menjadi saksi langkah pertamaku menuku Kelas Inspirasi. Sebelum aku lulus. Sebelum aku mengganggur. Sebelum aku menemukan satu pekerjaan hingga menjadi profesional. Berjalan bersama waktu.

Tampak depan SD. Berikut aktifitas di pagi hari. 06:30 pagi.

Sebuah lorong dengan deretan ruang kelas di salah satu sisinya.

Aku kedapatan tugas mendokumentasikan kondisi fisik bangunan sekolah ini. Mbak Fitri kebagian memotret profil inspirator sebelum masuk ke dalam kelas. Jadi sejenak aku akan ceritakan bagaimana kondisi sekolah ini.

Sepintas aku jadi ingat dengan bocah-bocah bersemangat di Desa Pasir Panjang, Pesisir Pulau Rinca, NTT, Taman Nasional Komodo. Suatu anugrah bisa mengunjungi saudara mungil di sana. Kondisinya bisa jadi lebih parah. Tanpa alas kaki bukan berarti enggan menuntut ilmu di sekolah. Tanpa seragam sekolah juga bukan alasan untuk tidak datang hari itu juga. Ikut sedih kalau aku cerita lagi. Selengkapnya bisa check >> di sini.

Kembali ke Bandung. Kembali ke Kelas Inspirasi Bandung.

Salah satu tugasku sebagai dokumentator, mendokumentasikan kondisi gedung sekolah. Aku mulai dari dalam kelas dulu.

Pintu masuk kelas. Satu pintu lagi di ujung sana. Itu pintu menuju kemana?

Dinding semen. Kalau sudah begini biar semen tetap aja rapuh. Mereka berada di dalam bangunan rapuh.

Tadi saat masuk dari pintu pertama, aku lihat ada satu pintu lagi. Tepat di seberang pintu yang aku masuki. Apa bedanya dengan pintu pertama? Itu pintu menuju kemana? Ada apa di sana? Atas dasar pertanyaan-pertanyaan di atas aku lanjutkan langkah. Gak perduli sorot mata bocah di dalam kelas yang menatapku heran. Kacamata besar, jaket hitam parasut, dan rambut sedikit berantakan. Mungkin aku jadi makhluk aneh di mata mereka.

Kaki sudah sampai di bingkai pintu. Ada dinding rendah. Setinggi dadaku. Di seberang dinding ada rumah penduduk. Baiklah, kesimpulan pertama, sekolah yang berdampingan langsung dengan rumah penduduk.

Kepalaku berputar leluasa ke kanan-kiri. Ini semacam jalan setapak yang dibatasi dinding kelas dan dinding rendah di setiap sisinya. Aku telusuri lorong. Di ujung lorong ternyata ada dua toilet. Baiklah. Kemudian aku balik badan. Dan aku mulai sesak nafas ringan.

Ada sungai sangat kotor di balik dinding rendah di luar kelas.

Siapa aku? Aku mahasiswa Teknik Lingkungan yang sangat paham dengan kondisi ini. Seperti Avatar the legend of Ang. Aku menguasai 3 elemen bumi. Air, tanah dan udara. Dan ini adalah air.

Lihat kondisi sungai. Bahkan warnanya hitam. Bayangkan angle pada foto ini. Tempat ku berdiri saat memotret. Di seberang punggungku ada dua unit toilet. Entah untuk siswa atau guru juga gunakan toilet yang sama. Kurang dari 2 meter di depannya sudah ada sungai. Kalau toilet sekolah gak menggunakan septic tank, sudah jelas buangan domestiknya langsung meluncur ke sungai.

Aku bahas sedikit tentang musim hujan. Panas sesekali kemudian hujan lalu panas lagi dan seterusnya. Aku khawatir dengan wabah penyakit demam berdarah. Kapan pun bisa menyerang mereka. Bocah berseragam. Aku jadi was-was dengan hujan deras dengan debit hebat yang sanggup meluapkan sungai sedangkal ini. Air meluap menggenangi kelas. Menggenangi anak-anak. Kemudian mereka yang hanya mengerti cara bermain yah bermain saja dengan air bah. Seperti kolam renang.

Aku jabarkan sedikit. Buangan domestik dari toilet sekolah. Bisa jadi buangan dari penduduk di sekeliling sungai. Sebut saja buangan organik. Bakteri suka organik. Bakteri paling mematikan juga suka organik. Organik di buang ke sungai, jadi bakteri mematikan itu hidup di sungai. Alirannya tenang, tenang juga hidup bakteri di sana. Suatu ketika hujan besar, air sungai meluap dan anak-anak berenang riang bersama bakteri mematikan. Penyakit bawaan air seperti kolera, diare, muntahber, cacing-cacing yang menembus kulit tipis mereka, nyamuk dan larva, hepatitis. Aku gak sampai hati kalau harus sebutkan semua penyakit yang bisa menggerus tubuh mereka.

