Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pertunjukan #2

“Dari tadi aku nonton pertunjukan ini, Jess.”

Hingga akhir kalimat, senyumnya enggan budar. Merekah bersama lantunan kata. Sangat luas hingga menyerupai tawa tanpa terbahak. Senyum dari bibir yang merekah kemana-mana. Bahkan sampai sudut mata. Kelopak lebar Tatiana menjadi lebih sipit. Tertekan gumpalah daging bagian pipi, menekan ke atas.

Dalam penglihatan Jess, gadis mungil ini sukses bermetamorfosa. Hanya dengan kecerian bersama pasir dan deburan ombak, Tatiana cemerlang saat gurat bahagia menyerupai tawa tanpa terbahak. Cantik. Bahagia karenaku atau pertunjukan yang berhasil menghibur hatimu? Sampai sejauh ini Jess hanya meratap dan terdiam. Terpana dalam harap.

Ibarat penonton yang tak ingin melewatkan pertunjukan barang sedetik. Tatiana kembali bersama alunan lembut piano di telinga kanan dan deburan ombak pelan di telinga kiri. Hembusan angin, anak ombak berlari dan bulir pasir bergeser atau ikut berenang saat terseret. Pantai punya musiknya sendiri. Perhatian Tatiana kembali pada segala yang ada dalam pandangan matanya.

Jess tak bergeming. Hingga akhirnya berlalu dalam diam. Walau kedua telinga sedang disibukkan dengan bunyi-bunyian alam dan bunyi buatan. Bagi Jess ini sepi. Tatiana tak bicara lagi. Putus asa menunggu tawa renyah yang tiba-tiba muncul. Senyumnya sedang dinikmati sendiri. Satu kesimpulan yang tak ingin ia akui. Dan pertunjukanlah yang menjadi sumber kebahagiaanmu.

***

Ketenangan batin yang bersahaja. Satu alasan abstrak yang sulit terjabar, namun kehadirannya nyata. Tatiana temukan bersama hati sambil tersenyum manis. Manis dalam hitungan detik. Daya kuat saat menarik seutas tali yang menjulur dari sudut bibir. Melengkung senyum. Dalam sepersekian detik tenaganya lenyap. Talinya terlepas. Lengkung senyum jatuh membentur bulir pasir, berhambur. Sedari tadi dan kini hilang alasan untuk bersemi lagi.

Tegangan kabel earphone melonggar. Melirik pelan dalam diam. Hanya lengkungan pasir tempat Jess mendaratkan tubuhnya. Beberapa saat lalu. Satu earphone tergeletak saja disana.

***

Langkah pertama. Langkah kedua.

“Jess”

Langkah ketiga dan berhenti.

Selembut beludru. Setara anak ombak yang meratakan pasir pantai berantakan. Saat ombak kembali mundur, pasirnya lembut. Suara Tatiana bisa saja tenggelam dalam alam yang beradu di sepanjang pantai. Bahkan indera pendengannya lebih memilih suara lemah Tatiana yang bergelombang lembut ketimbang dominansi bahasa semesta.

Bisa saja Jess tetap bergeming dan abaikaan segalanya. Kini dirinya memilih untuk kembali. Membalik tubuh cukup dalam sekali putaran.

Tatiana berdiri membelakangi panggung pertunjukan yang sempat ia puja. Berdiri seadanya dengan tangan menjuntai. Satu bagian tubuh yang terlihat tak bertulang. Ibarat ornamen yang menggantung di bahu sempitnya. Anak rambut yang menari tak indah. Angin datang dari balik tubuh mungil seadanya. Hembusan menggerakkan helai-helai gelombang untuk menutupi sebagian wajah Tatiana. Senyum Tatiana seperti tanpa bekas. Dimana senyumnya?

Telinganya kosong, tak ada earphone yang menggantung. Jess mencari-cari dengan lirik lirih. Satu langkah di belakang tempat Tatiana berdiri, Ipod dan earphone tergolek saja di atas pasir. Terjatuh. Bergeser lagi, meratapi wujud yang terpuruk. Metamorfosa lenyap. Tak cantik lagi.

Tak butuh musik dengan bass yang menyentak, Jess sudah terkejut dan sesak.

***

Jess, jangan pergiAku mohon. Saat tubuh Jess berhenti berguncang. Bersamaan dengan langkah yang berhenti berayun. Kemudian dua pasang mata beradu.

Tinggi tegap, rahang tegas dan rambut lurus yang lemas. Poni Jess beradu lagi dengan angin. Sekali lagi. Tatiana selalu suka. Sangat suka. Paham sudah. Siapa gerangan yang membawa pergi ketenangan batin saat kenginan hati tersenyum manis.

“Jess, pertunjukannya belum selesai.”

Satu dua tiga dan sempurna. Menutup permohonan hati dengan senyum simpul yang manis. Semakin manis bersama langkah mendekat. Jess mendekat dengan tenang. Tersenyum sambil membiarkan angin pantai mengacak-acak poni yang berkibar.

***

Mungkin aku salah. Minimal kamu memanggilku kembali saat aku berpikir salah. Sebuah harap yang sempat beradu dengan pengakuan sebelah mata. Tatiana tak mungkin memanggil begitu saja. Jess melangkah pasti. Menghampiri gadis pujaan hati hingga pertunjukan alam ini berakhir. Saat langit tak lagi cerah. Warna biru menua dan gelap bersama semburat merah. Senja. Pertunjukan hidup dalam skenario Tuhan. Akan tetap disini hingga tiba waktunya selesai, Yana. 

***

Jangan pergi Jess. Tetap disini. Aku ingin berbagi.

selesai

Category: Serpihan Kaca

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is that thing with fingers at the end of your arm (one word)?