Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Es #2

Belum mau hilang letihnya. Berkali-kali menghela nafas, berharap akan menguap bersama sisa nafas yang terbuang. Semakin mendalam, nyeri jadi sarang di sekujur tungkai.

Ttrrrrttt… Ttrrrrttt…

Handphone bergetar dari dalam ransel. Belum bergerak, tapi mau bagaimana lagi. Perhatiannya sudah terusik. Lantunan musik klasik yang menggema seantero  in door ice skate. Tawa riang yang membakar benaknya tentang dingin dan marmer. Hingga lelaki berheadphone di sekujur kepala. Air danau tenang yang terayak satu sentuhan tangan. Bunyi getar handphone menghentikan semuanya.

Mata sudah terlanjur terbuka. Hiraukan saja apa maunya. Kiyara memutar kepala. Setibanya di kamar, mengayunkan sebagian tubuhnya. Dari bahu, ransel berpindah ke tangan kanan dan membiarkan tubuhnya terhempas ke atas kasur. Telentang. Ransel menindih tangan kanan.

Menggapai apa yang ingin ia capai jadi agak rumit. Handphone belum juga tersentuh walau tangan kanan Kiyara berputar-putar dalam ransel. Terus berputar hingga ransel bergeser. Menepi dari kasur dan jatuh.

Meregangkan otot leher sejenak. Sembari menarik dan mengulurkan nafas. Kemudian menarik nafas lagi dan bangkit. Meringis tipis. Kembali teringat dengan kaki penuh nyeri. Jalan tertatih mendekati ransel. Benar adanya, ransel mendarat tak cantik. Penghuni ransel mencelat. Sedikit berserakan.

Berusaha menekuk lututnya. Kerutan dahi dan menyeringai, itu lebih baik dari pada berteriak atau sekedar beseru aduh. Duduk di lantai. Memunguti perintilan-petintilan yang berserakan. Tangan yang lain membuka ransel lebih lebar. Agar ada celah untuk mengembalikan posisi penghuni ransel pada tempat semula. Niat awal.

Kiyara mendapati ingatan baru tentang angan. Saat terucap, hebat menyerang sekujur tubuh merinding. Mendapati dirinya yang kedinginan dan sendirian. Headphone putih bernaung di dalam ransel. Jadi dia itu nyata?

Lunglai. Kiyara menyandarkan sebagian tubuhnya ke kaki ranjang. Meratapi jam dinding yang berdentang mungil. Setiap detik. Setiap menit. Akan ia nanti. Mengikuti apa maunya hati.

***

Langkah pertama. Langkah kedua. Agak terguncang. Seketika tertahan saat Kiyara menggenggam tangkai logam. Pinggiran lapangan ice skate. Mengatur nafas. Membuang sisanya dalam hembus kuat. Asap mengepul dari mulut.

Musik masih klasik. Masih dingin dan masih beruap es. Kiyara memilih meredam segalanya. Membenamkan kehendak utamanya. Menemukan saat dalam pembuktian. Minimal aku harus paham, harus!

Ayunan kaki pertama. Kedua. Ketiga. Dan meluncur di garis terluar. Setelah tubuh berayun. Sedikit menundukkan kepala. Kiyara mengenakan headphone. Menutupi seluruh daun telinga. Meredap dingin dan musik klasik. Sambil terus meluncur.

Membiarkan penglihatan menguasai peredaran. Segerombolan remaja bercengkrama sambil menahan posisi tubuh. Beberapa lagi terjatuh. Tangan menolong, justru ditarik dan terjatuh lagi. Tawa meledak seraya Kiyara melintas. Seorang dari mereka menyadari kehadiran Kiyara. Menatap Kiyara dengan sisa tawa lebar di mulutnya. Dari uluh hati, menggelitik. Kiyara tertular. Ikut tertawa sambil melintas. Tahu Kiyara telah membalas tawa, seorang remaja kembali menarik tangan temannya. Terjatuh dan tertawa lagi.

Dan ini lebih menyenangkan. Daun telinga mulai hangat. Merambat hingga kulit pipi, hidung, mata, bibir. Sekujur wajah. Meluncur lambat. Mulai memasuki garis dalam. Kemudian diam.

Menghentikan langkah. Kiyara berdiri saja. Tak mematung. Tak membeku. Tak seperti terdahulu. Dia? Semburat energi hangat meletup. Dari wajah dan seluruh tubuh. Dengan sendirinya Kiyara tersenyum. Bukan simpul tertahan takut malu.

Dia tersenyum menatap Kiyara. Di titik pusat tempatnya bertemu. Lekuk dingin yang membingung. Kiyara menghampiri pelan. Bahkan jaket yang dikenakan masih sama. Abu-abu gelap bukan hitam. Bola mata yang harusnya kering. Kiyara terus memastikan apa yang ia lihat.

Sejauh visual yang ku punya. Bayangan dalam mataku bilang, “Dia nyata.” Senyumnya nyata. 

Semakin lebar dan menyenangkan. Kiyara mendapati sosoknya tersenyum. Deretan gigi putih mengintip dari persembunyiannya.

Dingin kalah telak. Kamu menang. Kamu hangat. Dan aku paham ini nyata.

selesai

Category: Serpihan Kaca
Tag: , ,

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 + 8?