Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pertunjukan

Tubuhnya meringkuk. Duduk menekuk lutut dan agak membungkuk. Mendekap sepasang tungkai dalam sudut 30 derajat. Kedua tangan mengunci. Duduk bungkuk di atas pasir putih. Menatap segala yang ada di hadapannya. Memunggungi belasan teman sejawat yang tertawa bersama. Musik menyentak material padat. Bass juga menyentak tapi teredam prematur. Berdegum-degum. Getarnya berdegum sampai dada. Lama-lama sesak.

Dalam pendengarannya memang ada yang beradu. Siapa kelak yang akan dapat perhatian dari sang pemilik daun telinga.

Sejauh ini Tatiana masih terus menatap segala yang ada dalam pandangannya. Ada benang kencang menjulur dari ujung dagunya. Menarik kencang hingga engsel tenggorak dan tulang leher tak bergeser sedikitpun. Tatiana tak butuh tali. Tak ada alasan untuk memutarkan kepalanya.

Satu simpul dari kedua tangan yang mengunci, melonggar. Kedua telapak tangannya mengelus punggung kaki. Lembut. Bertepatan dengan niat mendaratkan tubuhnya ke atas pasir pantai, di saat itu pula Tatiana menanggalkan alas kakinya. Sandal merah muda pucat. Bukan dimakan usia atau sangat kesayangan hingga dipakai setiap saat. Memang begitu. Merah muda pucat. Favoritnya.

Kelingking kanan menyentil sesuatu. Itu kabel earphone. Ah iyah, tentu saja itu Ipod lengkap dengan earphone. Satu-satunya benda yang ikut ia bawa sembari menjauh dari musik cepat. Ritme cepat dan bass yang berdentum hingga dada.

 Kenakan earphone. Nyalakan IpodEarphone terpasang. Pas di telinga. Musik berdentam di belakang meredup. Seperti lilin yang meredup. Terdengar sedikit dan semakin mudah untuk diabaikan.

***

Menyadari kekurangan akan satu hal. Mencari-cari. Dari sebelah kiri. Sekelompok muda-mudi bercengkrama sambil menikmati musik dari teras vila. Tubuhnya bergoyang kecil sembari bicara dan tertawa bersama. Kepalanya bergeser hingga menyimak beberapa muda-mudi seumuran. Sedang membolak-balik santapan makan malam di atas bara api. Sosis, telur puyuh rebus, potongan buah paprika dan buah nanas yang sudah berlumur bumbu. Seorang gadis ceria mengayunkan kipas lebar berbahan anyaman rotan. Semangat mengayun agar bara api tetap membakar hingga santapan matang.

Tetap yang dicari tak nampak.

Bola mata, kepala hingga tubuhnya berputar-putar di tempat. Masih mencari-cari. Kemudian berhenti. Lelah berputar. Kalau gak ada di sini, pasti di tempat lain.

Sambil berjalan tanpa arah. Berjalan sambil merasakan hembusan angin pantai yang sejuk dikala sore. Tak sepanas tadi siang. Panasnya membakar. Bisa matang seperti barbecue.

***

Berlari dan berhenti. Tiba-tiba berhenti. Tubuhnya berguncang saat kedua kaki beradu dengan butiran pasir putih dan tetap berguncang saat kedua telapak kaki menumpu beban tubuh. Bertenaga ketika berlari, butuh tenaga juga untuk menghentikan tubuh yang sedang bertenaga setelah berlari.

Tak lagi mencari. Sudah menemukan Tatiana yang menghilang dari kerumunan teman sekelas. Perayaan hari libur bersama. Sesekali berlibur setelah berkutat dengan urusan perkuliahan yang semakin sulit. Semakin banyak jumlah semester, semakin tinggi jumlah rumit.

Berjalan pelan. Menghampiri gadis seumuran yang duduk terpaku. Membiarkan sebagian ujung rambut ikalnya terbang. Anak rambutnya menari-nari di atas ubun-ubunnya.

Jess berjalan sangat pelan. Yang ia pahami hanyalah keseriusan Tatiana meratapi pemandangan pantai. Kalau berjalan gaduh, mungkin konsentrasinya akan buyar. Pelan-pelan juga Jess duduk di samping Tatiana. Mendaratkan tubuh, menekuk kaki dan menguncinya dengan simpul dari dua tangan. Mirip seperti gadis berambut gelombang setengah berkibar. Masih dengan kaki terlipat, namun kedua tangan Tatiana mempermainkan pasir di sisi telapak kakinya. Punggungnya agak lebih tegak dari punggung Jess.

“Yana, aku cari kamu kemana-mana. Aku pikir kamu hilang terbawa angin atau apalah, ternyata duduk sendirian disini.”

Yana. Kependekan dari Tatiana. Jess terlalu kreatif. Membuat satu fariasi nama Tatiana. Hanya Jess yang memanggil Yana.

Kepala Jess berputar lagi. Menatap Tatiana yang belum bergeming. Terus menatap pantai bersama sepuluh jari tangan yang bermain pasir. Bermain-main. Lebih mirip menggaruk pasir hingga sebagian ujung jari terbenam di dalamnya.