Apa yang bisa aku lakukan? Berdiri di tempat sambil mengerutkan dahi? Aku bingung sendiri. Aku bisa apa dengan kondisi seperti ini?

Atur nafas sajalah. Aku harus kembali pada tugasku. Masih banyak bagian dari sekolah yang harus aku dokumentasikan. Baiklah, aku kembali masuk ke dalam kelas. Sibuk lagi dengan kondisi kelas.

Papan kurikulum. Ada kategori pengembangan diri? Apa itu?

Papan tulisnya sangat layak. Menurutku. Toh sudah pakai spidol.

Papan data kelas. Mungkin perkembangan murid per hari di sekolah ini cukup termonitor dengan baik.

Seperti inilah kondisi salah satu kelas pada umumnya. Hei itu ada kerumunan apa?

Ternyata kerumunan siswa yang sedang mengerjakan PR

Mereka hanya tersenyum malu-malu waktu aku mendekat dengan pocket camera di tangan. Walaupun tertangkap basah sedang mengerjakan PR di kelas, mereka tetap keukeuh menulis dan tukar jawaban.

Seingatku mereka sedang mengerjakan PR sejarah.

“Ini nomor lima jawabannya apa?”

“Kerajaan Singasari!”

“Beneran? Masa sih? Coba lihat jawaban kamu apa.”

Serius mencatat.

Hahahaaa… Antara tertawa lucu dan miris. Pertama kali mengerjakan PR di kelas itu aku lakukan waktu duduk di bangku SMA. Biasalah anak ABG yang sudah kenal bandel dan mulai mencoba hal baru yang belum pernah aku lakukan. Disamping karena malas, aku juga kesulitan menyelesaikan tugas. Mama yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, angkat tangan menyerah kalau aku tanya masalah pelajaran. Kalau pelajaran SD-SMP mama masih bisa bantu jawab. Ditambah lagi aku masuk jurusan IPA. Dulu mama sekolah kejuruan bidang sekretaris. Antara sekretaris dan akutansi, aku lupa.

Sebenarnya aku masih bisa tanya masalah pelajaran jurusan IPA ke papa. Seingatku dulu Papa lulusan sekolah kejuruan mesin. Tapi kondisi papa kerja di sebuah perusahaan minyak yang cukup jauh dari rumah. Dalam sebulan, dua minggu dihabiskan di lokasi sedangkan dua minggunya lagi di rumah. Belum lagi kalau papa bawa kerjaannya ke rumah dan beberapa kali ikut training di luar kota. Agak susah juga.

Apa mereka berada di kondisi yang sama seperti aku dulu? Tapi usia sekecil ini kenapa sudah berani kerjakan PR di kelas? Orang tua mereka gak nanyain ada PR atau gak? Mereka gak nanya ke orang tua kalau-kalau ada PR yang susah? Atau bagaimana? Ini memang sepele tapi aku jadi sedikit merisaukan peran orang tua dalam perkembangan pendidikan mereka di rumah. Atau jangan-jangan kondisi orang tua mereka lebih parah dari orang tuaku? Aku hanya bisa menerka.

Lagi-lagi aku cuma teriak dalam hati. Aku bisa apa dengan kondisi seperti ini? Atur nafas lagi dan kembali pada job desc ku.

Aku kembali ke pekarangan sekolah. Sepertinya masih banyak bagian yang belum aku foto.

Beberapa tanaman gantung dan tanaman pot. Walau sempit, minimal sekolah ini masih menghijau.

Asik yah ke sekolah naik sepeda. Beberapa sepeda siswa parkir di pekarangan. Sayangnya diparkir sesuka hati.

Ada papan mading dari sponsor. Sepertinya masih baru. Kenapa kosong?

Aku melipir ke ruang kepala sekolah. Kebetulan ruangannya sedang terbuka lebar.

Minimalis dan terkesan cukup karena gak lebar-lebar banget.

Ada kotak saran tepat di sebelah kiri pintu ruang kepala sekolah. Semoga kotak ini memang berfungsi.

Sekolah sudah mulai ramai. Aku tengok jam tangan. Mendekali jam 7 pagi.

Hai inspirator. Are you ready for inspiring them? ;) 

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is frozen water?