Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Bom Waktu

Aku gak paham garis. Termasuk yang sudah digariskan semesta. Bahkan penyayangku juga enggan mengerti. Sama-sama gak mengindahkan selain bahasa yang manusia buat sendiri.

Aku punya energi. Hidup dan mengalir. Berdenyut saat perhatianku beralih. Bahkan saat diperintahkan untuk berhenti, aku berbelok. Mengendap dan mengambil jalur lain. Agar terus meluncur bersama naluri. Disaat itu pula energinya berdenyut. Hidup.

Tetap saja jera di antar sekat. Jadi aku bertahan dalam tunduk. Malu kalau dilihat. Dilirik pun sudah terbakar di tempat. Belum lagi instruksi berhenti terus menggembala. Telinga sudah termantra. Berhentilah aku. Pena bergelinding ke sudut ruangan. Kertas jatuh lunglai, menutupi ujung sepatu.

Berjalannya waktu sambil terus menunduk. Denyutnya sudah lama hilang. Mungkin mati.

Lalu ada yang datang. Merangkul dengan hangat. Menuntunku. Sambil menata langkah, sambil tersauk. Menaruh kehangatan di tepi jari.

“Menulislah. Ini bukan kertas dan pena, tapi pemilik pasang mata akan membaca.”

Kalau begini caranya, aku gak bisa meringkuk menunduk.

“Ya. Angkat wajahmu. Tegakkan punggungmu. Tantang bahumu. Aku bersamamu.”

Sekali. Ribuam mata meratap. Dua kali. Mata bertambah, bisa jadi masih berada di sepasang yang sama. Tiga kali. Empat kali. Belasan. Puluhan. Ratusan.

Berjalan. Bergerak menari. Mengejar. Melompat. Berteriak. Bersorak. Aku berani bersumpah, mati rasa kalau aku hentikan lagi. Jadi dulu itu bukan berhenti. Denyutnya bukan mati. Hidup dalam tumbuh. Berjalan bersama waktu. Tumbuh. Membesar. Meluas. Mengeras. Karena ditekan bersama instruksi berhenti. Hingga akhirnya meledak.

BBOOOOOOMMMM!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tak ada yang bisa hentikan aku. Hingga banyak yang berdecak kagum.

“Dari mana kamu dapatkan enegi sebesar ini, anak muda?”

Sudah kukatakan sebelumnya. Aku punya energi yang hidup dan bertumbuh bersama jutaan sel dalam tubuh. Itu lah. Ibarat berat otak yang tak terbendung. Tumpah ruang membanjiri karya. Kembali lagi ke semesta.

Lalu

Tubuhku memelan. Berjalan tenang. Tenang.

Kemarin aku bom waktu. sekarang aku konstan. bom meninggalkan bekas. itu namanya jalur. Yes! I’m on my track.

Category: Aku, Mata Kata Sajak

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 in addition to 5?