Satu tarikan nafas panjang dan hembusan kuat. Jess baru sadar kalau Tatiana sedang mengenakan earphone. Wajar kalau kalimat pembukanya tak diindahkan barang sedetik.

Sepasang mata yang rajin mengedip. Kepala yang miring sedikit. Mulutnya sedikit terperangah. Ada pesona nun jauh disana yang sedang menarik perhatian Tatiana. Sesekali memicingkan mata ketika angin berhembung lebih kencang. Kalau sudah begini, perkiraan Jess tak terelakkan lagi. Tatiana tak bisa diganggu. Perhatiannya tak bisa direbut. Jess pasrah. Baiklah, aku penasaran. Ada apa di ujung lautan sana?

Jess mencoba memandang jauh ke depan. Seolah-olah penglihatannya sedang terbang menembus cakrawala.

***

Ada yang bergerak. Kemudian melirik sedikit. Pemuda tinggi tegap menghampiri. Duduk di samping kanan. Cukup dekat. Jess duduk dalam diam. Kalau ekor mata tak melihat, mungkin Tatiana tak menyadari kehadirannya.

Satu ide cemerlang menghentikan permainan pasir. Satu tangan Tatiana melepaskan satu earphone dari telinga kiri. Pelan-pelan ia daratkan earphone ke telinga kiri Jess. Pemuda berambut lurus dan lemas. Poni beterbangan kemana-mana, tapi Tatiana selalu suka. Ini menambah ketenangan batinnya. Jess bernaung di sekitarnya.

Menyadari tangan Tatiana mendaratkan sesuatu di telinga, Jess menoleh lagi. Tatiana tak pernah paham. Dua bola mata menangkap pusat mata Jess. Ketenangan batinnya berlipat ganda. Senyumnya merekah. Sudut bibir berdaya hingga menarik sebagian pipi ke atas. Jess menyambut earphone dari Tatiana. Membenarkan posisi hingga benar-benar pas di telinga dan Tatiana kembali ke posisi semula. Beberapa bulir pasir  masih menempel di ujung jari, sedikit-sedikit luruh saat telapak tangan mengelus punggung telapak kaki.

***

Alunan piano. Pelan dan menenangkan. Itu telinga kiri, setelah Tatiana membagi sebelah earphonenya. Deburan ombak dan angin pantai mendayu-dayu dari telinga sebelah kanan. Sekarang aku paham kenapa kamu memilih duduk di sini, Yana. Meresapi sensasi dua musik dalam indera pendengarannya. Damai. Damainya mereaksikan saraf wajah untuk menarik sudut bibirnya pelan. Jess tersenyum tipis.

Sedikit melirik ke arah layar Ipod yang tergolek di atas pasir. Jon Schmidt – Tribute (Rose-Anne’s Song). 

“Jess, coba lihat ombak itu.”

Kepalanya berputar lagi. Kini Tatiana duduk dengan tungkai kaki bersimpul silang, punggungnya jauh lebih tegak. Satu tangan menunjuk ke arah ombak yang terus berbuih sambil bergerak maju mundur. Jess mengikuti arah jari lentik Tatiana menunjuk. Dan termangu.

“Ombaknya lagi main piano.”

Tak mengindahkan kalimat Tatiana. Jess hanya diam dan terpana di tempat. Sejak kehadirannya, senyum pertama Tatiana terbit saat meminjamkan satu earphone. Senyum kedua terbit lagi saat berkhayal tentang ombak yang bermain piano. Tapi Jess lebih suka senyum yang ini. Walau Tatiana menerawang jauh menatap ombak, tak menatapnya. Jess justru menghayati senyum Tatiana yang mengiringi pergerakan tangannya di udara. Kedua tangan Tatiana seperti sedang memainkan piano di udara. Piano tak kasat mata.

“Oh Jess! Coba kamu lihat langit biru itu. Langitnya seperti choir bernyanyi.”

Tangannya yang lain menunjuk ke arah langit biru cerah di atas garis perbatasan antara permukaan laut dan langit. Senyum Tatiana semakin tulus. Deretan gigi rapih menyapa dari persembunyiannya. Kini kedua telunjuk Tatiana berputar-putar di udara. Layaknya conductor memimpin orkestra.

Jess mungkin lupa berkedip, kalau bukan karena angin pantai mengikis habis kelembaban bola matanya. Jess juga lupa kalau sudut bibirnya tersenyum cukup lebar saat mendengar tawa renyah gadis mungil di sampingnya. Sentuhan baru dari dua alunan musik yang mewarnai pendengarannya saat ini.

Hitungan detik tawa Tatiana meredup. Masih tersenyum tulus dan jujur dari kedamaian batin yang bersahaja. Sedikit mengadahkan kepala.

“Jess, Lihat awannya. Mereka sedang terbang sambil menari.”

Hanya mengadahkan kepala sambil bicara. Telunjuknya sedang mengunci lipatan tungkai kaki (lagi). Salah satu cara agar tubuhnya tetap seimbang atau terjungkal ke belakang. Angin pantai masih berhembus kuat.

“Dari tadi aku nonton pertunjukan ini, Jess.”

bersambung

Category: Serpihan Kaca

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is a typical spring leaf?