Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Sahabat #2

Ini untuk yang kesekian kali dirinya melirik. Adik perempuan satu-satunya hanya duduk tenang, earphone di telinga, dan jari telunjuk yang mengetuk-ketuk chasing handphone. Duduk di sampingnya. Sambil terus memandang satu titik ke luar kaca waiting room. Ada banyak pesawat sedang parkir. Selebihnya sibuk bergerak maju-mundur untuk masuk dan keluar dari tempat parkir. Bahkan Key tak banyak bicara sejak acara lauching buku pertamanya semalam. Continue reading

Sahabat

Dalam benaknya ada banyak keluh kesah. Bibirnya terkatup rapat cukup lama. Beringsut masuk ke dalam perbendaharaan kata. Bisa saja ia pilih salah satu dan berucap seperti biasa. Bahkan ketakutan mendominasi. Membuatnya dungu berdiri sekian jam disana. Hilang kemampuan memilih mana kata yang tepat. Berulang kali Liz gagal berucap segala keluh kesah yang dirasa. Jadi cuma bisa megap-megap. Setiap temukan satu kata yang tepat, tertelan lagi. Karena takut.  Continue reading

Diam

Jemarinya meratapi tanah luas membentang dari puncak lutut. Sejak beberapa menit lalu menggesek-gesekkan telapak tangan di sekitar lutut. Merasakan permukaan black jeans agak longgar. Tak sekasar canvas tapi ini lebih baik. Minimal ada kehangatan setelah itu. Setelah hangat, kini kelima jemari salah satu tangan bergemeletuk. Sebenarnya tak ada yang ia tunggu. Continue reading

Sendiri #2

Rasanya musik masih mengalun, menyentak. Tapi dengan terpaksa dirinya harus jatuh setelah melayang-layang bersama kerisauan. Mendorong ke bawah. Terbanting ke atas bumi. Rasanya petir juga tak urung terdengar dengan gegap-gempita sedemikian hebat. Bukan berarti tak ada. Ada daya kuat dalam genggaman menyambar salah saru tangannya.  Continue reading

Sendiri

Dia ingin hingar-bingar. Kegalauan yang membawanya datang bersama gelap. Padahal ada hujan cahaya dimana-mana. Lampu berbagai warna memancar kemana-mana. Berpendar padahal, tapi sudut gelap tetap ada. Beberapa bola bergantung dan berputar. Tak hanya satu. Cukup banyak. Tubuh bola terpecah-pecah mengikuti permukaan yang melengkung sempurna. Permukaan berkilau. Potongan kaca berukuran serupa melekat erat. Melempar keras setiap cahaya yang datang. Saat lampu sorot bermekanik menjatuhkan sinar padanya. Berbendar. Memecah. Menghujani setiap kepala yang bergoyang di bawahnya. Continue reading

Rindu #2

Tubuhnya masih diambang pintu utama. Gerombolan angin masih mengalir. Melintas hilir-mudik. Sesekali menghantam bagian tubuh. Hanya terpental sesaat kemudian kembali dalam arus. Mengabaikan selaput kulit pembungkus gadis berambut cokelat, masih di ambang pintu. Helainya tak cokelat berkilau. Menggelap. Meredup.  Continue reading